Ada Pagelaran Seni dan Budaya Nias di Tapteng

  • Whatsapp
Ilustrasi Lompat Batu. Photo: Istimewa/Lp6/Net.

Tapanuli Tengah – Jika Anda sedang melakukan kunjungan wisata atau berlibur di Pantai Barat Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Tapanuli Tengah, jangan lewatkan momen yang satu ini.

Ada Pagelaran Seni dan Budaya etnis Nias yang dilaksanakan Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI) Tapanuli Tengah, Jumat (22/6) pekan ini.

“Yang kita tampilkan nanti, Lompat Batu, Tari Perang, Tari Elang (moyo), memberi sirih yakni adat istiadat masyarakat di Nias, dan juga Tari Maena, pagelaran ini akan ditampilkan di lapangan bola GOR Pandan,” terang Ketua Panitia, Samahati Lase kepada wartawan, Rabu (20/6).

Pagelaran ini akan bersamaan dengan pelantikan 20 pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) HIMNI di Tapteng. Ribuan masyarakat Nias yang sudah menjadi penduduk di daerah ini diperkirakan akan hadir.

“Masyarakat yang diundang diperkirakan 10.000 hingga 12.000, karena tidak saja dari Sibolga-Tapteng, tapi juga ada dari Nias dan Jakarta, ada juga artis Nias dari Kota Medan,” kata Samahati.

Menurut dia, penampilan beragam kesenian dan kebudayaan Nias di Tapteng baru kali ini terjadi. Karenanya, sejumlah tokoh masyarakat Nias juga dikabarkan akan hadir. Menkumham RI Yasona Laoly, DPP HIMNI Marinus Gea, Ketua DPD HIMNI Sumut Turunan Gulo.

“Empat kepala daerah, ada Walikota dan Bupati dari Nias juga sudah menyatakan hadir di acara ini,” ungkap Samahati.

Masyarakat Nias sudah menjadi penduduk di Tapteng sejak puluhan tahun. Jumlahnya saat ini diperkirakan sudah mencapai 60.000 jiwa atau sekitar 20 persen dari total penduduk Tapteng berkisar 300.000 jiwa.

Masyarakat Nias di daerah ini sudah berbaur dengan masyarakat sekitar dan telah menjadi bagian penting kehidupan sosial kemasyarakatan. Kendati telah berada lama di perantauan, kehidupan seni dan kebudayaan asli dari Nias diharapkan dapat terus bertahan.

“Budaya Nias jangan sampai terlupakan oleh masyarakat yang berada di perantauan, ini juga menjadi momentum silaturahmi di perantauan khususnya di Tapteng. Agar kita saling mengenal, siapa orang tuanya, siapa familinya,” tuturnya. (ril)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *