Gadis Kecil Derita Lumpuh Layu Tetap Semangat Bersekolah “Bu, Aku Ingin Seperti Teman-Teman ku”

  • Whatsapp
Nur Aisyah Digendong. Foto: istimewa.

SMARTNEWSTAPANULI.COM, MADINA – Nur Aisyah gadis kecil berusia 11 tahun ini hanya dapat duduk dan terbaring di rumahnya. Tak banyak yang bisa dilakukan gadis ini karena menderita lumpuh layu akut.

Kedua kakinya lumpuh sehingga tak bisa bermain dan berlarian ke sana dan kemari seperti teman seusianya.

Namun semangat Nur Aisyah untuk sekolah masih tinggi, kini dia duduk di kelas 3 di SD Negeri 121 Hutabargot Julu kecamatan Hutabargot, Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara.

Sayangnya, di sekolah pun Nur Aisyah lebih banyak berdiam diri. Sementara teman sekelasnya bermain ketika jam istirahat tiba.

“Bu, aku ingin seperti teman-teman ku, orang itu kan bisa jalan tapi aku nggak bisa, aku mau pergi ke sekolah,” ujar Nur Aisyah seperti diceritakan ibu kandungnya Suryaidah, Kamis (18/1/2018).

Meski raut wajahnya kurang ceria, tetapi Nur Aisyah terlihat semangat menekuni setiap mata pelajaran yang disampaikan gurunya. Di sekolah, Nur Aisyah dikenal memiliki kecerdasan yang cukup.

“Kalau di kelas, dia (Nur Aisyah,red) memang banyak diam, karena merasa minder kali ya. Semua mata pelajaran bisa diikutinya kok, dan bisa dibilang kecerdasan menangkap pelajaran seusianya sekarang ini cukup,” kata Purnama Harahap, guru Nur Aisyah.

Setiap hari, sang ibu Suryaidah selalu setia mengantar dan menjemput anaknya Nur Aisyah dengan cara menggendong dari rumah hingga ke tempat duduknya di sekolah.

Jarak antara rumah dan sekolahnya berkisar 700 meter. Hal ini dilakukan Suryaidah, demi memotivasi semangat Nur Aisyah untuk sekolah.

“Penyakitnya sudah 5 tahunan, kalau mau ke sekolah terpaksa saya gendong, dan ketika pulang saya jemput. Ya Allah, bagaimana caranya supaya anak saya bisa berjalan kembali,” ucap Suryaidah, seraya menitikkan air mata.

Nur Aisyah Ketika Sedang Belajar. Foto: istimewa.

Nur Aisyah yang juga anak yatim pernah berkata kepada sang ibu, semangat Nur Aisyah bersekolah hanya untuk menggapai cita-citanya yakni membahagiakan orangtuanya, dan mengangkat derajat ekonomi keluarga, yang selama ini hidup dalam kemiskinan.

Setelah sang ayah wafat pada 4 tahun lalu, ekonomi keluarga Nur Aisyah juga tergolong kesulitan, hingga memaksa sang ibu harus banting tulang sebagai petani sawah di lahan orang lain dengan menerima upah seadanya, untuk menafkahi 4 orang anaknya termasuk Nur Aisyah.

“Semua perobatan sudah dilakukan baik medis sampai dukun pijat, tapi belum ada perubahan. Sekarang biaya sudah nggak ada, memang dia sering mengeluh agar dibawa berobat biar bisa berjalan seperti temannya,” lirih Suryaidah.

Tak cukup disitu, Nur Aisyah pun harus tinggal secara berpindah-pindah, terkadang di rumah kakeknya dan juga rumah pamannya. Sebab, keluarga Nur Aisyah sampai kini tidak memiliki rumah sendiri ataupun rumah kontrakan akibat sulitnya ekonomi keluarga ini.

Hingga kini, penderitaan Nur Aisyah dan keluarganya ini masih luput dari perhatian pemerintah daerah, sebab sampai saat ini Nur Aisyah dan keluarganya belum menerima bantuan apapun dari pemerintah. (ril/Ren Morank)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *