Polisi Periksa Abang Kandung Maecenas Adhara Donnya dan Jusrin Nanto Sihombing

  • Whatsapp
Foto: Jasad Korban Diserahkan kepada Keluarga di RSUD Pandan. (dok-ist)

SmartNews, Pandan – Pasca Maecenas Adhara Donnya (40) warga Lingkungan II, Kelurahan Mangga Dua, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara (Sumut) ditemukan meninggal di dalam rumah pada, Rabu (20/11/2019) sore, pukul 16.30 WIB, Polisi memeriksa abang kandung korban Prama Taufiq Yudihistira dan Jusrin Nanto Sihombing yang pertamakali menemukan jasad korban.

Kapolres Tapteng, AKBP Sukamat melalui Kasubbaghumas, Iptu Rensa Sipahutar dalam keterangan tertulis, Kamis siang, menjelaskan, pemeriksaan kedua pria itu sebagai upaya tindak lanjut dari kepolisian.

Bacaan Lainnya

Kepada polisi, Prama Taufiq Yudihistira menerangkan bahwa sejak tahun 2017, ia tingga serumah dengan korban dan orangtuanya. Korban selalu mengeluhkan penyakit maag kronis yang ia alami.

“Menurut abang kandung korban, bahwa adiknya tersebut (Maecenas Adhara Donnya) tidak pernah mau dibawa berobat untuk menyembuhkan penyakitnya,” kata Iptu Rensa menjelaskan.

“Jadi sebelum korban ditemukan meninggal, abang kandungnya pergi berangkat kerja pada pukul 06.30 WIB meninggalkan korban sendirian di dalam rumah dalam kondisi muntah berkali-kali. Kemudian pada pukul 16.30 WIB, Jusrin Nanto Sihombing menemukan korban tergeletak telungkup di dalam rumah tersebut,” sambung Rensa.

Menurut Rensa, Jusrin mendatangi rumah tersebut hendak menyampaikan pesan dari orangtua korban, isi pesan yang akan disampaikan adalah, korban mau makan apa!.

“Namun saat Jusrin berada di depan pintu rumah, ia memanggil korban berulang-ulang tetapi tidak ada jawaban. Jusrin selanjutnya mengintip situasi dalam rumah melalui jendela dan melihat posisi kaki korban di bawa meja. Dia kemudian mendorong pintu dan masuk ke dalam rumah, serta melihat posisi korban telungkup di lantai dan ada darah di sekitar kepala korban,” paparnya.

Setelah itu, lanjut Rensa, Jusrin menelepon orangtua korban dan abang kandungnya. “Kemudian Jusrin bersama abang kandung korban melihat korban tidak bergerak lagi (meninggal),” terangnya.

Menurut Rensa, keluarga korban menolak dilakukan otopsi terhadap jasad korban. “Jasad korban selanjutnya diserahkan kepada keluarga di RSUD Pandan, diterima oleh abang kandungnya,” Rensa mengakhiri keterangannya. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *