oleh

Festival Danau Toba Ditiadakan? Begini Reaksi Bupati Taput dan Humbahas

SmartNews, Humbahas – Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, mengatakan, akan mencari kegiatan lain untuk menggantikan Festival Danau Toba (FDT) di tahun 2020.

Kepada wartawan di Medan, baru-baru ini, Gubsu Edy mengatakan, bahwa selama ini FDT kurang bermanfaat karena tidak mampu mendatangkan wisatawan, khususnya dari mancanegara.

Loading...

Pernyataan Gubsu itu ditanggapi Bupati Tapanuli Utara Drs Nikson Nababan. Menurutnya, yang harus dibenahi dalam even FTD itu adalah materi dan pelaksanaan.

“Kurang bermanfaat karena apa? Kalau karena isinya, materinya diperbaiki. Tidak perlu ditiadakan, apalagi ganti nama,” kata Nikson.

Dia menuturkan, FDT selama ini banyak daerah tidak dilibatkan, sehingga terkesan kurang maksimal. Sama seperti daerahnya di tahun 2019 lalu tidak dilibatkan oleh pemerintah provinsi.

Padahal, tambahnya, ditahun 2016, Kabupaten Tapanuli Utara sebagai tuan rumah. Dan itu menurut hemat dia, berjalan dengan baik karena dikemas dengan bagus.

“Harusnya dengan adanya program pemerintah pusat dengan menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata, tentunya harus didukung pemerintah provinsi dan kabupaten. Tentu dengan memperbanyak promosi wisata dan atraksi wisata,” jelas Nikson.

Baca Juga :
Bupati Tapteng Bakhtiar Sibarani Siap Temui Gubsu Edy Rahmayadi

Sementara, Bupati Humbahas, Dosmar Banjarnahor juga tidak setuju jika FDT 2020 ditiadakan. Sebaiknya, kata dia, FDT 2020 ini materinya lebih ditingkatkan.

“Jadi kalau ada yang kurang baik diperbaiki untuk lebih baik,” kata Dosmar yang dihubungi terpisah.

Sementara itu, Praeses HKPB Distrik III Humbang, Pdt Renova Johny Sitorus, menegaskan bahwa FDT selama ini telah bermanfaat, apalagi kepada masyarakat terkhusus sekitaran Danau Toba.

Tetapi, menurut dia, perlu perbaikan dalam pelaksanaan FDT berupa materi.

“Dulu kalau tidak salah ada lomba solu bolon, tortor batak, lomba mancing dan lainnya, nah ini harus dibuat , bukan ditiadakan,” sebutnya.

Renova menilai, bahwa Gubsu Edy Rahmayadi yang berencana menghilangkan nama FDT, tidak masuk diakalnya. Sebab, pemerintah yang telah membuat Danau Toba sebagai destinasi wisata, harusnya gubernur mendukung dan memberikan konsep yang bermanfaat.

“Jadi Pak gubernur harus lebih bijaksana, jangan hanya bilang tidak bermanfaat, tapi beliau harus memberikan konsep mana yang bermanfaat,” imbuhnya.

Pendapat lainnya datang dari Pdt Lamsihar Siregar dari Gereja HKI menyampaikan, bahwa FDT selama ini mempunyai impact kepada masyarakat bergerak di usaha dan jajanan. Mulai jasa transport dari darat, laut dan udara, perhotelan, homestay.

Baca Juga :
Guru Ini Tewas Ditabrak Truk, Padahal Akan Menjadi Pembina Upacara di Hari Guru

Menurut dia, Gubsu perlu diberi masukkan dan gagasan dalam program pengembangan destinasi wisata Danau Toba. Ia menilai, gubernur tidak memiliki hal tersebut, sehingga berani mengucapkan bahwa FDT kurang bermanfaat.

“Ketahuan Pak Gubernur belum memiliki program pengembangan tata kelola destinasi super prioritas Danau Toba. Bahkan Pak Gubernur juga tidak menjelaskan isi masterplan Geopark Kaldera Toba yang sudah masuk dalam daftar keanggotaan UGGN. Sementara FDT hanya salah satu bagian atraksi pariwisata budaya yang perlu dikemas dengan baik supaya menarik. Untuk membantu Pak Gubsu sebaiknya BOPDT hadir sebagai fungsi fasilitator, katalisator,” ungkap dia.

Lamsihar menjelaskan, kalender FDT yang terus berjalan setiap tahunnya jangan menjadi preseden buruk dalam presfektif di hinterland Danau Toba atau juga masyarakat dimanapun berada.

Disadari atau tidak, FDT ini mempunyai impact yang luar biasa buat semua orang, dimulai jasa trasport darat, laut dan udara juga buat perhotelan, homestay dan masyarakat umum dan terlebih masyarakat lokal.

“Saya kira para legislator provinsi dan kabupaten kota di sekitaran Danau Toba perlu bersuara. Kedepan mungkin ada banyak spot dan wacana yang bertolak belakang yang muncul dari gubernur tidak kita respons. Kita harus menyadari kehadiran FDT setiap tahun adalah sebuah tradisi wisata yang ditunggu banyak orang,” imbuhnya.

Baca Juga :
Jenazah Sartika Pasaribu Korban Laka Maut di Malaysia Tiba di Bandara Kualanamu

Sedangkan, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Humbang Hasundutan, Pdt Robinsarhot Lumbangaol menyampaikan jika itu ditiadakan, maka gubernur sama saja menghilangkan kelestarian budaya batak.

Menurut dia, baiknya pesta rakyat tersebut tetap dilaksanakan bukan meniadakan karena kurang bermanfaat.

“Bukan berarti meniadakan pesta rakyat yang sudah dikenal baik dengan sebutan festival danau toba,” katanya.

Dia berharap, agar pesta rakyat tersebut dapat dilaksanakan dengan keseriusan pemerintah dan panitia. Dengan mengkonsep segala kegiatan dengan matang sehingga memberikan kontribusi positif dalam merangsang peningkatan ekonomi masyarakat sekitarnya. Terlebih dalam kontribusi membangun danau toba yang benar-benar sebagai destinasi pariwisata bernilai super prioritas yang telah ditetapkan presiden beberapa waktu lalu. (and)

Loading...

Komentar