Lagu “Uju Dingolukkon Ma Nian” ternyata tak sempat didengar oleh sosok inspiratornya

  • Whatsapp
Foto: Deny Siahaan (kanan), bersama salah seorang awak media, di Kota Sibolga. (Foto: Mora)

SIBOLGA – Nama Deny Siahaan mendadak melambung setelah lagu ciptaannya berjudul “Uju Dingolungkon Ma Nian” dinobatkan sebagai lagu pop Batak paling inspiratif oleh Panitia Festival Lagu Batak 2017 di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta, Jumat (17/11/2017) kemarin. Ditemui di kota kelahirannya di Kota Sibolga, Sumatera Utara, pria berusia 50 tahun itu tak sungkan menceritakan bagaimana lagu yang dipopulerkan oleh Putri Silitonga tersebut tercipta.

“Panjang kisahnya,” ucap Deny yang juga dikenal sebagai reporter Radio Republik Indonesia (RRI) Sibolga, kepada awak SNT mengawali perbincangan, Senin (20/11/2017) siang.

Sebelum lebih jauh, ternyata lagu itu merupakan salah satu dari 70- an lagu karyanya, diantaranya ada juga ada pop Indonesia. Dalam acara itu, ada puluhan nama pencipta lagu-lagu Batak yang juga memperoleh penghargaan, seperti Nahum Situmorang, Dakka Hutagalung, dan lainnya.

Deny kemudian memaparkan bahwa lagu yang sangat populer sejak tahun 2004 itu diciptakannya pada tahun 2002. Pada saat itu, kata Deny, Putri Silitonga masih duduk di bangku SMA, tapi bakatnya dalam olah vokal memang sudah kelihatan.

“Putri yang minta, lagu inilah sama aku bang, kata dia, dan rupanya aura lagu itu cocok dengannya,” ujar Deny.

Berikut lirik lagunya:

Hamu anakkon hu, tampukni pusu-pusuki.
Pasabar ma amang, pasabar ma boru.
Laho pature-ture au.

Nunga matua au jala sitogu-toguoni.
Sulangon mangan ahu, siparidion au alani parsahitokki.

Reff:
So marlapatan marende, margondang, marembas hamu molo dung mate au.
So marlapatan nauli, na denggan, patupaonmu molo dung mate au.

Uju dingolukkon ma nian tupa ma bahen akka nadenggan.
Asa tarida sasude holong ni rohami marnatua-tua i”.

Dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai berikut:

“Wahai anak-anakku, buah hatiku
Bersabarlah kalian dalam merawatku.
Aku sudah ujur dan harus dipapah.
Makan harus disuap, serta dimandikan karena sakit-sakitan.

Reff:
Tiada artinya kalian bernyanyi, bergendang, menari-nari saat aku meninggal dunia.
Tiada artinya hal baik yang kalian lakukan kalau aku sudah meninggal dunia.

Semasa hidupku inilah berikan yang terbaik, agar tampaklah kasih sayang kalian kepada orangtua”.

Deny mengakui, lirik lagu itu terinspirasi dari nasehat ibunya, Boru Situmeang. Dimana saat itu ayahnya juga sedang dalam kondisi sakit-sakitan.

“Terinspirasi dari ibu saya yang selalu meminta saya untuk membantu bapak (ayah), seperti memapahnya untuk berjalan, sebab bapak saat itu mengalami sakit akibat kecelakaan lalulintas,” paparnya.

Nasehat-nasehat tentang bakti dan rasa hormat kepada orangtua itu rupanya begitu melekat di benak Deny. “Iya, aku ingat betul kata ibuku: “tak ada artinya semua kebaikan, seperti margondang, manortor dan lainnya, kalau orangtua itu sudah tak ada (meninggal dunia)”. Dan beliau juga bilang, selama hiduplah kebaikan kepada orangtua harus dilakukan, bukan setelah meninggal,” kisah Deny.

Kekuatan lirik dan alunan nada yang sederhana sukses mendongkrak kepopuleran lagu tersebut, khususnya di khasanah musik Batak. Bahkan berkat tembang mengharukan itu, nama Putri Silitonga pun menjadi diperhitungkan sebagai salah satu artis Batak bersuara emas.

Namun sayang, lagu itu tidak sempat didengar oleh ibunda Deny sendiri. Sebab lagu itu rampung dirilis dua tahun setelah kematian sosok inspiratornya tersebut. (Mora)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *