LPA Madina minta Dinas P2TP2A lebih peduli nasib anak

  • Whatsapp
TRC LPA Madina bersama 2 anak dibawah umur.

MADINA – Anak merupakan aset yang berharga bagi masa depan bangsa. Mereka sebagai tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa harus diasuh, dilindungi, dan dididik dengan baik. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

Namun nyatanya Lembaga Perlindungan Anak (lembaga PA) mencatat banyak anak mengalami kasus kekerasan. Lebih dari 50 % kasus yang terjadi berbentuk kejahatan seksual, dan selebihnya penelantaran, perebutan, dan kasus kekerasan.

Kasus ini terjadi dikarenakan lemahnya pengawasan terhadap prosedur adopsi yang ada di Indonesia, serta kurangnya kepedulian rakyat terhadap kondisi anak-anak yang ada di sekitarnya. Di samping itu seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kelemahan prosedur pada pengadopsian anak di Indonesia perlu menjadi sorotan.

Oleh karena itu TRC LPA Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, Fahrizal Sabdah Lubis meminta kepada Dinas P2TP2A Madina agar lebih giat mengawasi secara ketat proses pengadopsian anak. Karena percuma jika peraturan adopsi sudah ketat tetapi dalam pengawasannya sendiri masih lemah. Selain itu kesiapan pengadopsi baik dari segi ekonomi dan juga secara psikis untuk menjadi orangtua asuh juga harus diperhatikan.

“Terakhir kami juga meminta kepada masyarakat untuk ikut berperan dalam penyelenggaraan perlindungan anak. Hal yang termudah cukup dengan melaporkan jika terjadi kekerasan atau kejanggalan terhadap anak di lingkungan kita. Tanpa adanya kepedulian masyarakat menjadikan tugas pemerintah semakin sulit, dan dampaknya kasus-kasus serupa masih tetap ada,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *