Smartnewstapanuli.com




Pak Bupati Tapteng… Kami malu, desa kami disebut kampung maksiat!

  • Minggu, 13 Agustus 2017 | 19:05
  • / 20 Djulqa'dah 1438
  • Reporter:
  • 1545 Kali Dibaca
Pak Bupati Tapteng… Kami malu, desa kami disebut kampung maksiat!
Warga Desa Aek Garut, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara membentangkan spanduk sebagai bentuk protes untuk menolak beroperasinya kembali tempat hiburan lokalisasi di desa mereka, Sabtu, 12/8/2017. Foto: Ist.

TAPANULI TENGAH – Warga Desa Aek Garut, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara (Sumut) menyatakan sikap untuk menolak jika masih ada pihak-pihak yang berkeinginan untuk mengoperasikan usaha lokalisasi di desa mereka. Hal itu ditegaskan beberapa warga menyikapi adanya isu-isu bahwa akan beroperasinya kembali tempat esek-esek di kawasan itu, Sabtu (12/8/2017).

Sebagai bentuk protes, sejumlah warga menuliskan pernyataan sikap mereka pada selembar spanduk yang bertuliskan “Kami warga Desa Aek Garut dengan tegas menolak bila beroperasi lokalisasi di desa kami”.

Menurut merekat, aksi itu dilakukan untuk mendukung penuh program Bupati Tapanuli Tengah Bakhtiar Ahmad Sibarani dalam hal penertiban “pondok kitik-kitik” di daerah tersebut.

Kepala Dusun III Desa Aek Garut, Jonner Tarihoran menyatakan, aksi yang dilakukan warga dipicu karena adanya salah satu cafe yang biasanya digunakan sebagai lokalisasi (cafe remang-remang, red) di desa mereka yang kembali beraktifitas, sehingga membuat warga geram.

“Saya hanya menyampaikan keluhan dan permintaan masyarakat, khususnya di Desa Aek Garut ini. Sebelum tempat ini ditutup masyarakat di sini sudah cukup sabar selama ini. Bertahun-tahun desa kami ini menajadi sarang maksiat, namun akhir-akhir ini kelihatannya setelah adanya penertiban pondok kitik-kitik di sejumlah tempat, tempat ini mulai beroperasi dan sudah buka beberapa hari. Hal ini membuat warga geram dan hendak mendatangi tempat tersebut untuk diobrak-abrik,” ujar Jonner, Sabtu (12/8/2017).

Jonner menambahkan bahwa dirinya selama ini sudah cukup sabar untuk menenangkan warga agar tidak melakukan tindakan dampak beroperasinya salah satu tempat lokalisasi itu.

“Namun jika ini diulangi lagi, maka kami tidak akan tinggal diam lagi. Makanya kami sangat setuju dengan program bupati untuk memberangus semua tempat lokalisasi di Tapanuli Tengah,” tegasnya.

Milawati Sitompul, warga setempat menyatakan bahwa selama ini banyak orang menyebut bahwa kampung mereka sebagai kampung maksiat.

“Bahkan kami khususnya kaum perempuan selama ini dianggap sama dengan wanita-wanita penghibur yang ada di dalam tempat lokalisasi itu. Untuk itu dengan tegas kami sampaikan bahwa kami menolak bila tempat lokalisasi itu kembali beroperasi. Kami ingin kampung kami ini bersih dari maksiat dan narkoba,” terangnya.

Aksi warga itu mendapat pengamanan dari Polres Tapanuli Tengah yang dihadiri oleh Kabag Ops Kompol Benno P Sidabutar. (SNT)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
  • ©2017 SMARTNEWSTAPANULI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional