Mahasiswa STP Sibolga Buka Suara Soal Dana Bidik Misi

  • Whatsapp
Mahasiswa STP Sibolga saat Memberikan Keterangan Soal Dana Bididk Misi kepada wartawan. (Foto: dok_snt)
Mahasiswa STP Sibolga saat Memberikan Keterangan Soal Dana Bididk Misi kepada wartawan. (Foto: dok_snt)

SNT, Sibolga – Empat puluhan mahasiswa penerima beasiswa (bidik misi) Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Sibolga menyatakan protes dan keberatan tentang pemberitaan yang menyebut bahwa mereka tidak pernah menerima manfaat dana bidik misi.

“Kami tidak terima dengan isi pemberitaan tersebut. Karena kami sekolah di sini dibiayai program bidik misi, dan selama ini tidak ada masalah. Seperti berita kemarin, jujur kami sangat menyayangkan kalau mahasiswa dinyatakan tidak menerima satu sen pun,” kata Siti Purnama, mewakili mahasiswa kepada wartawan di kampus STPS, Senin (5/7/2021).

Bacaan Lainnya

Siti Purnama menjelaskan, program bidik misi yang diberikan kepada mahasiswa di antaranya, uang kuliah Rp2,4 juta per semester, ditambah biaya hidup Rp600.000 per bulan, sehingga totalnya Rp4,2 juta per semester.

Mahasiswa angkatan 19 itu juga menuturkan, program bidik misi tersebut sangat bermanfaat bagi mereka. Bukan hanya biaya pendidikan saja yang diberikan, tetapi biaya tak terduga juga ditanggung.

“Beberapa waktu lalu saya ikut program MBKM (merdeka belajar kampus merdeka), kami bahkan dikasih ongkos dan biaya hidup. Sementara teman kami yang tidak menerima bidik misi, harus membayar Rp650.000,” terang dia.

Mahasiswi yang lain menimpali, tidak mudah memperoleh beasiswa (bidik misi). Syaratnya sulit karena harus memiliki IPK 3,25 dan itu harus tetap dipertahankan. Kalau tidak, maka beasiswa-nya tidak bakal dicairkan.

“Jadi, soal buku tabungan kami, itu memang sengaja kami titip ke kampus agar tidak disalahgunakan. 41 mahasiswa penerima bidik misi, semua buku tabungannya di titip di sekolah, uang yang masuk kami juga mengetahui,” katanya.

Mahasiswa lainnya juga menjelaskan, bahwa dana sebesar Rp4,2 juta per semester tersebut, untuk uang kuliah langsung ke rekening kampus. Sedangkan untuk uang saku ke rekening pribadi.

“Kakak senior kami itu salah besar, karena mereka itu juga sudah menikmatinya, mulai dari biaya uniform, biaya kuliah, Bela Negara, pra PKL dan field trip juga,” ketusnya.

Sang Dosen Bukan Dipecat

Sementara itu, Ketua STPS, Lucien Pahala Sitanggang menuturkan, dia sangat dekat dan akrab dengan Januar Siregar.

Sebenarnya Januar Siregar bukan dipecat oleh yayasan sebagai dosen, melainkan diberhentikan.

“Diberhentikan, bukan dipecat. Artinya, suatu saat bila dibutuhkan si dosen itu bisa mengajar lagi. Saya sangat menyesalkan berita itu. Tetapi saya tidak ingin berdelik dengan berita itu. Silakan diselesaikan dengan mahasiswa, karena saya juga tidak tahu apa respon mahasiswa,” kata Lucien.

Dijelaskan, alangkah eloknya kalau setiap permasalahan itu memang dihadapkan dengan fakta, bukan dengan kepentingan.

“Itu berita bohong, apalagi berkorelasi dengan pemecatan. Jadi kesannya enak sekali beliau dipecat karena mengungkap, itu tidak ada sama sekali. Saya tidak pernah mencari masalah dengan orang, kalau boleh saya membantu orang banyak,” ungkap Lucien.

Terkait program bidik misi, kalau di STP Sibolga, program bidik misi itu adalah bentuk kuota yang diperoleh dari prestasi perguruan tinggi, jadi bukan prestasi individu mahasiswa.

“Sebenarnya saya tidak perlu menjelaskan apa-apa, karena program bidik misi ini juknisnya sudah ada, dan kami semua perguruan tinggi swasta sudah didiklatkan,” katanya.

Demikian terkait penerima bidik misi, pihaknya hanya bertugas mempertanggungjawabkan hubungan antara STP Sibolga dengan Dikti, bukan dengan perorangan, bukan juga dengan lembaga yang bermitra dengan STP Sibolga.

Lucien juga menyayangkan kenapa tidak mahasiswa yang dikonfirmasi, karena mereka yang kena dampak bidik misi, sementra pihaknya hanya penerima dampak institusi.

“Jadi kalau teknis internal, seyogianya dibahas secara internal. Kalau soal propaganda data, kita sudah sampaikan kepada mahasiswa, dan saya tidak mau memkonfrontasi atau menjawab apa yang dinyatakan di publik karena itu sangat jauh dari kebenaran,” terang Lucien.

Menurutnya, prestasi STP Sibolga dalam 4 tahun terakhir ini luar biasa. Kalau bukan karena COVID-19, STP Sibolga sudah re-akreditasi.

“Walau dana di STP Sibolga ini sangat terbatas, tapi pelayanan kami cukup maksimal dan itu silakan dengar jangan dari mulut saya,” ucap dia.

Dari kejadian ini, pihaknya berharap tolonglah mahasiswa STP Sibolga. Karena ada pemberitaan yang tidak baik, walaupun itu hoaks, Dikti akan dengan cerdas memberhentikan mahasiswa.

“Korbannya akan jadi banyak hanya gara-gara kepentingan segelintir orang. Pernah gak Pak Januar ini bertemu dengan mahasiswa langsung sebelum itu dipublis. Tahu gak mahasiswa itu ada SK penerima bidik misi. Jangan-jangan yang ngomong ini bukan penerima,” katanya.

“Pernah gak mekanismenya ditanya Pak Januar? Karena dia bukan administrator. Syarat penerima bidik misi itu IPK 3,25. Kalau tidak mencapai IPK 3,25 ketemu dengan PK 1 dan bukan ketemu dengan saya,” timpalnya.

Jadi memang, mahasiswa penerima bidik misi itu harus diawasi. Ingat pak pesan Presiden Jokowi, bahwa bantuan ini untuk mencerdaskan orang, bukan untuk menolong orang yang miskin dan bodoh.

“Kalau ada angkatan 15 tidak menerima bidik misi, harusnya dari dulu mereka sudah datang. Kenapa harus sekarang ini dan jadi berita negatif. Saya berharap dibantulah mahasiswa itu, katakan yang sebenarnya,” pungkas Lucien. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *