VIDEO Curhat Siswa di Humbahas Soal Belajar Daring, Nyari Sinyal ke Perbukitan dan Bangun Pondok Belajar

  • Whatsapp
FOTO: Sejumlah Siswa di Humbahas Belajar di Pondok di Perbukitan. (rtb)

SmartNews, Humbahas – Para pelajar di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatra Utara (Sumut) yang jauh dari pusat perkotaan kesulitan untuk belajar mengajar dengan sistim daring yang diterapkan oleh pihak sekolah.

Sebab, tak semua daerah di Humbahas bisa mendapatkan sinyal internet dengan baik, seperti di Desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung.

Bacaan Lainnya

Selain kesulitan untuk mendapatkan sinyal internet, tidak semua siswa memiliki handphone yang memadai untuk menggunakan aplikasi yang dipersyaratkan yakni Google Meet. Mereka harus menumpang ke temannya dan belajar bersama.

Para siswa di desa ini pun berburu sinyal internet ke perbukitan. Setelah di rasa dapat, mereka pun mendirikan pondok di sana untuk mengikuti proses belajar mengajar yang dipandu oleh pihak sekolah.

“Kan bukan semua orang punya Android gitu pak. Trus orangtua kami petani, gak selamanya bisa beli paket, dan jaringan sering kali lelet pak sehingga kami itu susah buat tugas kami,” kata Lisma Purba, siswi SMKN 1 Dolok Sanggul kepada wartawan, Kamis (23/7/2020).

“Sehingga nilai kami pun kalau begitu menurun juga kan pak. Trus soal Android, itu kan mahal juga iya kan. Gak semua siswa yang punya android, seperti saya sendiri yang tidak memilikinya,” ucap Lisma.

Lisma mengaku harus meminjan handphone yang memadai untuk ia gunakan belajar daring.

“Sehingga saya harus meminjam ke tetangga. Dan gak enak juga kan tiap hari minjam. Trus gak enak juga gak tatap muka dengan guru,” ungkapnya.

FOTO: Guntur Banjarnahor, salah satu orangtua siswa di di Desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung,Humbahas.

Orangtua siswa di pedesaan ini pun mengaku mau tak mau harus menerima kenyataan itu. Walaupun menurut mereka belajar sistim daring tidak maksimal. Mereka pun berharap agar pandemi Corona (Covid-19) segera berlalu.

“Dalam belajar daring yang diterapkan pemerintah yang seperti ini, ya udahlah terpaksa diterima. Sebenarnya kendalanya agak banyak juga. Misalnya, masalah paketnya gak ada, masalah jaringannya,” ujar Guntur Banjarnahor, salah satu orangtua siswa di di Desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung, Humbahas.

Karena sulitnya dapat sinyal internet di desa ini, Guntur mengatakan sejumlah siswa terpaksa membuat sebuah pondok di perbukitan.

“Seperti inikan anak-anak sampai bikin itu (pondok) untuk bisa mendapatkan jaringan. Udah sebagian lagi anak-anak belum punya hape. Makanya kan bisa jadi barengan dia, ada satu hape dipake beberapa orang siswa. Itulah kendala sama kami,” ungkapnya.

FOTO: Seorang Guru Mengendalikan Sistim Belajar Daring dari SMKN 1 Dolok Sanggul.

Pihak sekolah sendiri tidak membantah kalau pola belajar dengan daring tidak maksimal lantaran perlengkapan peralatan tidak memadai.

“Adapun yang menjadi kendala pelaksanaan daring di sekolah kita adalah tidak semuanya siswa memiliki handphone android. Tetapi kita berusaha supaya siswa yang tidak memiliki handphone android bergabung dengan temannya dengan lima dan enam orang siswa,” ujar Kepala SMKN 1 Dolok Sanggul, Hotman Manurung.

Di SMKN 1 Dolok Sanggul ini jumlah murid tercatat sebanyak 1236 siswa. Aktivitas belajar mengajar di sekolah ini masih belum diperkenankan melalui metode tatap muka dampak pandemi Covid-19. (rtb)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *