Lima Hari “Disandera” Si Raja Kretek

  • Whatsapp
Foto Source: Marihot Simamora.

DUA minggu sebelumnya aku bertemu dengan Mas Wahyu (sapaan akrabnya). Pria yang ramah ini adalah marketing perusahaan rokok di Cabang Sibolga, Sumatera Utara, kota tempat tinggalku. Saat itu dia meyakinkan agar aku mau didaftarkannya sebagai peserta terakhir dalam satu acara yang diadakan perusahaannya. Rundown acara langsung dikirimnya melalui pesan WhatsApp. Wow, ternyata ini undangan spesial dari “si raja kretek” dunia.

Marihot Simamora – Sibolga

Awalnya ada keraguan untuk ikut atau tidak. Soalnya waktu yang dibutuhkan 5 hari untuk seluruh rangkaian kegiatan. Bahkan khusus peserta dari Sibolga bertambah menjadi 6 hari, karena sehari lagi untuk penerbangan pergi dan pulang Sibolga-Jakarta.

Tapi keraguan itu dikalahkan oleh bayangan akan banyaknya hal baru yang dilihat dalam media gathering bertajuk “Cultural Visit 2018 PT Djarum Tbk” ini. Terbayang bagaimana serunya menonton laga final badminton Indonesia Open di Istana Olahraga (Istora) Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Itu masih di hari pertamanya, Minggu 8 Juli 2018.

Hari keduanya, terbang ke tanah Keraton, Yogyakarta untuk eksplor Candi Prambanan dan naik ke Tebing Breksi, objek wisata batu purbakala. Malamnya lanjut “hang out” menapaki Jalan Malioboro yang terkenal itu.

Hari ketiga juga begitu menggoda. Diajak ke Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Selanjutnya menjajal serunya rafting (arung jeram) di Sungai Elo, Kecamatan Borobudur.

 

Puncaknya pada hari keempat, Kamis 12 Juli 2018 adalah sebuah kesempatan langka. Melihat langsung proses produksi di markas besar pabrik PT Djarum Tbk di kota kretek, Kudus. Setelahnya bertandang lagi ke RUS Animation Studio di SMK Raden Umar Said dan GOR Jati Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum, keduanya masih di Kudus.

Pengemasan gathering ini memang sudah disiapkan sejak setahun lalu. Tidak mudah mengatur trip ke 5 kota di Pulau Jawa, dari Jakarta, Yogyakarta, Magelang, Kudus hingga Semarang. Agenda ini sengaja dipersembahkan Djarum untuk rekan-rekan media. Pesertanya dari berbagai penjuru daerah di Indonesia bagian barat.

Ada 105 orang. Di antaranya dari Pulau Sumatera mulai Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Pekanbaru, hingga Provinsi Aceh. Juga dari Kalimantan, seperti Pontianak, dan sejumlah daerah di Pulau Jawa. Ini adalah wujud apresiasi perusahaan rokok raksasa itu atas jalinan kerjasama dan hubungan baik yang tercipta selama ini.

 

Menurut Manager Komunikasi PT Djarum Tbk, Budi Darmawan, media gathering sebelumnya dilaksanakan 10 tahun lalu. Jadi rindunya sudah tak terbendung. Tak sabar untuk menuliskannya, meski ini hanya satu dari 1001 cerita pengalaman yang didapat selama kegiatan.

* Hari Pertama

Bayangan itu menjadi nyata. Merasakan bagaimana riuhnya menonton langsung di Istora GBK Senayan dari siang hingga malam hari. Istora yang baru selesai direnovasi dengan kapasitas 7.110 tempat duduk itu full. Padahal masih banyak pecinta bulutangkis yang tidak dapat tempat duduk karena tiket habis.

Untung saja tempat kami telah disiapkan di tribun pilihan. Letaknya menghadap ke lapangan dan panggung penyerahan hadiah. Dan karena renovasi istora juga untuk gelaran Asean Games 2018, jadi semua fasilitasnya sekarang jauh lebih nyaman dan ideal, khususnya untuk even badminton berkelas internasional.

Yel-yel suporter tuan rumah semakin bergemuruh saat wakil Indonesia pasangan ganda putra/putri dan ganda putra bertanding di dua dari lima laga puncak. Semua ikut berteriak menggetarkan istora. Kadang jantung ini pun ikut berdecak saat menyaksikan suttle cock berpindah pada situasi-situasi krusial. Skill bermain mereka memang ‘tingkat dewa’.

Dukungan suporter tuan rumah seperti sihir yang menjatuhkan mental pemain lawan. Pemain tuan rumah tak begitu kesulitan mencetak poin demi poin. Kedua jagoan Indonesia pun gemilang menyabet gelar juara. Tontowi Ahmad/Liliana Natsir (Owi/Butet) memupus perlawanan pasangan asal Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. Dan Markus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menundukkan wakil Jepang Tatuko Inoue/Yuri Kaneko dua set langsung.

Perhelatan turnamen terelite untuk kategori premier of premier (kasta kedua turnamen dunia) yang didukung penuh oleh Djarum Foundation itu sukses dihelat. Total hadiah yang diberikan senilai 1,25 US Dollar atau sekitar Rp16,78 miliar.

Walau suara hampir habis malam itu, tetapi setimpal dengan rasa bangga. Serunya pertandingan tadi masih hangat diperbincangkan hingga ke meja makan malam di Restoran Pulau Dua. Setelahnya kembali ke hotel untuk istirahat. Hari ini benar-benar bergelora di istora.

 

* Hari Kedua

Langit ibukota pagi itu, Senin 9 Juli 2018, biru. Cuaca cerah membuat penerbangan dari Halim Perdana Kusuma landing mulus di Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Ya, hari ini eksplor Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Waktu perjalanan dari bandara hanya sekitar 45 menit.

Secara pribadi, ini kali pertama kumenginjakkan kaki di situs kerajaan Hindu di Nusantara pada masa raja-raja Dinasti Sanjaya itu. Dinasti yang berjaya pada 850 Masehi. Sejarah mencatat Prambanan ditemukan kembali pada tahun 1733. Candi ini dibangun untuk pemujaan kepada Tri Murti atau tiga dewa tertinggi dalam agama Hindu, yakni Dewa Brahma, Dewa Siwa, dan Dewa Wisnu.

Tetapi ada historis lain yang menjadi magnet pariwisata Prambanan, yakni kisah legenda “Bandung Bondowoso”. Konon terjadilah perseteruan kekuasaan dan cinta seorang pangeran dan putri antar dua kerajaan. Adalah Bandung Bondowoso, putra dari Raja Damar Moyo yang ditugaskan ayahnya untuk membunuh Raja Prabu Boko karena membangkang. Di tengah gejolak peperangan kala itu, rupanya pangeran tampan dan gagah perkasa itu malah kepincut dengan kecantikan Roro Jonggrang yang tak lain adalah putri dari Raja Prabu Boko.

Bandung Bondowoso yang terpesona pada pandangan pertama menyatakan ingin mempersunting sang putri. Tetapi Roro Jonggrang mengajukan syarat. Sebenarnya syarat itu adalah intrik agar ayahnya selamat. Syaratnya adalah Bandung Bondowoso mesti membangun 1000 candi dan 1 sumur dalam tempo semalam. Sang pangeran pun menerima syarat itu.

Singkat cerita, saat Bandung Bondowoso nyaris menyelesaikannya, Roro Jonggrang bersiasat menggagalkan dengan mempercepat datangnya pagi. Alhasil setelah dihitung candi yang berhasil dibangun hanya 999 buah. Bandung Bondowoso yang merasa dipermainkan oleh Roro Jonggrang lantas murka. Dia kemudian mengutuknya menjadi sebuah candi, sehingga genaplah ada 1000 candi. Itu sebabnya Prambanan juga sering disebut sebagai candinya Roro Jonggrang.

Ribuan wisatawan dari berbagai penjuru negara datang ke Prambanan setiap hari. Pemerintah sendiri rutin melakukan pemugaran pada bagian-bagian candi yang masih kokoh berdiri. Itu dilakukan untuk merawat semua patung dan relief-relief pada candi berusia ribuan tahun tersebut.

Tak terasa eksplorasi hari ini harus berujung. Matahari mulai condong ke barat. Energi dari makan siang tadi sudah terpakai untuk menapaki anak tangga candi. Sementara destinasi berikutnya, Tebing Breksi telah menunggu. Dalam benak terbesit; suatu saat nanti datang kembali, siapa tahu beruntung bisa bertemu si cantik Roro Jonggrang.

* Bertemu Naga di Breksi

Sekitar 30 menit perjalanan bus dari Prambanan, tiba di Tebing Breksi, Desa Sambirejo, persisnya sekitar 15 km dari pusat Kota Yogyakarta. Kawasan perbukitan batu vulkanik ini adalah sisa Gunung Purba Nglanggerah. Tiga tahun lalu Breksi diresmikan sebagai objek wisata terbaru. Sebelumnya bebatuan Breksi ditambang oleh warga desa untuk bahan bangunan dan kerajinan tangan.

 

Secara umum Breksi tampaknya masih dalam tahap pembenahan, namun sudah hits. Panorama alam yang disuguhkan memang sangat memesona. Di kejauhan arah utara kelihatan keperkasaan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Candi Prambanan pun masih tampak dari puncak tebing. Pada salah satu dinding tebing ada ukiran dua tokoh pewayangan yang sedang bertarung. Di bagian depannya ada ukiran lagi, sesosok ular naga raksasa yang sedang menuruni tebing. Kawan-kawan langsung melahap pesona geowisata itu dengan berswafoto sepuasnya.

Mas Paijo, seorang relawan “Lowo Ijo” (kelompok pengelola) menyebutkan, Breksi kerap didatangi para fotografer untuk mengabadikan momen sunrise dan sunset. Di area itu juga dibangun kios-kios jajanan makanan dan minuman. Ada juga paket wisata yang ditawarkan, yakni offroad jip ke Candi Ijo dan Candi Boko dengan rute sepanjang 2,5 km.

Sayangnya jelajah Breksi hanya sampai pukul 16.30 WIB. Selamat tinggal Breksi. Mungkin dua tahun lagi tempat itu menjadi objek wisata yang juga mendunia.

* Ada Kopi yang Membara

Usai dinner di restoran hotel tempat menginap, saatnya “hang out” di Yogyakarta. Menjelajah di keramaian di sepanjang Jalan Malioboro yang iconic.
Eksplor diawali dengan menyusuri jalan menggunakan andong (kereta kuda), satu moda transportasi tradisional yang masih awet dipertahankan. Rutenya Hotel Ibis ke Alun-alun Utara. Lalu balik arah dengan berjalan kaki.

Kota batik ini sangat hidup saat malam hari. Menyusuri Malioboro mengingatkan kita akan lagu “Yogyakarta” milik band Kla Project. Penggalan liriknya “Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna… Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera. Orang duduk bersila. Musisi jalanan mulai beraksi…”.

Malioboro memang keren. Usai berburu souvernir kain batik dan miniatur unik, nongkrong di salah satu lesehan kaki lima yang berjejer di satu sisi jalan. Untuk minuman kupesan kopi.

“Monggo Mas, silahkan dicobain, ini Kopi Joss namanya, khas Yogya,” tutur seorang pemuda pelayannya.

Kopi Joss sudah menjadi minuman khas kota gudeg. Meskipun kopi seperti ini ada juga di daerah lain Indonesia. Penyajiannya membuat alis mata naik. Setelah bubuk kopi diseduh air mendidih, lalu sepotong arang yang sedang membara diambil dari tungku dan langsung dicelupkan ke dalam gelasnya. Sesaat itu juga terjadi reaksi, muncul kepulan asap, letupan dan gelembung kecil hingga bara arangnya padam. Kopi pun siap disajikan.

Para penikmat kopi ini meyakini bara arang akan menjadi karbon aktif yang menyerap racun di dalam tubuh peminumnya, lalu dibuang melalui saluran pencernaan. Katanya kopi ini juga berkhasiat mengobati perut kembung, panas dalam dan masuk angin.

“Tapi arangnya tidak bisa dari semua kayu. Ada namanya kayu sambi. Kalau pakai kayu lain itu rasanya jadi gak enak,” jawab si Mas baristanya.

Diseruput rasanya nikmat. Aroma kopinya tidak berubah. Bolehlah tambah segelas lagi. Tapi ingat kumur-kumur pakai air putih, siapa tahu ada serbuk arang yang menempel di gigi. Suasana malam itu bikin betah duduk hingga jam kecil. Ditemani alunan lagu-lagu lawas yang dimainkan musisi jalanan. Malioboro memang joss!

* Hari ketiga

Keesokan harinya sekitar pukul 10.00 WIB tiba di Candi Borobudur, Jalan Badrawati, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Letaknya sekitar 50 km ke arah utara Kota Yogyakarta. Jujur saja, ini juga kesempatan pertamaku ke Borobudur. Candi Buddha terbesar di dunia tersebut ditetapkan UNESCO sebagai situs cagar budaya keajaiban dunia pada tahun 1991.

Sekilas, catatan sejarah menyebutkan Borobudur selesai dibangun pada abad ke-8 Masehi di masa kejayaan wangsa Syailendra. Sempat ditinggalkan pada abad ke-14, hingga ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh seorang bangsawan Inggris Sir Thomas Stamford Raffles.

Candi ini memiliki ribuan panel relief di dinding piramida berundak yang disusun dari batu-batu andesit yang saling mengunci. Diantaranya relief Buddha. Terdapat pula ratusan arca Buddha dan puluhan stupa. Stupa terbesar terletak di tengah yang menjadi mahkota dari candi pemujaan kemuliaan Buddha. Setiap bagian dari Borobudur mengandung makna religi yang suci.

Rasanya tidak cukup kata untuk menggambarkan kekaguman akan arsitektur candi seajaib ini. Borobudur yang spektakuler memang patut dilestarikan hingga seribu tahun lagi.

* Menaklukkan Sungai Elo

Puas menapaki sudut-sudut Candi Borobudur selama dua jam. Selanjutnya seru-seruan di Sungai Elo. Waktu tempuh bus ke sana hanya 30 menit. Tiba di basecamp CitrElo Rafting, salah satu dari puluhan operator arung jeram yang ada di Magelang.

Ulik-ulik sedikit, arung jeram pertama kali ditemukan di sungai Colorado, Amerika Serikat pasca Perang Dunia II dengan menggunakan batang pohon. Di Indonesia sendiri, rafting mulai dikenal pada era 1970-an yang dipelopori oleh para pecinta alam asal Jakarta dan Bandung.

20 unit perahu karet sudah disiapkan untuk rombongan. Paketnya leisure atau family trip sepanjang 12,5 km dengan waktu arung 2-3 jam. Trip ini untuk kelas pemula. Tingkat kederasan arusnya low. Jadi aman. Tetapi yang membuat seru, banyak perserta yang baru pertama kali menjajal jenis olahraga petualangan alam ini. Tentu ada sedikit rasa was-was. Untung saja si Mas (lupa namanya) instruktur/pemandunya menjelaskan prosedur pengarungan dengan gaya bahasa yang kocak. Dia cocok menjadi seorang stand up komedian. Namun guyonannya itu menguatkan rasa percaya diri sekaligus memicu adrenalin.

Dengan kekompakan tim saat mendayung, spot-spot arus yang mengguncang perahu berhasil dilewati. Pemandangan alam di sepanjang jalur cukup memanjakan mata. Tantangan Sungai Elo berhasil ditaklukkan.

* Aroma Khas Tembakau

Hari keempat merupakan puncak kegiatan. Berangkat dari Hotel Ciputra Kota Semarang, bus rombongan tiba di pabrik Sigaret Kretek Tangan (SKT) Karangbenar, Kecamatan Bae, Kudus milik PT Djarum, sekitar pukul 09.00 WIB. Sesaat memasuki gedung pabrik, aroma khas tembakau dan cengkehnya terasa merebak.

Ada 26 unit pabrik SKT milik PT Djarum yang tersebar di Kabupaten Kudus, Pati dan Jepara. Karangbenar yang terbesar dengan kapasitas 4.500 pekerja, umumnya perempuan. Seluruh SKT yang ada mempekerjakan sekitar 70 ribuan orang. PT Djarum sendiri memang sengaja mempertahankan pabrik padat karya tersebut.

Untuk upah yang diberikan per 1.000 batang sebesar Rp18.200 bagi pembatil (pelinting) dan Rp14.200 bagi rekannya yang merapikan. Rata-rata setiap pasangan pembatil dapat melinting 3.000 batang selama 7 jam kerja sehari.

Selain dibebaskan jepret-jepret dan berdialog langsung dengan mandor dan para pekerja di SKT Karangbenar, kami juga ditantang lomba melinting rokok secara tradisional itu. Meski menggunakan perangkat pelintingan dari kayu, tapi tetap saja gampang-gampang susah. Sebab selain kecepatan tangan, membatil memerlukan ketelitian dan keterampilan terlatih agar komposisi, ukuran dan kerapian setiap batang rokok yang dihasilkan benar-benar sesuai spesifikasi yang telah ditentukan.

Tak jauh dari SKT Karangbenar, kami bertolak ke pabrik Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang disebut area Taman Oasis. Pabrik ini berkonsep green factory. Di dalamnya terdapat 25 unit mesin pelinting rokok otomatis berteknologi canggih. Mesin-mesin itu beroperasi non stop 24 jam. Masing-masing mesin buatan Jerman itu dapat memproduksi 15.000 batang rokok per menit dengan kualitas terbaik.

Usai mengitari area pabrik SKM, selanjutnya Tari Kretek menyambut di teras office untuk jamuan makan siang. Tarian yang diperankan oleh para perempuan pembatil dan mandornya itu menggambarkan setiap proses produksi rokok kretek tangan yang merupakan produk andalan Djarum.

