Ada ‘Mangongkal Holi’ di Film “Tulang Belulang Tulang” yang Mulai Syuting 

IMG 20230510 WA0019

Foto: Media gathering syuting perdana film “Tulang Belulang Tulang” di Coffee Hotel Ayola Dolok Sanggul, Kabupaten Humbahas, Sumatera Utara, Selasa (9/5/2023). 

DOLOKSANGGUL – Media gathering syuting perdana film “Tulang Belulang Tulang” dilaksanakan di Coffee Hotel Ayola Dolok Sanggul, Kabupaten Humbahas, Sumatera Utara, Selasa (9/5/2023). Film komedi itu mulai diproduksi pada awal bulan Mei 2023.

“Tulang Belulang Tulang” merupakan film karya Sammaria Sari Simanjuntak dan Lies Nanci Supangkat yang diproduksi oleh Adhya Pictures dan Pomp Films, serta didukung oleh Direktorat Perfilman, Musik dan Media, Direktorat Jenderal Kebudayaan dan Kemendikbudristek RI.

Sammaria Sari Simanjuntak menjelaskan, film memiliki cerita menarik tentang budaya adat istiadat suku Batak yang disebut “mangongkal holi”. Adat ini merupakan upacara membongkar kembali makam leluhur untuk mengumpulkan sisa-sisa tulang belulangnya dan memindahkannya ke sebuah bangunan berupa tugu (simin).

“Saya Batak yang lahir di Bandung. Ide film ini terinspirasi dari kejadian sehari-hari di keluarga kami. Saya melihat budaya “mangongkal holi”. Sebenarnya sisi baiknya sangat banyak sekali, mempererat ikatan kekeluargaan, mengenal kampung halaman dan betapa indahnya Danau Toba,” jelas Sammaria Sari Simanjuntak.

Dan sisi lain, masih Sammaria, ada yang memberatkan juga karena upacara ini adalah merupakan kebanggaan keluarga, sehingga upacara itu mesti berusaha dilaksanakan secara besar.

“Karenya kadang-kadang saya melihat hilangnya esensinya atau makna yang indah sebenarnya dari “mangongkal holi” itu,” tambah Sammaria.

Sammaria Sari juga menjelaskan bahwa film itu untuk mengingatkan kembali bahwa membuat tugu adalah sebuah usaha membuat untuk diingat orang atau dan tidak dilupakan. Namun menurutnya hal yang paling penting adalah apa yang kita ingat.

“Sebenarnya membuat tugu itu adalah usaha kita untuk diingat orang, biar kita tidak dilupakan. Tapi yang paling penting sebenarnya adalah apa yang kita ingat,” kilahnya.

Dalam film panjang tersebut terdapat pesan bahwa  kekeluargaan itulah esensi yang sebenarnya dari adat “mangongkal holi” tersebut.

Senada, Adhya Picture selaku partner produksi menuturkan alasan mereka dalam memproduksi film ini. Menurutnya ide cerita film ini sangat menarik. Sebuah drama komedi keluarga yang sarat dengan pesan moral dan muatan lokal. Tidak menggurui, namun sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari karena kemasannya yang ringan.

“Kami yakin film ini bisa menjadi hiburan dan penambah pengetahuan budaya lokal,” katanya.

Direktur Perfilman, Musik dan Media Ahmad Mahendra mengapresiasi pelaksanaan produksi film ini sebagai satu cara untuk pelestarian dan pemajuan kebudayaan. Terlebih Indonesia yang sangat kaya akan budaya yang dapat diangkat menjadi suatu narasi kuat bernuansa lokal untuk dapat dikembangkan menjadi film. Selain menggambarkan nilai-nilai hidup pada masyarakat adat, film ini juga memiliki nilai kearifan lokal yang menarik menjadi hiburan masyarakat.

“Kemendikbudristek terus memprioritaskan kebebasan masyarakat dalam berkarya, tentunya untuk mengembangkan nilai-nilai budaya salah satunya melalui film,” tukas Mahendra.

Kemendikbudristek akan terus berkomitmen melalui berbagai program strategis guna mendukung film berbasis lokal yang bernilai global. Hal ini dibuktikan dengan berbagai kesempatan dan dukungan yang diberikan kepada sineas Indonesia untuk bersaing di kancah internasional.

Salah satu contohnya adalah beberapa film hasil Kompetisi Produksi Film Pendek dari tahun 2021 dan 2022 yang memenangkan penghargaan bergengsi di luar negeri, yakni “Kabar Dari Kubur” yang menang pada Viddse Juree Asia Tahun 2022.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *