oleh

Inflasi Terkendali dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Cukup Baik

Sibolga – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menggelar diskusi publik bertema Outlook Perekonomian Indonesia, Perkembangan Ekonomi Regional dan Kebijakan Bank Indonesia, di Graha Aulia Bank Indonesia Sibolga, Jumat 7 September 2018.

Diskusi dipandu Kepala Kantor Perwakilan BI Sibolga Suti Masniari Nasution dihadiri Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk, Bupati Tapsel Syahrul M Pasaribu, serta para pimpinan perbankan Tapanuli dan Nias.

Dalam paparannya Mirza mengungkapkan inflasi hingga bulan Juli 2018 terkendali sesuai sasaran nasional yakni 3,5% ± 1% (yoy). Inflasi tahun ini bisa dikendalikan tidak terlampau naik dan juga tidak terlampau turun.

Pertanyaan yang sering timbul kenapa terjadi inflasi? Inflasi terjadi karena kebutuhan meningkat sementara produksi dan ketersediaannya terbatas. Penyebabnya bisa saja karena produksi yang kurang atau distribusinya bermasalah.

“Nah agar tidak terjadi inflasi yang cukup besar, antara produksi dan distribusi harus bagus. Karena inflasi ini juga bisa memengaruhi stabilitas rupiah,”ungkapnya.

Berdasarkan hasil analisis Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua 2018 mencapai 5,27%, pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak tahun 2014.

Inflasi pun masih terkendali di angka 3,5% ± 1% (yoy). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga cukup baik.

“Diminta kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh dengan informasi yang beredar di media sosial yang menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia gagal dan lain sebagainya,” ujar Mirza.

Terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, menurut Mirza bukan hanya Indonesia yang mengalaminya.

Kebijakan trade war yang dipicu Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap mitra dagang utama mereka seperti Tiongkok, Uni Eropa, Meksiko dan Kanada, dengan cara menaikkan tarif impor barang barang dari negara-negara tersebut membuat sejumlah negara merasakan dampak melemahnya nilai tukar mata uangnya.

Turki adalah salah satunya. Inflasi yang hampir mencapai 18%, dan utang luar negeri yang mencapai 53% dari total GDP menyebabkan tekanan depresiasi terhadap mata uang Lira, yang per 31 Agustus kemarin mencapai 42%.

Selain Turki, Argentina juga mengalami krisis cukup parah. Mata uang Peso terdepresiasi sebesar 53% dan tingkat inflasinya mencapai 28%. Hal itu memaksa bank sentral mereka untuk menaikkan suku bunga menjadi 60% dan meminta talangan IMF sebesar USD50 miliar.

Selain Turki dan Argentina, negara-negara berkembang lain yang mengalami depresiasi signifikan per 31 Agustus antara lain, Afrika Selatan (15,8%), Rusia (15,5%), India (9,9%), Chili (9,3%), Philipina (6,7%), dan Indonesia (7,8%).

Diakui Mirza, situasi yang terjadi saat ini terutama pelemahan nilai tukar rupiah ke dolar Amerika dimanfaatkan orang-orang tertentu, sehingga negara diasumsikan akan krisis seperti peristiwa tahun 1998.

“Melalui diskusi ini, saya tegaskan bahwa kondisi ekonomi bangsa kita aman dan pertumbuhannya masih baik,” tegasnya.

Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk dan Bupati Tapsel Syahrul M Pasaribu meminta kepada Bank Indonesia agar memyampaikan kepada pemerintah pusat tentang konsistensi pemerintah. Karena kebijakan dari pusat sangat berdampak kepada pemerintah yang ada di daerah.

“Saat ini harga sawit anjlok, demikian juga dengan karet, ditambah lagi kebijakan Menteri Kelautan Susi yang melarang pukat trawl beropersi, sementara alat pengganti pukat trawl belum diberikan hingga saat ini,” kata kedua kepala daerah itu bergantian. (SNT)

Komentar