Akademisi Aceh Studi Banding ke Sibolga

  • Whatsapp
Dua akademisi dari Aceh, Profesor Apridar dari Universitas Malikul Saleh dan Doktor Mirza Tabrani dari Universitas Syah Kuala, melakukan studi banding ke Pelabuhan Sibolga, Sumatera Utara, Jumat (28/12). (FOTO: dok.ist)

Sibolga – Dua akademisi dari Aceh, Profesor Apridar dari Universitas Malikul Saleh dan Doktor Mirza Tabrani dari Universitas Syah Kuala, melakukan studi banding ke Pelabuhan Sibolga, Sumatera Utara, Jumat (28/12).

Studi ini dalam rangka pengembangan dan penataan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe dan Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong di Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Bacaan Lainnya

Kedua akademisi ini datang bersama seorang regulator dari pemerintahan atas ajakan pengusaha nasional yang juga Direktur Utama Trans Continent, Ismail Rasyid.

Trans Continent adalah perusahaan swasta nasional di bidang jasa transportasi, logistik, pertambangan, minyak, kargo dan pengangkutan bahan berbahaya dan beracun (B3), yang membuka kantor cabang di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga.

Mereka disambut General Manager (GM) PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I Sibolga, Agust Deritanto bersama Manager Bisnis dan Tehnik, Irfan, serta Manager Keuangan dan Umum, Ahmad Sofyan, di pelabuhan Sibolga.

Doktor Mirza mengungkapkan, rencana pengembangan dan penataan KEK Arun Lhoksumawe kini sudah berjalan dan KIA Ladong sudah di lounching oleh Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Kedua kawasan yang akan dikembangkan di Aceh tersebut cukup besar.

Pelabuhan Sibolga sengaja dipilih karena pihaknya ingin mengetahui bagaimana pelabuhan yang berada di kota kecil ini bisa bertumbuh dan bergeliat, untuk kemudian bisa diterapkan dikedua kawasan di Aceh tersebut.

“Kita memang ingin yang kecil-kecil dulu supaya enak belajarnya. Kalau sudah besar, susah. Ini hanya bagaimana membangun rintisan untuk mengembangkan KEK Arun Lhokseumawe dan KIA Ladong yang belum maksimal sekarang ini,” ujarnya.

Mirza mengaku, pihaknya sudah bisa melihat dari mana akan memulai proses pengembangan KEK Lhokseumawe dan KIA Ladong.

Tinggal mensinergikan dengan pihak Kamar Dagang dan Industri (Kadin), mengajak pengusaha-pengusaha di Aceh untuk bermain serta memberikan kemudahan regulasi.

“Kalau hal lainnya seperti badan kawasan, itu sudah ada di sana. Dari sisi fasilitas, kita ingin bangun di KIA Ladong dan sudah mau dikemaskan. Kalau di KEK Arun Lhokseumawe, itu sudah lengkap,” tukasnya.

Dirut Trans Continent, Ismail Rasyid juga menyampaikan bagaimana dia mengajak kedua akademisi tersebut ke Kota Sibolga.

Ia ingin memperlihatkan hal positif yang bisa menjadi acuan bagi pengembangan di KEK Arun Lhokseumawe dan KIA Ladong dari Kota Sibolga.

Ismail Rasyid memandang Kota Sibolga sebagai salah satu wilayah di Sumut yang perkembangannya lumayan cepat dan memberikan efek dominan yang bagus bagi masyarakat, terutama menyangkut logistik.

Sebagai pengusaha yang beraktivitas di wilayah ini, dia melihat hubungan antar departemen (lembaga/instansi pemerintahan) di Kota Sibolga dan Tapteng sangat bagus, sehingga membuat proses-proses usaha kondusif.

“Inilah kenapa saya tunjukkan dan ajak mereka (pengamat, ahli ekonomi dan pengambil keputusan) kemari. Tempat ini memang kecil tetapi bisa diberdayakan dengan maksimal,” ucapnya.

GM Pelindo I Sibolga, Agust Deritanto, sebelumnya secara gamblang menyampaikan informasi tentang apa yang harus dilakukan para stakeholder jika baru memulai pengembangan sebuah kawasan pelabuhan.

Termasuk segala hal yang perlu diurus bila kawasan KEK Arun Lhokseumawe dan KIA Ladong sudah berjalan nantinya. Agust juga memperlihatkan situasi dan kegiatan dalam kawasan pelabuhan Sibolga. (snt)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *