Seorang Sopir Ekspedisi Sibolga-Nias Dinyatakan Reaktif COVID-19

  • Whatsapp
FOTO: Pixabay.

SmartNews, Tapanuli – Seorang sopir ekspedisi Sibolga-Nias asal Kota Sibolga dikabarkan reaktif COVID-19 setelah di rapid test oleh tim Protokoler Kesehatan Pelabuhan Angin, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara (Sumut), pada Rabu (18/6/2020).

Sopir ekspedisi tersebut juga dikabarkan sudah diisolasi sementara di rumah sakit umum (RSU) Gunung Sitoli menunggu keluar hasil Swab Polymerase Chain Reaction (PCR) nya yang menyatakan dia positif atau negatif COVID-19.

Bacaan Lainnya

Sopir ekspedisi asal Kota Sibolga tersebut saat itu hendak membawa logistik ke Pulau Nias dengan menumpang Kapal (KM) Wira Prime dari Sibolga.

Namun setibanya di Pelabuhan Angin Gunungsitoli atau sebelum memasuki Kota Gunungsitoli, para sopir ekspedisi dan lainnya harus menjalani sejumlah pemeriksaan terlebih dahulu termasuk pemeriksaan kesehatan seperti rapid test oleh petugas kesehatan di pintu masuk pelabuhan.

Kepala Dinas Kesehatan Sibolga, Firmansyah Hulu, membenarkan informasi tersebut. Dia mengatakan, pihaknya sudah mengambil tindakan sementara dengan mengisolasi sementara keluarga si sopir untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

“Sambil mengisolasi keluarganya, kita juga sedang menunggu perkembangan lanjutan dari hasil pemeriksaan Swab PCR si sopir dari Dinkes Gunungsitoli. Kalau hasilnya nanti negatif, maka keluarganya akan dibebaskan dari isolasi,” ujar Firmansyah kepada wartawan, Kamis (18/6/2020).

Oleh karena itu, Firmansyah yang juga Koordinator Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kota Sibolga ini pun tidak menutupi kalau mereka dari Dinkes Sibolga baru mengisolasi keluarga si sopir dan belum sampai men-tracing (Menelusuri) orang lain yang dirasa pernah kontak atau berhubungan dekat dengan si sopir.

Sebab rapid test bukan penentu atau alat diagnostik untuk menentukan seseorang positif COVID-19, melainkan hanya lah sebuah alat skrining atau alat untuk memutus lebih cepat rantai penyebaran COVID-19.

“Makanya, istilah yang dipakai dari hasil rapid test bukan positif atau negatif, tetapi reaktif dan non reaktif. Sehingga untuk penegasan diagnostik hasil rapid test seseorang positif atau tidak dari COVID-19 dilakukan Swab PCR. Disitulah nanti hasilnya positif atau tidak,” jelasnya.

Lanjutnya, jika hasil Swab PCR sopir tersebut nantinya telah keluar dan dia (si sopir) dinyatakan positif COVID-19, maka pihaknya dari Dinkes Sibolga baru akan bertindak jauh dengan men-tracing orang lain selain keluarga yang dirasa pernah kontak atau dekat dengan sopir tersebut.

“Jadi kalau sekarang tindakan yang kita lakukan masih kepada keluarganya dulu. Mereka sudah kita isolasi mandiri dirumahnya. Jumlah mereka sekitar 3-4 orang,” Firmansyah menambahkan. (ril)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *