Oknum Pemborong “Nakal” Bikin Petani di Badiri Geram

  • Whatsapp
Petani Panen di areal persawahan di Badiri, Hutabalanag, Tapteng, Selasa, (5/12/2017). Foto: Job Purba/Smart News Tapanuli.

SMARTNEWSTAPANULI.COM, TAPTENG – Hari ini, Selasa, (5/12/2017) Puluhan Petani padi di Kelurahan Hutabalang, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumut, turun kesawah untuk melakukan panen. Namun para petani bukannya senang saat sedang panen, mereka justru terlihat murung dan lesu.

Pasalnya, petani padi ini mengeluhkan turunnya hasil panen diakibatkan banyaknya padi mereka yang kekurangan air saat siap tanam. Hal ini di sampaikan beberapa Petani ketika ditemui awak media ini areal persawahan di daerah itu. Mereka menyampaikan keluh kesahnya terkait menurunnya hasil panen.

“Panen kemarin sebelum Pekerjaan Proyek Irigasi di kebun Pisang itu buka, lumayanlah hasil panen kami. Pupuk dan perawatannya masih bagus. Namun saat ini hasilnya beginilah, dari yang saya dapat kemarin itu sekali panen dari sini mencapai 27 karung sesudah di Rontok begini, tapi saat ini hanya dapat 20 Karung. Padahal bibit dan pemupukannya sama dengan yang kemarin. Yah, itu akibat di matikannya Air kesawah kita ini dari kebun Pisang sana, Kan ada proyek. Padahal, Padi baru di taman, air udah di stop,” ungkap nenek tua, I Boru Panggabean (62), Selasa, (5/12/2017).

Dia juga mengatakan, kalau mereka dari kelompok tani sudah pernah beramai-ramai proyek tersebut untuk menjumpai pemborong nya, agar air dialirkan kembali. “Namun apa? Mereka tak menghiraukan permintaan kami. Pernah dua kali kami datang ke proyek itu, agar air dialirkan ke persawahan kami, tetap tidak diacuhkan pemborong nya. Sehingga padi kami ini rusak lah, dan kebanyakan biji padinya kosong,” tandasnya.  

 

 

Keluhan yang sama juga di sampaikan Ibu-ibu petani di sawah ini. Mereka mengaku tidak memanen lagi padinya karena rusak, dan tidak ada yang bisa dipanen.

“Ini lah sawah pak Manullang, Dia tak mau lagi memanen padi nya itu. Lihat saja Padi nya rusak semua, kosong nya itu. Jadi menurut pak Manullang itu lebih baik di biarkan saja padinya, dari pada menambahi kerugian lagi memanen itu,” ucap ibu Arti di sawahnya saat ditemui awak media ini.

Sementara itu, para pekerja yang khusus untuk merontok Padi, juga mengeluh juga dengan hasil yang mereka peroleh. Mereka mengeluh tak mencapai target perhari untuk hasil mesin rontok yang mereka jalankan.

“Wah, kalau hasil pak, enakan panen sebelumnya daripada saat ini. Ini sedikit pak, paling kita dapat Rp.300.000 sampai Rp 500.000 /Hari. Padahal untuk minyak dan transport serta biaya untuk kernet dan sewa alat hampir Rp.350.000. Jadi sama sajalah kita gak dapat gaji,” sebut Pak Panggabean.

Pantauan di lokasi, hasil untuk jasa mesin rontok padi di bayar sesuai jumlah isi karung yang di dapat. Dan harga untuk per karung Gabah sebesar Rp 7.000/karung.  

 

Laporan: Job Purba

Editor: ren

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *