Aktivitas Proyek Irigasi di Maduma Pinangsori Bikin Nenek Berusia 65 tahun ini Marah – Marah

  • Whatsapp
Tampak dalam foto, sang nenek lagi marah-marah.

TAPANULI TENGAH – Nenek pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) ini protes dan marah terhadap aktivitas pekerjaan proyek yang berada di lingkungan Maduma, Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).

Penyebabnya, Jalan menuju kebun dan lahannya yang persis di pinggiran irigasi persawahan Maduma Pinangsori tertutup material pasir dan batu oleh pengerjaan proyek irigasi di wilayah ini.

Bukan iu saja, pagar berpintu dari kawat duri juga rusak akibat tumpukan material yang di turunkan dari truk.

Marah dan emosi, Nonya Sipahutar (pensiunan ASN) (65), memprotes para pekerja. Dia merasa dirugikan akibat keberadaan proyek irigasi itu.

“Saya kemarin sudah peringatkan pada orang ini agar jangan di halangi pintu masuk ke kebun saya ini. Tapi tetap saja kalian membandel. Nanti kalian tuduhlah saya tak mendukung pembangunan pemerintah. Kalian buat pun itu pekerjaan parit ini, kan mau sama kaliannya itu. Tak ada untungnya samaku. Tapi janganlah merugiakan saya dan merusak pagar lahan saya ini,” ungkap sang nenek dengan nada emosi, Sabtu (28 /10/2017) di lokasi.

Bersama cucunya, ia menyatakan kalau batu – batu proyek itu telah menutup pintu masuk dan merusak pagarnya pagarnya serta kawat duri dan tiang pagarnya jebol akibat di hantam batu – batu proyek tersebut sewaktu menurunkan dari mobil truk.

“Inilah, ke lahan saya pun jadi susah masuk. Jalan – jalan kalian tutup semua. Pagarku rusak, kawat durinya rusak. Siapa yang tanggung jawab kalian?,” katanya dengan nada emosi lagi.

Pantauan awak media dilokasi, tampak pengerjaan proyek irigasi tersebut terkesan asal – asalan. Pasir yang mengandung tanah dan campuran semen seadanya terlihat di lokasi ini saat para pekerja melakukan kegiatannya.

Proyek Pemprov Sumut Ini menelan dana Rp 191.827.900.00 yang di awasi langsung oleh Dinas Sumber Daya Air Cipta Karya dan Tata Ruang Pemerintah provinsi Sumatera Utara, dan penanggungjawabnya adalah oleh Kadis PSDA.

Pekerjaan yang di laksanakan oleh CV.Andika ini juga sempat di protes warga karena diduga asal – asalan. Warga petani yang melintas menyanyangkan pekerjaan ini hanya terkesan menutup lobang pada dinding irigasi yang rusak dan berlobang tanpa memperdulikan lantai untuk aliran airnya.

“Kerjaannya cuman menempel lobang saja. Saya kira hanya menghabiskan dana saja. Coba lantainya juga di perbaiki agar dinding irigasi itu kokoh dan bertahan. Ini buat apalah dindingnya di poles – poles, sementara tapak dan lantai pondasinya berlobang dan sudah rusak. Saya yakin itu cuman sebentar bertahan. Seharusnya lantai dasar nya juga di perhatikan lah,” ujar L.Sihombing warga sekitar.

Pengelola atau pelaksana lapangan nya sendiri disebut -sebut yang di hunjuk oleh pemborong, seorang yang berasal dari Hutabalang. Pekerjaannya diprediksi  kalau pekerjaan tinggal 4 hari setelah pekerjaannya berjalan 2 minggu.

“Kami sudah dua minggu kerja dan 3 atau 4 hari lagi selesailah. Kita cuman memelester dinding – dinding yang berlobang ini. Kalau Volumenya pak itulah di papan proyek,” ungkap pak Tua ini, warga kebun Pisang, Hutabalang, Tapteng kepada awak media.

Amatan awak media di lapangan tampak jelas tertulis O dan P Jaringan Irigasi (1000 Ha-3000 Ha) dan perwatan saluran irigasi sepanjang 60 m.

Dana dari proyek Belanja Pemeliharaan Jaringan / Irigasi / Bangunan Air (Non Kapitasisasi) bersumber dari APBD tahun anggaran 2017.

 

 

(Job Purba/ren)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *