Kondisi Melemah, Bocah Perempuan Asal Sitahuis yang Lahir Tanpa Anus Dilarikan ke Rumah Sakit

  • Whatsapp
Ruangan IGD Rumah Sakit Metta Medika Sibolga Tempat Bocah Perempuan Asal Sitahuis yang Tak Miliki Anus Menjalani Perawatan, Minggu malam 31 Maret 2019. (Foto: Istimewa)

Tapanuli Tengah – Kondisi bocah perempuan Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara yang baru lahir sekitar 2 (dua) minggu, lahir tanpa anus, melemah.

Hal itu disampaikan Agus Marbun salah seorang kerabat keluarga dari bocah malang itu, kepada SmartNews, Minggu malam (31/3/2019).

Bacaan Lainnya

“Benar, saat ini anak tersebut sedang menjalani perawatan medis di ruang IGD rumah sakit Metta Medika Sibolga. Malam tadi dibawa dari Sitahuis,” ujar Agus Marbun.

Bocah ini merupakan anak keempat dari pasangan Rudiasi Hutagalung dan Dameria Simbolon.

Sebelumnya diberitakan, Dameria Simbolon mengatakan, anak perempuannya tersebut lahir pada Senin (18/3/2019). Begitu mengetahui anaknya lahir tanpa anus, dia pun membawanya berobat ke rumah sakit Imelda Medan.

“Sudah satu minggu tiga hari anak saya ditangani dokter di rumah sakit Imelda Medan. Karena dokter bilang sudah membaik, maka kami bawa pulang. Baru tadi pagi (Minggu,red) kami sampai di rumah naik travel,” ungkap Dameria saat dihubungi, Minggu malam (31/3/2019)

Dia menerangkan, saat ditangani di rumah sakit tersebut, anaknya dioperasi untuk membuat saluran pembuangan air besar yang dibuat dari perutnya.

Sesuai dengan anjuran dokter, anaknya akan kembali dibawa ke rumah sakit Imelda Medan, pada 10 April 2019.

“Namun sekarang saya lihat bekas jahitan operasi di perut anak saya lepas. Kuhubungi dokter yang di Medan itu, katanya gak bisa dijahit, tapi di perban,” ujarnya.

Berasal dari keluarga kurang mampu, tidak membuat keluarga ini mengeluh soal biaya perobatan, karena memiliki kartu BPJS kesehatan.

“Soal biaya perobatan anak saya semua ditanggung BPJS. Hanya kami mencari biaya ongkos berangkat dan pulang. Itu aja,” tutur istri dari Rudiasi Hutagalung yang sehari-hari bekerja di kebun karet di Sitahuis. (snt)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *