Mengenal Komunitas Padang Lamun di Pantai Pandaratan Sibolga

Mengenal Komunitas Lamun
Foto: Mahasiswa STPK Matauli, Pandan.

SmartNews, Tapanuli – Tahukah anda apa Lamun? Ini merupakan tumbuhan tingkat tinggi yang hidup dan terbenam di lingkungan laut dengan ciri-ciri berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, dan berkembang biak secara generatif dan vegetatif.

Sedangkan padang lamun adalah hamparan tumbuhan lamun yang menutupi area pesisir/laut dangkal terdiri dari satu jenis lamun atau lebih. Di dalam ekosistem lamun sendiri terjadi hubungan timbal balik antara komponen abiotik dan biotik hewan maupun tumbuhan.

Bacaan Lainnya

Lamun juga menjadi faktor penentu keberadaan duyung, eel grass, dugong grass, manatee grass, spoon grass, dan penyu hijau.

“Padang lamun memiliki fungsi dan manfaat di ekosistem perairan dangkal diantaranya sebagai produsen primer, habitat biota, stabilisator dasar perairan, penangkap sedimen, dan pendaur hara. Sebagai tumbuhan autotrofik, lamun mengikat karbondioksida (CO2) dan mengubahnya menjadi energi pada rantai makanan,” kata Bestman Gea mahasiswa STPK Matauli yang melakukan penelitian.

Selain itu, lamun dapat menjadi sumber makanan dari berbagai jenis ikan herbivora dan ikan-ikan karang lainnya, termasuk beberapa biota laut yang terancam punah seperti dugong dan penyu.

Daun lamun yang lebat dapat memperlambat aliran air yang disebabkan arus dan ombak deras, sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Padang lamun menangkap dan menstabilkan sedimen yang membuat air menjadi lebih jernih.

Ekosistem lamun memberikan jasa lingkungan sebagai daerah penangkapan ikan, tempat meletakkan perangkap ikan, dan sumber biota laut bagi masyarakat menjadi lahan usaha budidaya rumput laut.

Mengenal Komunitas Lamun
Foto: Tumbuhan Lamun.

“Akan tetapi, aktivitas manusia tersebut dapat menjadi masalah yang membuat rusaknya ekosistem lamun di seluruh dunia. Kegiatan pengerukan dan penimbunan secara terus menerus, pencemaran air termasuk pembuangan limbah garam dari aktivitas desalinisasi. Selanjutnya fasilitas-fasilitas produksi dan limbah industri lainnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Bestman mengatakan, kalau faktor alami yang dapat merusak ekosistem lamun yaitu gelombang dan arus yang kuat, badai, gempa bumi, hingga tsunami.

Perlu diketahui, lingkungan pesisir di Kota Sibolga ternyata memiliki berbagai macam ekosistem. Salah satunya ekosistem padang lamun yang berjenis lamun Enhalus acoroides. Jenis lamun ini palin sering ditemukan di 301 lokasi di perairan Indonesia, termasuk Kota Sibolga.

“Lamun tersebut memiliki karakteristik berukuran paling besar yang tinggi daunnya mencapai hingga 1 meter. Komunitas padang lamun yang berada di Pantai Pandaratan, Kota Sibolga masih dalam keadaan tutupan yang baik. Namun harus dilakukan langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kerusakan. Terlebih, keberadaan lamun tersebut sangat dekat dengan lokasi aktivitas manusia dan sumber pencemaran lingkungan,” Bestman menambahkan.

Artikel ini merupakan hasil penelitian dari karya ilmiah mahasiswa/i Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli (STPK Matauli) oleh: Bestman Gea, Bangkit Sanjaya, Lannora Sari Hasibuan, Ariansah Rao, Khaira Sakinah, dan Natalia Yohanna Werong.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *