Bantuan Bibit Bawang Merah Diduga Berjamur, Petani Humbahas Mengeluh

  • Whatsapp
FOTO: Bibit Bawang Merah Diduga Sudah Berjamur. (Foto: and)

SmartNews, Tapanuli – Petani di Desa Onan Ganjang, Kecamatan Onan Ganjang, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) mengeluhkan bantuan bibit bawang merah yang diduga sudah terpapar spora (jamur tepung puting) dan tidak layak untuk ditanam.

Bibit bawang merah yang direncanakan sebanyak 50.5 ton dengan pagu senilai Rp 1.9 miliar bersumber dari anggaran refocusing itu sudah mendapat persetujuan dari TGP2C19 dan ditujukan untuk membantu perekonomian masyarakat petani yang terdampak COVID-19, di samping penguatan ketahanan pangan.

Bacaan Lainnya

“Bagaimana kami menanam ini. Kami terima bibit sudah berjamur. Dipencet saja udah lumer. Bibit bawang ini sangat lembek. Sekali lagi, kami yakin ini sudah berjamur. Jika tanaman gagal, kami petani ini juga yang disalahkan. Berbagai macam cibiran bagi kami nantinya bila tanaman bawang merah ini gagal panen dan memang dari bibit ini sudah jelas sangat tidak layak untuk ditanam. Jadi sebelum penanaman dimulai yang pasti ancaman gagal panen sudah didepa mata. Ini buah simalakama bagi kami,” kata petani di Desa tadi yang enggan menyebut namanya karena berimbas dikooptasi dan mengaku menerima bibit tersebut pada Selasa (9/6/2020).

Namun Liber Marbun selaku Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Onan Ganjang mengaku belum menerima laporan dari masyarakat atas bibit bawang merah yang berjamur itu.

“Baru pekan lalu bibit itu dibagikan dan sampai saat ini kita belum ada menerima laporan dan masyarakat petani terkait bibit yang berjamur itu. Nantilah kita cek dulu,” katanya, Senin (15/6/2020).

Terpisah, Yonefa Habeahan, Kabid Ketahanan Pangan dan Holtikultura sekaligus Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) mengatakan, pihaknya belum menerima adanya bibit bawang merah yang berjamur.

“Mungkin itu tepung kaliumnya. Coba dibawa dulu samplenya ke dinas agar kita teliti apakah itu jamur atau yang lain. Kita punya tim untuk meneliti itu,” katanya.

Ditanya apakah busuk yang diakibatkan oleh jamur tidak bisa merusak bibit, Yonefa berkutat bahwa jika dinding terluar yang busuk bibit itu masih bisa ditanam.

“Karena yang bakal jadi umbi adalah bagian dalam, bagian luar nantinya akan menjadi makanan selama proses tanam berlangsung. Tapi kami harus teliti dululah samplenya untuk lebih baik. Namun jika busuk akar memang tidak layak tanam,” tukasnya sambil menekankan pihaknya belum menerima laporan bibit busuk dari petani penerima bantuan bibit.

Praktisi pertanian Budi Sigaringging dimintai pendapatnya terkait bibit bawang yang diduga sudah berjamur tadi mengatakan bahwa secara fisik bibit tadi sudah berjamur.

“Bibit bawang ini sudah busuk akibat jamur. Penyebabnya karena terlalu lembab atau basah pada waktu penyimpanan. Bibit ini tidak bisa dipakai lagi,” ulasnya.

Ditanya tentang penyebaran jamur, karena pengiriman dari Brebes dimungkinkan 3-5 hari sehingga kemasan lain juga terpapar meskipun belum menunjukkan gejala mencuatnya spora atau tepung putih, Budi berpendapat alasan itu bisa jadi dan sangat dimungkinkan.

“Bisa jadi yang lain juga sudah terpapar. Kemungkinan juga sudah semua bibit itu terpapar apalagi bila satu tempat. Sebab penularan jamur sangat cepat melalui spora (tepung putih). Artinya meskipun belum menunjukkan spora tetapi semua bibit bisa saja sudah terpapar jamur tadi,” pungkasnya. (and)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *