Asa dari SD 157016 di Tapteng, gurunya yang pernah teriaki Presiden Jokowi

  • Whatsapp
Pelajar di ruang kelas yang rusak.

TAPANULI TENGAH – Masih ingat saat kunjungan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) ke Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), ada sosok wanita muncul dan teriak histeris kepada orang nomor satu itu?

Perempuan itu merupakan seorang guru honorer yang mengadukan nasibnya langsung kepada presiden, tepatnya di jalan Bandara Dr FL Tobing, tahun lalu. Namanya Trinanda Lumbantobing. Saat itu, akhirnya dia berhasil menyampaikan pesannya kepada Jokowi lewat secarik surat yang sengaja disiapkannya dan ditujukan untuk presiden.

Ternyata, isi surat itu adalah keluhan dan harapannya kepada pemerintah untuk memperhatikan kondisi fisik bangunan sekolah tempatnya mengabdi, yakni SDN 157016 Lubuk Ampolu, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Kemarin, awak media ini menyambangi langsung sekolah tersebut. Ternyata kondisinya miris, khususnya keadaan ruang-ruang kelas belajar. Asbes, atap, juga papan tulis dan dinding serta fasilitas meja dan kursi belajarnya banyak yang tidak layak pakai lagi.

“Inilah keadaan sekolah kami, boleh lihat seluruh ruangan yang ada di sekolah ini. Dari 190-an siswa di sini, itu diajar oleh 7 orang tenaga honorer dan 6 PNS termasuk saya,” ujar kepala sekolahnya Lamtiur Simorangkir.

Dia juga sangat berharap pemerintah lewat Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Tengah bisa memperhatikan kondisi sekolah mereka saat ini.

Gedung sekolah yang rusak.

“Memang kalau dilihat dari luar, apalagi dari kejauhan sekolah kami ini masih tergolong layak dan masih bagus, tapi kalau kita ke dalam, dapat kita lihat sendiri kondisinya. Seperti kosen fentilasi jendela ini misalnya, semua sudah lapuk dan keropos. Banyak kayu-kayu kosennya sudah tidak layak lagi. Bila ada angin, maka lapuk yang ada di dalam kosen ini terbang ke para siswa, tidak sehatlah menghirup debu kayu lapuk,” papar Lamtiur lagi.

Belum lagi asbes dan dindingnya, sambung Lamtiur, yang sebagian besar sudah hancur dan bocor, termasuk atapnya.

“Kalau bisa saya ceritakan, dua tahun yang lalu kita sudah usulkan (ke dinas pendidikan kabupaten) dan tahun ini juga. Cuma kita masih disuruh bersabar, karena masih banyak sekolah sekolah yang paling parah yang butuh segera harus dibenahi dan dibantu. Begitu jawaban para bapak di dinas menanggapi kita.
Jadi kita bersabarlah,” ujarnya.

Lamtiur kemudian memaparkan catatan prestasi para anak didiknya, baik di tingkat kabupaten hingga provinsi. Juga soal guru honornya yang sudah 14 tahun mengabdi tapi belum juga dapat perhatian serius dari pemerintah.

Sementara itu, seorang guru honorernya juga menyampaikan harapannya agar mereka diperhatikan. Mereka telah mendedikasikan hidupnya di sekolah ini sejak tahun 2003 lalu.

“Masih ada kami yang honor sejak tahun 2003¬† hingga saat ini masih tetap guru honor,” ungkapnya.

Sedangkan seorang siswa menyatakan mereka berharap dibangunnya kelas baru untuk tempat mereka belajar. Sebab mereka takut asbes ruangan sekarang rubuh dan atapnya bocor saat hujan.

“Kami berharap pemerintah membangun kelas baru untuk belajar, agar enak belajar dan tidak kena hujan, tidak takut lagi sama asbes itu,” ungkap Sartika Dewi (8,) sambil menunjuk asbes yang rusak di atas kepalanya. (JP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *