oleh

Ini Dua Sikap Aneh Santi Malau Sebelum Meninggal

SmartNews, Tapateng – Ada sikap yang tak biasa ditunjukkan Santi Devi Malau (26), customer service Bank Syariah Mandiri Pandan, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara sebelum akhirnya ditemukan tewas di kamar mandi kos-kosannya di Jalan Padangsidimpuan, Lingkungan I, Kelurahan Pandan, Kecamatan Pandan pada Jumat (14/6/2019).

Hal itu disampaikan ayah Santi, Maslan Malau (58) kepada wartawan, Kamis (20/6/2019).

Menurut cerita teman kerja korban kepada Maslan Malau, sikap putrinya itu menggulung-gulung tisu dan kemudian memasukkannya ke dalam lubang hidungnya.

Hal itu terjadi saat acara halalbihalal di kantor mereka pada Kamis (13/6/2019).

“Teman-teman Santi sudah merasa heran, karena korban tidak pernah bertingkah seperti itu. Hanya saja tidak ada firasat mereka kepada kematian Santi, dan teman-temanya menganggap hanya lucu-lucuan Santi saja,” kata Maslan.

Selain sikap aneh itu, korban yang merupakan anak keempat dari enam bersaudara itu juga menyalami teman-temannya berulang-ulang sebelum kembali ke tempat kosnya. Gelagat itu semakin mengundang rasa curiga rekan-rekannya.

“Hanya saja teman-teman Santi tidak mengerti apa maksud di balik keanehan itu,” ujar Maslan.

Maslan menambahkan, firasat aneh juga sudah dirasakannya sewaktu bermain bulu tangkis di Sibabangun, pada Kamis (13/6/2019) sore, ketika tubuh dan jiwanya gelisah terus sepanjang sore itu.

“Badan saya gelisah terus, ada apa ini pikirku. Sedikit pun tidak ada firasatku ke Santi, karena putri saya itu dalam keadaan sehat-sehat saja. Justru saya berfirasat kepada cucuku dari kakaknya Santi yang di Batangtoru (Tapsel), karena sedang sakit,” ungkapnya, seraya menyebutkan firasat dan sikap aneh yang ditunjukkan Santi Devi sebagai tanda akan kepergiannya selama-lamanya.

Lantas bagaimana sikap kedua orangtua korban dan keluarganya atas ditangkapnya pelaku dan motif pembunuhan Santi? Ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kapolres Tapteng dan jajarannya yang sudah berhasil menangkap pembunuh putrinya itu.

“Saya atas nama keluarga besar Santi mengucapkan terima kasih banyak kepada bapak Kapolres Tapteng AKBP Sukamat beserta jajaran yang sudah bekerja keras mengungkap kasus ini. Harapan kami agar tidak ada lagi tindakan keji seperti yang dialami putri kami. Dan kami juga memohonkan kepada pak Kapolres, agar menerapkan hukum yang sepantasnya kepada pelaku, karena pelaku tega menghabisi nyawa anak kami yang berniat baik untuk membantu meminjamkan uang kepada pelaku dengan tawaran mau mengambil uang ke ATM, namun justru dibunuh dengan cara sadis,” ucapnya lirih.

Suami dari boru Lubis ini pun mengaku sudah ikhlas atas kepergian putrinya yang merupakan jebolan dari Fakultas Ekonomi Unimed Medan itu.

“Kami sudah ikhlas pak, karena kalau dipikirin terus toh tidak bisa lagi Santi kembali hidup. Justru semakin menambah beban pikiran. Namun biar ada efek jera kepada pelaku, karena itu pelaku harus dihukum seberat-beratnya,” pinta kakek dua cucu ini.

Sebelumnya diberitakan, tersangka DP bersama istrinya ditangkap Sat Reskrim Polres Tapteng dari persembunyiannya di rumah keluarganya di Medan pada Selasa (28/6/2019).

Polres Tapteng dipimpin Kapolres AKBP Sukamat menggelar konferensi pers.

Kepada wartawan, DP (20) dan istrinya NN (18) mengaku membunuh Santi hanya gara-gara ingin meminjam uang Rp200 ribu dari korban.

Dalam kasus ini, Polisi pun berjanji akan mendalami motif pembunuhan sadis itu dengan melakukan pemeriksaan intensif dan pengumpulan informasi dari saksi-saksi. (red)

Loading...

Komentar