Oknum ASN Tapteng Itu Menyesali Perbuatannya, Memohon Tidak Dipecat

  • Whatsapp
FOTO: EWT (kanan) saat Diwawancara Wartawan di Mapolres Tapteng.

SmartNews, Tapanuli – Polres Tapteng menangani kasus pemalsuan dokumen surat keterangan rapid test yang dilakukan oknum berinsial EWT (49), ASN yang bertugas di RSUD Pandan, Tapteng.

Kapolres Tapteng, AKBP Nicolas Dedy Arifianto melalui Kasat Reskrim, AKP Sisworo menerangkan, rupanya, oknum EWT sudah sempat mengeluarkan ratusan lembar surat keterangan (Suket) yang diduga palsu kepada calon penumpang kapal tujuan Kepulauan Nias dari Kota Sibolga.

Bacaan Lainnya

Sisworo menjelaskan, awalnya, pada Senin (22/6/2020), ada seseorang bernama Pius datang ke salah satu klinik kesehatan di Kelurahan Sibuluan Nalambok, Kecamatan Sarudik, Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara (Sumut) tempat tersangka EWT bekerja.

“Orang itu menanyakan, apakah klinik tersebut bisa mengeluarkan suket rapid test. Karena klinik tersebut tidak bisa mengeluarkan rapid test, seketika timbul niat tersangka EWT untuk mengeluarkan surat keterangan palsu,” jelas Sisworo.

EWT yang juga bekerja di bagian laboratorium RSUD Pandan itu kemudian mencetak kop surat milik RSUD Pandan dan memalsukan tanda tangan dokter RSUD Pandan bagian laboratorium.

Modus kerjanya, EWT menyuruh seorang rekannya perawat berinisial MAP (30), yang bekerja di klinik tersebut untuk mengambil sampel darah calon penumpang kapal di rumah warga bernama Pius di Kota Sibolga.

Setelah darah diambil, lalu diserahkan kepada EWT. Selanjutnya, EWT mengeluarkan surat keterangan dan diserahkan kepada Pius.

Pada hari berikutnya, MAP kembali melakukan pengambilan sampel darah atas perintah EWT kepada calon penumpang lain, tetapi bukan di rumah Pius lagi, melainkan di rumah Ivan yang juga warga Sibolga.

“Awalnya, tersangka mengeluarkan suket palsu itu, hari Senin (22/6/2020), dengan jumlah puluhan lembar. Sejak hari itu sampai dengan hari Sabtu, pelaku sudah mengeluarkan ratusan suket palsu kepada para calon penumpang yang hendak berangkat ke Pulau Nias,” terang Sisworo.

Suket yang dikeluarkan tersangka mulai Senin-Jumat, lolos di Pelabuhan Sibolga, dan penumpangnya sudah menyeberang ke Pulau Nias.

Tetapi, pada Sabtu kemarin, terjadi permasalahan yang menyebutkan suket tersebut palsu, karena tidak ada nomor register surat.

Akibatnya, puluhan penumpang terbengkalai berangkat. “Sebagian penumpang sudah ada yang berangkat menggunakan suket yang dikeluarkan tersangka. Pada Sabtu kemarin, terjadi keributan di Pelabuhan Sibolga yang menyebutkan Suket tersebut palsu karena tidak ada registernya,” tuturnya.

SIMAK SELENGKAPNYA WAWANCARA DENGAN EWT DI VIDEO DI BAWAH INI.

Berdasarkan pengakuan tersangka EWT, semua pemeriksaan darah dilakukan di Klinik Yakin Sehat menggunakan rapid test yang dibelinya secara online seharga Rp160-190/unit.

“Sedangkan tarif untuk satu suket dikenakan biaya Rp200.000-Rp250.000 per lembar. Jadi sudah ada ratusan suket yang dikeluarkan tersangka, dan semuanya dikerjakan tersangka di salah satu klinik sehat di Sibuluan,” ungkapnya.

Sejumlah alat bukti seperti komputer, printer, rapid test, surat keterangan, stempel, dan jarum suntik untuk mengambil darah juga telah disita.

“Tersangka EWT mengaku menyesali perbuatannya. EWT juga mengakui bahwa niat untuk melakukan kejatahan itu atas kemauannya sendiri,” jelas Sisworo.

Sementara, tersangka MAP mengakui bahwa ia sama sekali tidak mengetahui maksud pengambilan darah yang disuruh tersangka EWT. Ia hanya nurut saja ketika EWT minta tolong. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *