oleh

Tuntut Uang Ganti Rugi Lahan, Ibu Ini Dibentak Kadesnya

Tapanuli Tengah – Esrina Hutagalung mengaku tersinggung dan kecewa kepada kepala desanya (kades), yakni Desa Tapian Nauli IV, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Pasalnya, saat dirinya menuntut pembayaran uang ganti rugi lahannya untuk pembangunan Jalan Rampah-Poriaha kepada kepala dusun setempat, Tukkot Hutagalung, dia malah dibentak oleh Kadesnya Simbri Hutagalung.

“Kalau permasalahan ini sampai ke ranah hukum, saya siap. Karena sakit hati aku atas ucapan kepala desa tersebut,” tuturnya kepada awak media, Rabu, 2 Mei 2018.

Esrina menceritakan, kejadian itu bermula saat terjadi perdebatan antara dirinya dan kades tersebut, di sebuah warung di desa itu pada Minggu, 30 April 2018 lalu. Dia sengaja menemui kadesnya itu untuk mengadukan perbuatan kepala dusun yang diduga menilep uang ganti rugi lahan tersebut.

Dalam perdebatan itu, Esrina menyebutkan bahwa dana yang masuk ke rekeningnya (Esrnina Hutagalung) adalah sebesar Rp20.534.845. Tetapi kemudian kepala dusun memotongnya sebesar Rp14.000.000.

Tadinya, Esrina berharap kepala desanya bisa memediasi persoalan itu, baik kepada kepala dusun dan juga dengan pihak perusahaan rekanan proyek pembangunan jalan nasional itu, PT NKE.

“Iya, setahu saya uang itu masuk ke rekening saya sebesar Rp20.534.845, kenapa langsung dipotong-potong, saya tidak terima di sini,” kata Esrina.

Esrina juga menjelaskan, sepengetahuannya dana ganti rugi lahan itu masuk ke rekeningnya dan otomatis menjadi miliknya.

Sementara itu Kepala Desa Simbri Hutagalung menyangkal, dan mengatakan bahwa dana itu bukan sepenuhnya milik Esrina. Karena dana itu juga akan dibagi-bagi kepada ke pemilik lahan yang lain, makanya dipotong langsung oleh kepala dusun.

“Itu bukan sepenuhnya milikmu, masih ada warga lain yang mau dikasih yang lahannya yang kena juga, jadi inisiatif kami uang itu kami potong, untuk ke warga yang lain,” ucap Simbri.

Dalam perdebatan itu, kades tersebut juga sempat geram lalu menyatakan agar Esrina Hutagalung sajalah yang menjadi kepala desa.

“Kau sajalah jadi kepala desa di sini, dan kaulah membagi bagi uang Rp20 juta ini,” bentaknya.

Esrina Hutagalung juga tak mau kalah dan sempat tidak setuju dengan pemotongan dana itu. Sehingga kemudian dia meminta dana tambahan sebesar Rp4.000.000. Namun kepala desa menyatakan kalau permintaan tersebut terlalu besar.

“Gak sanggup kami, yang ada dana kami Rp1 juta, akan kami tambahi nanti, itupun gak janji,” tutur kepala desa membujuk. Tapi Esrina tetap bersikeras tidak mau kalau perjanjiannya seperti itu.

“Kalau ada danaku gak apa-apa, aku mau jadi kepala desa,” tentang Esrina pula.

Pertemuan dan perdebatan itu akhirnya belum membuahkan kesimpulan. Masing-masing pihak masih tetap mempertahankan pendapat dan keinginan. (Job Purba_snt)

Komentar