* Wujud Program CSR

Dari Oasis, kita diajak melihat langsung wujud nyata program CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan. Program ini digawangi oleh Djarum Foundation dengan motto “Bakti Pada Negeri”. Diantaranya bakti sosial, olahraga, pendidikan, budaya dan lingkungan. Di kesempatan kali ini mengunjungi RUS Animation Studio SMK Raden Umar Said dan GOR Jati PB Djarum di Kudus.

Setelah mendengar paparan profil dan prestasi sekolah yang hebat dari Primadi H Serad selaku Program Director Djarum Foundation Bakti Pendidikan, memasuki gedung studio membuka cakrawala berpikir akan bagaimana selayaknya tempat belajar modern jaman now. Di studio ini tersedia perangkat-perangkat canggih untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran ilmu grafika, desain komunikasi visual, animasi, rekayasa perangkat lunak, hingga fotografi. Setiap ruang belajarnya didesain artistik, imajinatif, dan sangat nyaman. Tak heran jika siswanya betah berlama-lama belajar.

Primadi H Serad menyebutkan, SMK Animasi Raden Umar Said memiliki kurikulum khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan sebagaimana praktek bekerja di lapangan. Karena itu semua fasilitas diserupakan dengan yang ada di dunia kerja profesional nantinya. Standar kompetensi itu terbukti dengan banyaknya jebolan SMK Animasi yang handal telah bekerja di perusahaan-perusahaan ternama di dunia.

Djarum Foundation sendiri mengucurkan dana bakti pendidikan sebesar Rp35 miliar untuk program SMK Animasi tersebut. Siswa berasal dari daerah setempat dan memang diutamakan dari golongan keluarga ekonomi tidak mampu. Sekarang SMK Animasi sendiri telah mampu menghasilkan income dari berbagai project pesanan yang digarap.

Sebenarnya masih ingin berlama-lama di dalam studio yang keren itu. Tetapi waktu terbatas. Selanjutnya menuju Gedung Olahraga (GOR) Jati PB Djarum. PB Djarum memang telah banyak berkontribusi bagi gemilangnya prestasi bulutangkis Indonesia di pentas dunia sejak era 1970 hingga saat ini. Ingat nama-nama besar seperti Alan Budi Kusuma, Harianto Arby, Antonius Budi Arianto, Minarti Timur, Ardy B Wiranata, Denny Kantono, Budi Santoso, Eddy Hartono, Liem Swie King, Rudi Gunawan, Zelin Resiana, dan Yuliani Sentosa?
Mereka adalah para juara bulutangkis dunia jebolan PB Djarum.

GOR Jati sendiri diresmikan pada tahun 2006. Terletak di atas lahan seluas 43.200 m². Memiliki 16 lapangan bulutangkis, serta asrama bagi para atlet binaan. Di GOR dengan fasilitas latihan terbaik di Asia inilah para atlet dilatih sejak dini. Atletnya hasil seleksi jalur pencarian bakat dan kejuaraan dari seluruh wilayah Indonesia. Saat ini sedikitnya ada 194 pemain binaan PB Djarum.

Setelah sesi tanya jawab, kami diperkenankan uji bermain dengan dua atlet binaan usia dini yang sedang berlatih. Bayangkan, untuk meraih 1 poin saja sangat sulit. Padahal atlet yang dilawan masih anak-anak. Memang pantaslah mereka sebagai calon-calon pebulutangkis kelas dunia.

 

* Terlalu Manis Untuk Dilupakan

GOR Jati menjadi tempat terakhir yang dikunjungi sebelum acara penutupan sambil makan malam di Restoran Istana Semarang. Sesi penutupan ini bertabur hadiah menarik dari lomba foto dan kuis gokil yang diberikan pembawa acaranya.

Setiap momentum dalam “penyanderaan” gathering ini begitu berkesan. Berkenalan, berbaur dan bersendau gurau dengan rekan-rekan dari berbagai daerah. Mendapat pengayaan wawasan dan pengalaman dari setiap tempat yang dikunjungi. Lagu pamungkas “Terlalu Manis” milik Slank memang sangat tepat untuk menggambarkan perasaan diantara kami. Besok kami kembali ke tempat asal masing-masing. Namun perpisahan itu bukanlah sebuah akhir.

Sebagai perusahaan bonafit yang telah berdiri selama 67 tahun, PT Djarum Tbk telah mewujudkan banyak impian anak bangsa. Melestarikan budaya dan lingkungan kehidupan di bumi. Menopang kesejahteraan rakyat Indonesia. Semua itu adalah bukti kesungguhan dedikasi membangun negeri. Terimakasih Djarum. (mora)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *