Smartnewstapanuli.com




Sejarah lubang Jepang di Sibolga, apakah masih diperlukan?

  • Sabtu, 12 Agustus 2017 | 08:28
  • / 19 Djulqa'dah 1438
  • Reporter:
  • 3378 Kali Dibaca
Sejarah lubang Jepang di Sibolga, apakah masih diperlukan?
Lobang Jepang di Bukit Tinggi. (Istimewa)

JEPANG menginjakkan kaki di Sibolga, masuk dengan pasukan bersepeda dari Tarutung pada tanggal 3 Maret 1942. Mereka meneruskan berbagai rencana yang ditinggalkan Belanda, seperti pelebaran Batu Lubang.

Dengan sangat bengis mereka menangkapi para pemuda-pemudi sepulang menonton bioskop malam hari di kawasan Sumatera Timur, lalu dibawa ke Sibolga untuk dijadikan romusha (pekerja paksa) dan jugun lanfu (wanita penghibur).

Para romusha dikerahkan membuat benteng pertahanan di sekitar Sibolga. Yang sangat spektakuler adalah di Bukit Ketapang dengan 14 benteng. Tapi saat ini benteng-benteng itu sudah dijadikan pondasi rumah-rumah penduduk.

Benteng-benteng yang memiliki banyak pintu dan terhubung satu sama lain itu sekarang sudah sulit dijelajahi karena tertutup reruntuhan tanah. Padahal ini adalah warisan sejarah yang seharusnya kita jaga dan tidak boleh ditempati sembarangan.

Bahkan, lorong Jepang yang terpanjang menyusuri gunung (sebelah bukit) Ketapang yang sangat layak dijadikan objek wisata sejarah, kini pintu masuknya dari Jln Melati, telah dijadikan gudang oleh penduduk dan harus minta izin untuk memasukinya.

Di bulan Agustus ini, sudah selayaknya kita yang peduli sejarah mencari jejak-jejak sejarah kemerdekaan pada masa lalu untuk menghormati mereka yang berkorban demi kemerdekaan ini. Seperti Lubang Jepang di Bukit Tinggi yang ditata bersih dan terang telah terbukti bisa mendatangkan pendapatan daerah dan kunjungan wisatawan, sekaligus membuat geliat ekonomi rakyat di sekitarnya.

(Penulis: Syafriwal Marbun, seorang pemerhati budaya dan sejarah Pesisir Sibolga)

1 Komentar

  1. effectrip Sabtu, 12 Agustus 2017
  • ©2017 SMARTNEWSTAPANULI

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional