oleh

Dampak globalisasi, apa kabar kesenian Sikambang?

TAPANULI TENGAH – Kesenian Sikambang merupakan kesenian masyarakat yang terdapat di Pesisir Barat Tapanuli, khususnya Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Kedua daerah ini merupakan pengguna Kesenian Sikambang yang keberadaannya hampir terlupakan.

Diceritakan, awal terciptanya Kesenian Sikambang ada dua sumber yakni, dari legenda Putri Runduk dari kerajaan Barus yang dipimpin oleh raja Jayadana dan dari nelayan yang menangkap ikan di pulau Mursala. Dimana tendengar nyanyian yang kemudian diulanginya setiba di daratan yang kemudian berkembang jadi Kesenian Sikambang.

“Dalam perkembangannya Kesenian Sikambang memadukan beberapa unsur antara lain, musik, tarian, senandung dan pantun. Kesenian ini mengemban falsafah-falsafah kontemporer yang penuh dengan makna, berirama lagu dan berwujud tari. Namun uniknya, Kesenian Sikambang bukanlah akulturasi yang terserap dari kebudayaan tetangga seperti Batak dan Minangkabau,”sebut Ketua Pemuda Pasisi Sibolga – Tapteng, Ricky Simanjuntak kepada wartawan, Rabu (01/11/2017).

Dijelaskannya, kesenian dari warisan peradaban kerajaan Pesisir yang terdapat di Pesisir Barat Tapanuli ini. Secara garis besarmya, Kesenian Sikambang terbagi tiga bagian yakni Sikambang sebagai seni, Sikambang sebagai hiburan dan Sikambang sebagai fungsi sosial.

“Hal ini telah menggunakan metode sejarah yang meliputi tahapan-tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang sejarah Kesenian Sikambang yang terdapat di Pesisir Barat Tapanuli dengan periodeisasi dari tahun 1990-2003,”Jelas Ricky.

Dikatakan, Semakin berkembangnya teknologi, keberadaan Kesenian Sikambang mulai mengalami pergeseran.

Hal itu terjadi karena pengaruh dari arus globalisasi yang berkembang saat ini. Kondisi ini tentu akan mempengaruhi Kesenian Sikambang di Pesisir Barat Tapanuli.

“Pada tahun 1990 Kesenian Sikambang masih dipergunakan masyarakat Pesisir sebagai sarana hiburan. Namun menjelang tahun 2000 Kesenian Sikambang mulai mengalami kemunduran,”katanya.

 

Ketua Pemuda Pasisi Sibolga – Tapteng, Ricky Simanjuntak.

 

Akan tetapi, kemunduran tersebut terjadi bukan tidak memiliki penerus, akan tetapi disebabkan oleh beberapa faktor seperti perkembangan budaya modern, keengganan generasi muda, berkurangnya minat masyarakat dan efisiensi.

“Kondisi ini dikhawatirkan akan memudarkan Kesenian Sikambang di Pesisir Barat Tapanuli, untuk itu peran pimpinan adat masyarakat pesisir Kota Sibolga-Tapanuli Tengah dan peran Pemerintah dibantukan oleh masyarakat mendukung Kesenian Sikambang sangat diperlukan untuk mempertahankan dan melestarikan Kesenian Sikambang. Selain kaya akan pluralitas suku, bahasa, agama, dsb, juga kaya akan wisata daerah,”ungkapnya.

“Jika kita melihat kekayaan wisata ini bisa memberikan pemasukan dan menambah pendapatan kas daerah. Dengan itu, pemerintah daerah bisa memajukan dan mensejahterahkan rakyatnya. Ketika semua daerah itu maju, maka tentu Indonesia juga pasti akan maju. Inilah fakta kausalitas yang tak terbantahkan,”tambanya.

Dengan keadaan ini, Ricky berharap Pemerintah berkewajiban untuk mengembangkan dan promosi Budaya Seni dan wisata daerah dengan melibatkan semua pemangku, terutama pemuda. Dengan begitu, pemuda tetap berperan penting dalam pembangunan nasional. Pembangunan nasional tentu tak akan terwujud jika saja tak ada pembangunan daerah.

“Kehadiran media sosial dewasa ini memang menimbulkan banyak pro dan kontra. Tetapi terlepas dari itu, kita harus sadar bahwa media sosial juga memberikan sumbangsih yang besar untuk pariwisata, dengan perannya sebagai media publikasi. Dengan beragam media sosial yang tengah berkembang dewasa ini bisa membuat suatu tempat di pelosok negeri atau bahkan di dekat kita sendiri yang belum kita ketahui, akan dengan mudah kita ketahui melalui media sosial,”pungkasnya.

 

 

(Firmansyah/ren)

Komentar