973 Tempat Berbau Maksiat di Tapteng Ditertibkan, Miliaran Uang Rakyat Terselamatkan

  • Whatsapp
Foto: Bakhtiar Ahmad Sibarani. (Foto: dok-istimewa)

SmartNews, Tapteng – Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Bakhtiar Ahmad Sibarani mengatakan, sekitar Rp 29 miliar uang rakyat terselamatkan setelah Pemkab Tapteng melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP gencar melakukan penertiban tempat-tempat berbau maksiat di daerah itu.

Menurut Bupati Bakhtiar, penertiban yang berlangsung selama ini di bawah kepemimpinannya, tercatat sebanyak 973 tempat usaha berbau maksiat di Kabupaten Tapanuli Tengah, sudah tutup.

Bacaan Lainnya

Bupati juga mengungkapkan, keberadaan usaha warung remang-remang di daerah itu yang menyediakan “wanita malam”, dianggap menjadi salah satu faktor penyebab masyarakat Tapteng tetap hidup digaris kemiskinan.

“Tempat usaha yang berbau maksiat, bukan hanya rawan kriminal dan penyakit, tetapi juga sangat merugikan masyarakat dari segi ekonomi,” ungkap Bakhtiar kepada SmartNews, Rabu (27/11/2019).

Orang nomor satu di Tapteng itu menegaskan, keseriusan Pemkab Tapteng dalam menertibkan tempat-tempat berbau maksiat tak berjalan mulus. Sebab, terjadi pro kontra di tengah masyarakat.

Pun begitu, Bakhtiar menegaskan, hal tersebut sudah menjadi konsekuensi dari kerja.

“Jelas ada yang tidak senang terhadap tindakan kami tersebut. Namun saya tidak takut. Karena tanpa kita sadari, ratusan juta uang masyarakat terbuang sia-sia di tempat itu,” jelasnya.

Menurut Bupati, sebelum masa pemerintahannya, tempat-tempat berbau maksiat tersebut, menjamur.

“Sama-sama punya Satpol PP, sama-sama punya anggaran, kok gak bisa ditutup selama ini?. Semua itu tentu tergantung niat dan sikap kita,” ungkapnya.

Dia memaparkan, bila diasumsikan satu tempat usaha maksiat mampu memperoleh omset Rp 1 juta per hari.

“Artinya dari 973 tempat usaha sudah Rp 973 juta perhari uang masyarakat terbuang sia-sia,” bebernya.

“Saya mohon dukungan dari Tokoh Agama dan masyarakat dalam hal penertiban tempat-tempat berbau maksiat di Tapanuli Tenga,” tandasnya.

Nah, mengacu kepada asumsi yang disampaikan Bupati Tapteng, Rp.973 juta per hari omzet dari tempat-tempat berbau maksiat tersebut, itu artinya dalam satu bulan bisa meraih penghasilan secara global mencapai Rp 29.190.000.000 (dua puluh sembilan miliar seratus sembilan puluh ribu) uang masyarakat dari 973 tempat usaha berbau maksiat yang ditutup tersebut.

Tentu, ini angka yang fantastis dan jika dihitung pertahunnya, mencapai Rp 350 miliar lebih. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *