TAPTENG – Pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatra Utara (Sumut) proses belajar mengajar di sekolah kembali dilaksanakan dengan menerapkan pelajaran menyenangkan dan trauma healing, serta psikososial bagi peserta didik, Senin (05/01/2025).
Plt. Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Tapteng Johannes Simanjuntak mengatakan sesuai arahan Bupati dan Wakil Bupati Tapteng, Dinas Pendidikan menerapkan sekolah pelajaran menyenangkan.
“Kita di tahun ajaran ini, tanggal 5 Januari 2026, semua sekolah sudah siap untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar yang menyenangkan, tidak ada beban-beban PR,” katanya.
Johannes menerangkan kesiapan proses pembelajaran ditandai dengan beberapa hal yang sudah direncanakan di awal dan diimplementasikan.
“Pertama, sekolah-sekolah yang masih terisolir seperti SD Sigiring-Giring, Hutanabolon 3, itu sudah kita siapkan tenda dari Kementerian Pendidikan yang sudah melakukan proses pembelajaran menyenangkan di tenda ini. Kemudian, siswa di SD Hutanabolon 2 yang jumlah siswanya 161, itu kita gabung di SD Hutanabolon 1 dan sebagian lagi di tenda sekolah darurat ini,” katanya.
Johannes juga melihat antusias siswa-siswa yang tetap semangat untuk melakukan kegiatan belajar mengajar.
“Kita juga sudah menyediakan bantuan seperti seragam, alat tulis dan tas yang telah didistribusikan sesuai dengan data kita dari siswa yang berdampak bencana alam. Hanya saja beberapa tadi siswa kita tanya, takut kotor seperti itu. Tapi pada umumnya, siswa yang ada di Kecamatan Tukka secara khusus sudah mendapatkan bantuan untuk pakaian seragam sekolah dan alat-alat tulis,” kata Johannes.
Dia juga mengatakan bahwa sejauh ini ada beberapa sekolah masih dalam progres pembersihan, tingkat kebersihannya masih sekitar 70%.
“Itu karena lumpurnya sangat dalam di area sekolah tersebut berkisar 80 cm. Walaupun begitu sekolah sudah berjalan dengan situasi yang masih sederhana dikarenakan kita masih fokus pembersihan ruangan. Jadi, sekarang ini di beberapa sekolah masih proses pembersihan berlangsung dengan didatangkan alat berat beko, kerjasama kita dengan Baznas Tapteng dan Dinas PUPR Tapteng serta dibantu juga dengan mendatangkan beberapa guru yang ditugaskan,” sambungnya.
“Kami berkeyakinan bahwa guru-guru juga harus kita berikan semangat, motivasi . Tentunya akan ada kombinasi nanti di mana siswa-siswa ini juga selain pemberian belajar mengajar yang tatap muka di sekolah, ada juga bentuk kegiatan trauma healing dan psikososial bagi guru-guru juga,” Plt.Kadis Pendidikan Tapteng menambahkan.
Lebih lanjut disampaikan, berdasarkan data yang dihimpun dari 16 Kecamatan yang terdampak itu semuanya sudah berjalan normal dan kehadirannya itu 90 persen siswa.
Terkhusus yang di kecamatan Badiri, tepatnya di Lopian 1, Lopian 2 itu kehadirannya sekitar 80 persen.
“Nah yang di Pandan hampir rata-rata data yang kita himpun juga kehadirannya sekitar 80-85 persen begitu. Kita terus lakukan pemetaan dan ada 300 sekolah lebih yang terdampak yaitu 194 SD, kemudian 98 SMP, dan sisanya TK PAUD. Kemudian sudah kita buat proposal untuk pengajuan ke kementerian terkait, terlebih Kementerian Pendidikan dan PUPR, nantinya bisa membantu untuk melakukan rekonstruksi dan perbaikan sekolah,” pungkasnya. (ren)







