Duh! Perjuangan Ibu Ini Untuk Nafkahi Keluarganya Bikin Kita Terinspirasi

  • Whatsapp
Ibu Ida, salah seorang warga yang sedang mengumpulkan bebatuan dari sungai Lupuk Ampolu, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut, Jumat, (17/11/2017). Foto: Job Purba/Smart News Tapanuli.

TAPANULI TENGAH – Kondisi perekonomian yang sulit saat ini tidak membuat sejumlah warga di Desa Lubuk Ampolu, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) putus asa untuk mencari jalan alternatif untuk dapat menafkahi keluarga.

Amatan dilokasi, sejumlah warga di desa itu menyasar sungai Lubuk Ampolu untuk mengais bebatuan untuk kemudian dijual.

Bacaan Lainnya

Kemarin, Jumat , (17/11/2017) awak media ini menemui satu keluarga yang terlihat sibuk menggali bebatuan dari sungai kemudian dikumpukan tidak jauh dari tepi sungai.

Penyambung hidup adalah bahasa yang sering keluar dari mulut masyarakat apabila di tanyakan kegiatan ini”.

Aktivitas warga itu jelas terlihat kemarin di tepi jalan Desa Badiri menuju Lubuk Ampolu.

“Profesi kami sebenarnya sebagai panderes (Penyadap karet, red). Namun, karena anjloknya harga karet beberapa tahun terakhir sehingga kami jadi beralih profesi menjadi pengumpul dan pemecah batu disini,” ujar Ida Zhaluhu (40)  seorang ibu rumah tangga, kemarin di lokasi sungai Lubuk Ampolu.

Ida bercerita, anak-anaknya juga turut serta membantunya untuk bekerja sebagai pengais dan pemecah batu dibantaran sungai tersebut setiap hari.

“Anak-anak juga ikut membantu. Sebagian anak saya ada yang bersekolah, ada juga yang nggak,” ucapnya.

Ibu lima anak itu mengatakan setiap hari hasil yang diperoleh relatif.

“Tergantung dari pekerjaan mereka yang serius dan pada suasana yang baik pula. Kadang kita dapat hasil Uang Rp.40.000-50.000/hari, bila anak-anak ikut bekerja. Pengasilan dari memecah batu ini sebenarnya tergantung niat dan keseriusan kita bekerja,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurutnya, setiap satu kerangjang batu yang sudah dipecah 3/4 dan 5/7 harganya Rp2500. Dan untuk 2/3 dihargai Rp.3000.

“Jadi bisalah Bapak kalikan itu lah hasil kami satu keluarga. Dengan 3 atau 4 orang yang kerja di sini,” ungkapnya sambil kerja.

Amatan di lokasi, ada beberapa kelompok yang melakukan kegitan pemecah batu dengan cara manual. Dengan modal martil ukuran 2 KG.

Para ibu-ibu dan anak-anak didaerah itu bekerja di bantaran sungai itu setiap hari. Tidak ada tampak mereka merasa kedinginan ataupun lelah melalakukan aktivitasnya.

Bahkan para ibu-ibu dan anak-anaknya masih melempar senyum polos ke arah kamera Smart News Tapanuli saat diabadikan.

Terkait aktivitas warga itu, Kepala Desa setempat belum bisa di konfirmasi tentang keberadaan galian C yang ada di lokasi ini. Bahkan ketika awak media mendatangi kediaman sang kepala desa, pun tertutup.

Sementara itu salah satu pedagang keliling yang ada di daerah itu mengatakan bahwa aktivitas warga tersebut sudah biasa.

“Di sini sudah biasa itu Bang. Bertahun tahun sudah masyarakat di sini mengais rezeki dari Sungai itu. Batu-batu dari sungai itu adalah sumber rezeki mereka di sini,” kata B.Manalu seorang pedagang keliling yang tiap sekali seminggu datang ke wilayah ini untuk berjualan.

 

 

Laporan: Job Purba

Editor: ren

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *