Sepenggal Kisah Kemiskinan di Tapanuli Tengah

  • Whatsapp
Sumardi Hulu duduk di depan rumahnya, istirahat sejenak dari pekerjaannya menganyam daun rumbia menjadi atap. FOTO: JP/Smart News Tapanuli.

Pandan – Pada tahun 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat terdapat 14,58 persen penduduk Kabupaten Tapanuli Tengah yang miskin. Sesuai data, angka itu hanya menurun 0,02 persen dari tahun sebelumnya.

Potret kemiskinan memang tak sulit ditemui di daerah yang terletak di pesisir pantai barat Sumatera Utara itu. Contohnya kisah kehidupan Sumardi Hulu (60) ini.

Bacaan Lainnya

Pria tua itu kini tinggal sendirian di sebuah rumah yang sangat sederhana sekali di Jalinsum Sibolga-Padangsidimpuan, Kelurahan Kalangan, Kecamatan Pandan. Dindingnya terbuat dari papan yang sudah lapuk.

Bahkan atap seng yang sudah jebol yang hanya ditambal pakai rajutan daun rumbia.

Ditemui di depan rumahnya kemarin siang, Sumardi tampak sedang beristirahat sejenak dari aktifitas sehari-harinya, penganyam atap dari daun rumbia. Kulitnya yang hitam tampak dibasahi keringat.

“Saya tinggal sendirian. Tadinya bersama anak, tapi lantaran sudah menikah mereka sudah pindah. Dan cucu saya ini lah yang menjadi kawan saya di rumah ini,” tutur pria itu mengawali perbincangan dengan awak media ini.

Dia menceritakan, kalau kehidupan mereka masih jauh dari kategori sederhana. Membuat atap rumbia ditekuninya untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Hasil anyamannya itu kemudian dijual.

Sumardi mengatakan pekerjaan itu sudah puluhan tahun dilakukan. Hasilnya yang dia peroleh kadang tidak sesuai.

“Ini sudah puluhan tahun saya kerjakan. Harganya cuma Rp1.200 selembar. Itu pun kalau ada yang beli. Kalau tidak ada, ya gak dapat uanglah kita,” tuturnya lagi.

Sementara itu salah satu cucunya yang saat ini menimba ilmu di SMP Negeri 3 Pandan, Yus Gea mengatakan kalau ia sebenarnya tinggal sama orangtuanya. Hanya saja karena masuk siang, makanya dia berada di rumah kakeknya tersebut.

“Saya kelas VIII di SMP 3 Pandan, kami masuk siang makanya saya ke rumah kakek ini. Kasihan memang, tapi mau bilang apa,” ungkap Yus. (Job Purba_Mr_snt)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *