Dampak COVID-19, Harga Cabai di Humbahas ‘Down’

  • Whatsapp
FOTO: Tanaman Tomat.

SmartNews, Tapanuli – Dampak dari penyebaran wabah Corona Virus Disease-19 (COVID-19) di sejumlah daerah, harga jual hasil pertanian terus melemah hingga posisi anjlok. Akibatnya para petani tak jarang mengeluh dan menjerit karena harga jual hasil pertanian jauh di bawah modal.

Lasmi Silaban (43), agen cabai merah di pasar rakyat Dolok Sanggul, kepada wartawan, Jumat (17/4/2020) mengatakan, bahwa cabe merah terus merosot hingga down di posisi Rp 10 ribu-Rp12 ribu per Kg dalam satu bulan terakhir.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, katanya, harga jual tanaman primadona itu sempat bertengger di posisi Rp 37 ribu/kg. Namun seiring merebaknya wabah viris corona harga jual pelengkap bumbu dapur tersebut merosot, sehingga para petani tak jarang mengeluh bahkan menjerit.

Selain cabai merah, katanya, cabai rawit juga mengalami nasib yang sama. Di mana harga pasarnya berada di posisi Rp 6 ribu sampai dengan Rp 8 ribu per Kg.

Tidak hanya cabai, harga tomat adalah paling anjlok. Saat ini daya beli tomat untuk tauke Rp 2 ribu per Kg.

Rendahnya harga jual tomat dapat dipastikan bahwa perawatan tomat meradang. Sebab biaya perawatan jauh lebih tinggi dibandingna harga jual.

“Mengingat harga tomat saat ini, para petani sudah enggan merawat tanaman tomat yang sedang memasuki masa panen. Karena akan menambah kerugian bagi para petani,” ujarnya.

Terpisah, Anton Siregar (46), agen cabai merah dan sayur mayur di pasar rakyat Dolok Sanggul mengakui bahwa hampir semua harga jual pertanian di daerah itu merosot dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Katanya yang melegakan hanya harga jual kubis (sayur kol) dan kentang. Saat ini harga jual kubis Rp 1600-2000 per Kg. Sementara harga jual kentang Rp 6 ribu-8 ribu per Kg.

Jika wabah Corona masih berlanjut, Anton memprediksi bahwa harga jual hasil pertanian akan terus merosot dan akan sangat berdampak terhadap ekonomi petani. Sebab atas wabah itu, pemerintah dan mitra pemerintah akan terus berupaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan memberlakukan lockdown terbatas atau social distancing yang tentunya membatasi ruang gerak sosial masyarakat.

Sementara itu, Rudi Silaban (30) warga Lintongnihuta, mengaku sangat merugi atas isu wabah virus corona yang tak berkesudahan.

“Dimana-mana yang dibahas isu corona. Semua jadi terdampak. Semua menjerit tak terkecuali petani dengan harga jual hasil pertanian yang rendah,” katanya.

Atas wabah COVID-19 ini, Rudi hanya bisa pasrah dan berharap pemerintah peduli dengan nasib. “Kita hanya bisa pasrah dan menerima kenyataan. Namun dibalik itu, kita juga berharap pemeritah peduli nasib petani sehingga para petani tidak semakin terpuruk,” tandasnya. (snt)

 

Editor: Arif Tri Pujasakti
Laporan: Andy Siregar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *