oleh

Oknum Guru di Nias Diduga Aniaya Muridnya Hingga Masuk Rumah Sakit

Smart News Tapanuli, NIAS – Oknum guru di SMA Negeri 1 Amandraya berinisial NH diduga melakukan penganiayaan terhadap seorang muridnya berinisial JM. Dari informasi yang diperoleh, kejadian tersebut pada 19 Agustus 2017 silam.

Abang korban Boi Mendrofa kepada wartawan bercerita bahwa kekerasan yang dialami JM berawal saat para guru di sekolah SMA Negeri 1 Amandraya termasuk oknum guru NH pergi melayat pada les terakhir sekolah.

Para siswa di sekolah itu pun memilih keluar kelas dan mencari aktifitas masing-masing, karena para guru sedang pergi melayat.

“Saat itu Adek saya (JM-red) sedang menonton voli,” kata Boi Mendrofa.

Berselang beberapa lama, onkum guru NH tiba-tiba kembali ke sekolah dan menginstruksikan seluruh siswa masuk ke ruangan masing-masing.

Namun menurut Boi, korban JM saat itu tak mendengar dengan jelas instruksi yang diberikan, dan akhirnya menjadi murid terakhir yang masuk ke dalam kelas.

Sebelum masuk, lanjut Boi, oknum NH mempertanyakan mengapa JM terlambat masuk ke dalam kelas.

“Jadi dia sempat dipanggil, kata gurunya kamu dengar kusuruh masuk? Kata adek saya gak tahu saya tujuan bapak mau masuk atau gimana, karena guru itu pukul-pukul mik (Microfon), udah sana masuk, belum dipukulnya, hanya diusapnya saja muka pakai telapak tangannya,” kata Boi.

Ketika JM mau masuk keruangan kelas, adiknya tanpa sengaja terbatuk dan tak sengaja meludah. Namun sikap ini tampaknya menjadi pemicu kemarahan sang oknum guru dan memanggil JM.

“Dia (NH-red) salah paham, adek saya dia fikir meludah ada tujuan melawan, jadi gurunya salah paham dan dia panggil antara kelas dan kantor, masih belum dikelas, sini kamu, langsung dipukul bagian kepala belakang antara bahu dan kepala, di tengkuk, yang penting bagian belakang, dibawah kepala, pas dipukul entah ditampar pakai tangan, jadi langsung berkunang-kunang di mata adek itu,” ungkap Boi.

Tak puas dengan memukul tengkuk korban, NH tampaknya tersulut emosi, dan kembali melanjutkan aksi kekerasannya dengan menarik kerah seragam JM dan membawanya ke dalam ruang kelas. JM disuruh jongkok dan ditampar berkali-kali.

“Masih belum puas guru itu ditariknya kerah baju adek itu disuruh masuk ke kelas, di depan temannya disuruh jongkok dan ditampar-tampar, gak terarah yang penting ditampar kepala timbal balik, dibilangnya kamu melawan ya?” kata Boi menirukan ucapan yang diduga diucapkan oknum NH.

Masih kata Boi, adiknya sempat keberatan dengan pemukulan yang dilakukan NH, kendati tak diindahkan dan malah menantang dan mengaku tak takut jika kasus tersebut dilaporkan ke pihak berwajib.

“Kata adek saya, ini bukan pukulan lagi pak, ini namanya sudah kekerasan, diingatkan adek saya, tapi kata gurunya saya tidak takut mau melapor ke polisi saya tidak takut, dia tambah lagi dan entah kena batu akiknya kena di kepala disitu adek saya pingsan, tegang dan tidak sadarkan diri dan teman-temannya panik, gak pernah ini sama si Jurdil. Dikasih balsem tapi tidak sadarkan diri, semua teman-temannya sekitar 30 lebih menyaksikan,” jelas Boi.

JM akhirnya dilarikan ke Puskesmas Amandraya oleh rekan-rekan sekelas JM, kendati oleh oknum NH mencoba berbohong dengan melaporkan bahwa JM terjatuh.

“Dokter ragu, karena dokter kan tahu bagaimana orang jatuh atau bagaimana, kata dokter kalian jujur saja, tapi akhirnya guru jujur kepada dokter, tapi ya cuma dokter itu dia jujur,” katanya.

JM yang telah menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Murni Teguh Medan seminggu yang lalu, saat ini sedang rawat jalan dirumah keluarga JM di Medan. Sementara hingga kini, belum diperoleh klarifikasi dari pihak sekolah dan dari oknum NH. (ril)

Komentar