oleh

Pluralisme dalam Sepiring Nasi

MEREKA akrab duduk bersila. Sesekali tertawa lepas. Bersendau gurau. Sebentar, makanan telah dihidangkan di tikar yang digelar di lantai ruang tamu. Lauknya ikan bakar. Sambal goreng, sayur berkuah santan, dan ikan asin melengkapinya.

Siang itu, Wakil Ketua DPRD Kota Sibolga Jamil Zeb Tumori kembali menghadiri undangan makan dari seorang ibu rumah tangga bernama Sutresni (36), di rumahnya di Kelurahan Aek Muara Pinang, Kecamatan Sibolga Selatan, Rabu 10 Oktober 2018 siang.

Undangan serupa kerap datang. Baru-baru ini, dari seorang ibu rumahtangga, Rebecca Sitinjak di Kelurahan Aek Muara Pinang, Kecamatan Sibolga Selatan.

Juga ada dari keluarga Agus (20), seorang pemuda korban perdagangan manusia yang sempat ditahan di penjara Kajang, Malaysia. Rumahnya di Gang Kenanga, Kelurahan Simaremare, Kecamatan Sibolga Utara.

Kemudian, dari Ibu Merry, salah satu warga Rusunawa Sibolga di Kelurahan Aek Manis, Kecamatan Sibolga Selatan.

Begitu pun dari keluarga Pak Lase warga Kelurahan Pancuran Kerambil, Kecamatan Sibolga Sambas.

Totalnya sudah ada puluhan undangan. Semua tak diduga-duga. Bukan settingan. Mengalir begitu saja. Meski sekedar jamuan biasa ala rumahan, tapi nilai silaturahminya sangat tinggi. Sebab niatnya lahir dari hati rakyat jelata.

Justru awalnya keluarga pengundang itu yang ragu-ragu. Benarkah seorang pimpinan legislatif mau makan di rumah kami?

“Saya ditelepon warga. Katanya dia ingin berterimakasih dengan mengajak saya makan. Ya sudah, biar gak bikin repot, saya yang datang ke rumah bapak atau ibu,” kata Jamil Zeb Tumori.

Mengingat si pengundang orang-orang kecil, Jamil tidak mengajak banyak orang. Paling banyak 5 orang. Agar tidak malah membebani. Menu yang disajikan pun diharapkan sebagaimana makanan sehari-hari di rumah itu. Apa adanya saja.

Kenapa warga senang mengundangnya?

Dia memang dikenal sosok yang suka menolong rakyat yang tertindas dan kesusahan. Wajarlah kalau dia menuai budi yang ditaburnya.

Selain peka terhadap isu-isu kemiskinan, bencana, pembangunan, sosial, pendidikan, kesehatan di lapangan, kantor dan rumahnya pun sering didatangi warga pencari bantuan.

Mulai dari warga yang tidak kebagian beras miskin, gas elpiji bersubsidi langka, orang miskin sakit parah butuh bantuan segera, atau yang di-PHK sepihak. Tak puas dengan program bantuan dan pelayanan pemerintah, masalah nelayan, buruh, maupun administrasi kependudukan. Dan berbagai persoalan pelik lainnya yang dialami warga.

“Saya itu lahir dan besar dalam keluarga orang yang benar-benar susah. Karena itulah bagi saya menolong orang itu sudah semacam panggilan jiwa. Jangan pandang latar belakangnya. Itu yang mengundang makan banyak yang beragama Kristen. Jadi mau apa agamanya, sukunya, pekerjaannya, kenal atau tak kenal pun, bantu saja semampu kita,” tuturnya.

Tetap ada konsekwensinya. Kadang muncul pro kontra. Ada kalanya pula berbenturan dengan pihak-pihak lain yang kemudian merasa terusik. Jamil dianggap usil, mendahului, suka mencampuri urusan orang, maupun dinilai pencitraan.

Tetapi faktanya banyak alasan yang membuat warga ingin mengundang Jamil ke rumahnya. Selain bentuk ungkapan terimakasih, mereka lebih leluasa menyampaikan keluh kesahnya. Banyak pula yang karena rasa simpati dan empati.

“Ya, kami ingin berterimakasih. Waktu itu Pak Jamil saya telepon. Ada tetangga saya yang meninggal dunia, butuh mobil untuk membawa jenazahnya ke kampung. Pak Jamil langsung cepat respon dengan mengirimkan mobil ambulans,” kata Rebecca Sitinjak, salah seorang pengundang.

Dari pintu ke pintu Jamil terus melangkah. Baginya, melihat kehadirannya menjadi sukacita di tengah keluarga pengundang, itu sudah cukup.

Kalau hitungan-hitungan politis sasarannya memang kecil. Yang menjamu hanya satu keluarga saja. Tetapi sangat efektif dan kondusif. Bukan bermain politik uang yang menjadi jurus andalan banyak politikus di negeri ini.

Jamil Zeb Tumori adalah seorang politisi yang berhasil menciptakan model komunikasi politik baru antara wakil rakyat dengan rakyatnya. Dia membalikkan arah, dari atas turun langsung ke bawah. Dia menolak prinsip ekslusifitas.

Dengan nasi aspiratif. Langsung dari dapur kaum marginal. Dimasak pakai nyala api bahagia. Berbumbu ketulusan hati dari seorang ibu di rumah sendiri. Dalam syukur disajikan kepada tamu istimewa.

Setiap suapnya telah merajut hubungan emosional yang kuat membentuk militansi sejati. Terikat tali kekeluargaan dalam kerangka keberagaman. (snt)

 

(Catatan: Marihot Simamora)

Komentar