Tabung Gas 3 Kg Langka Pedagang Kecil Beralih ke Kayu Bakar

  • Whatsapp
Ibu Sipahutar pedagang kecil di Pinangsori. Foto: Job Purba/Smart News Tapanuli.

SMARTNEWSTAPANULI.COM, TAPTENG – Puluhan pedagang kecil di Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara (Sumut) kini beralih ke kayu bakar dampak kelangkaan tabung gas 3 kg.

Gumpalan asap dan bau minyak sangat terasa ketika awak media ini sedang duduk di salah satu warung, ketika pedagang sedang memasak gorengan.

Bacaan Lainnya

Tempat masak gorengan itu terbuat dari tungku tanah. Pandangan itu pun jadi lebih mirip seperti ditempat dapur umum posko bencana.

Ibu Sipahutar,(56)warga Hutabuntul, Kecamatan Pinangsori, merupakan salah satu dari puluhan warga pedagang kecil yang tidak mampu mendapat tabung yang berisi gas elpiji 3 kg.

Dia bercerita kalau tempat untuk berdagang ini sudah sangat menjanjikan dapat untung karena lokasi warungnya berada dipinggi jalan.

Namum sayang, kayu bakar untuk bahan memasak di warung Ibu Pahutar ini sering jadi masalah bagi pelanggan.

“Tempat ini memang agak lumanyan ramai strategis pula di pinggir jalan ,dan persimpangan hendak mandi pula ke arah sungai sana. Saya tidak sanggup memasak apalagi menggoreng pisang goreng di sini dari tabung gas elpiji. Selain harganya mahal, kita juga kadang tidak dapat bagian dari agen agen di sini,” kata Ibu Pahutar sambil memasak gorengan.

Dia juga menyebutkan bahwa dampak menggunakan kayu bakar juga mempengaruhi pelanggan yang datang.

“Iya lah, memang agak bau dan berasap di tempat ini. Namanya juga masak menggunakan tungku dan kayu bakar, pastilah asapnya banyak. Tapi hanya beginilah saya sanggup, kalau tabung gas nanti sudah tidak imbang lagi penjualan dengan pengeluaran,” ucapnya.

Disamping mempengaruhi pendapatannya, penggunaan kayu bakar untuk di warung-warung pinggir jalan tergolong rawan Kebakaran. Dan para pembeli sering mengeluh mengingat posisi warung persis di pinggir jalan lintas, yang mengakibatkan angin yang tiba tiba kencang membuat kepulan asap dan abu-abu kayu bakar mengenai pelanggan penikmat makanan dailam warung.

Menu yang ada di warung ini tak jauh beda dengan warung lainnya, yakni Mie Soup, Goreng Pisang dan minuman ringan dan lainnya.

Sementara seorang penikmat Mie Sop racikan ibu Sipahutar mengatakan, selain dekat dengan dipinggir jalan, harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau.

“Ini dekat warungnya, dan enak masakan mie sopnya serta harganya murah Rp 8.000 per mangkok, itupun sudah campur telor di dalamnya,” kata E . Sitompul di lokasi, Sabtu, (9/12/2017).

(Job Purba)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *