Pandemi COVID-19, Pembangunan Proyek Bendungan Batang Toru Pahae Taput Terancam Berhenti

  • Whatsapp

SNT, TaputAkibat pandemi COVID-19, proyek pembangunan bendungan Sungai Batang Toru di Desa Parsaoran Nainggolan Kecamatan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatra Utara, terancam berhenti dan akan menjadi proyek sia-sia.

Ismail Hasibuan, Pengawas proyek bendungan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai Sumatera II, melalui selularnya kepada awak media membenarkan adanya beberapa bagian anggaran proyek yang direfocusing akibat pandemi COVID-19 yang terus berkelanjutan.

“Dari sekitar 257 miliar rupiah yang dianggarkan, ada sekitar 80 miliar rupiah yang direfocusing. Salah satunya pembangunan jaringan atau saluran irigasi primer,” sebut Ismail Hasibuan, Senin (22/3/2021).

“Saluran irigasi primer yang dimaksud adalah, jaringan saluran dari pintu bendungan menuju areal persawahan masyarakat,” jelas Ismail Hasibuan, sembari memastikan proyek bangunan bendungan dan tanggul jaringan dari sungai menuju bendungan tetap berlanjut.

Sementara itu, Tonggor Panggabean, Humas pelaksana proyek dari KSO Hutama Karya Runggu Prima Jaya, saat ditemui di lokasi proyek mengatakan tidak mengetahui adanya refocusing anggaran, saat ini pihaknya masih fokus mengerjakan proyek utama yakni pembangunan bendungan dan tanggul.

Dijelaskannya, proyek bendungan Batang Toru dikerjakan dengan kucuran anggaran tahun berjalan (multi years) dari Kementerian PUPR pembangunan dimulai dari tahun 2018 hingga 2021 yang akan mengaliri areal persawahan seluas 3200 hektar yang tersebar di Kecamatan Purba Tua, Pahae jae dan Simangumban.

Bendungan nantinya memiliki dua pintu saluran air. Pintu kanan untuk saluran ke areal persawahan di Purba Tua dengan luas areal tujuan 2100 hektar. Sementara pintu kiri untuk mengaliri persawahan di Kecamatan Pahae Jae dan Simangumban dengan luas areal sasaran 1100 hektar, terang Tonggor.

Diakuinya, saat ini pihaknya belum mengerjakan saluran irigasi primer, yakni saluran pembangunan air dari pintu bendungan menuju areal persawahan.

“Saluran irigasi primer sebelah kanan sepanjang 1.5 kilometer sementara sebelah kiri sepanjang 2.5 kilometer,” terangnya sembari mengatakan terkait masalah pembebasan tanah sudah selesai dibayarkan kepada masyarakat pemilik lahan.

Tokoh masyarakat setempat, Rio Panggabean, saat dikonfirmasi terkait kondisi proyek berharap pemerintah membatalkan refocusing anggaran yang dimaksud.

“Warga Pahae sangat membutuhkan bendungan itu,” tegas Rio yang pernah duduk sebagai anggota legistatif setempat.

Diceritakannya, dulu ribuan areal persawahan ada di kawasan Kecamatan Purba Tua. Namun, sejak tahun 1980 permukaan air sungai Batang Toru yang mereka kenal dengan nama Aek Godang mulai menurun hingga tidak mampu lagi mengaliri areal persawahan.

Akibatnya, ribuan hektar kondisinya sudah tidak dimanfaatkan atau terlantar, yang bertahan hanya berharap air hujan. Jaringan irigasi teknis yang ada cakupan luasan distribusi air sangat terbatas.

“Saat ini areal yang tersisa sekitar 200 hektar yang tersebar di Desa Parsaoran, Janji Angkola da Sitoli Bahal. Bila selesai dikerjakan, bendungan akan membuka kembali dua ribuan hektar areal sawah yang sudah mati,” ungkap Rio Panggabean.

“Pemerintah pusat tidak perlu ragu untuk melanjutkan proyek tersebut, sebab secara ekonomis proyek bendungan memiliki prospek dengan capaian hasil yang sangat tinggi,” sambung Rio.

Sesuai manfaat usai dibangun, daerah Purba Tua nantinya akan terbuka areal seluas 2100 hektar. Kalkulasinya jelas Rio Panggabean, produksi panen padi sawah untuk satu hektar mencapai 5 ton dikalikan dengan 2100 hektar areal hasilnya 10.500 ton permusim tanam.

“Musim tanam di Purba Tua dua kali dalam setahun, artinya Kecamatan Purba Tua akan menghasilkan 2100 ton padi dalam setahun. Bila dinilai dengan rupiah, 1 kilogram padi dengan harga Rp. 5000 dikalikan 2100 ton hasilnya adalah 105 miliar rupiah akan dicapai masyarakat Purba Tua dalam setahun,” terang Rio Panggabean.

Namun, bila proyek saluran primer dihentikan capaiannya akan nol. “Buat apa bendungan dibangun tetapi jaringannya tidak. Ini namanya sia-sia,” keluh Rio. (ts)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *