Wanita Ini Dipecat dari Pekerjaannya Gegara Pakai Baju Tembus Pandang

  • Whatsapp
FOTO: Dok_Istimewa.

SmartNews, Tapanuli – Wanita ini mengajukan keluhan pelanggaran hak asasi manusia terhadap dealer mobil Alberta Honda, lantaran dirinya dipecat dengan alasan telah menggunakan pakaian yang kurang sopan.

Wanita ini bernama Caitlin Bernier berusia 20 tahun asal Kanada.

Bacaan Lainnya

Bernier mengklaim bahwa perusahaan yang mempekerjakannya memecat dirinya dengan alasan yang kurang masuk akal.

Bernier diberitahu bahwa dia memakai pakaian kurang sopan sebab terkesan tembus pandang. Karenanya membuat karyawan laki-laki tidak nyaman melihatnya.

“Saya dipecat karena mengenakan ‘pakaian yang tidak pantas’ untuk bekerja,” tulis Bernier dalam keluhannya melansir Suara.com, Jumat (18/9/2020).

“(Padahal) ini adalah pakaian yang sama dengan tempat saya bekerja,” katanya.

Dia mengatakan dipecat dari dealer di 9525 127th Ave pada 11 September setelah seorang rekan perempuan mendekatinya di kantor.

Kepada Bernier, wanita tersebut berkata bahwa baju yang dipakainya tembus pandang dan melanggar kode berpakaian perusahaan.

Dia menerangkan, bahwa pakaian yang saat itu digunakan padahal sama dengan saat dia menghadiri wawancara kerja di awal bulan dan diberitahu bahwa pakaian itu sesuai dengan ekspektasi bisnis-kasual toko.

Bernier menjelaskan, bahwa rekan wanitanya meminta dirinya untuk menutup baju dengan sweter atau lebih baik pulang ke rumah. Sebaliknya, Bernier langsung menemui HRD perusahaan.

“Hal pertama yang dikatakan wanita HR itu adalah, ‘Bajunya baik-baik saja, sama sekali tidak tembus pandang,” bilangnya.

Lanjutnya, bahwa staf sumber daya manusia mengizinkannya pergi sampai manajernya kembali ke kantor. Dia memutuskan pulang ke rumah.

Namun kira-kira satu jam kemudian dia mendapat telepon dari manajer umum dealer itu yang mengatakan bahwa dia telah dipecat karena pelanggaran kode pakaian.

“Manajer tidak pernah melihat langsung pakaian saya. Saya tidak pernah mendapat kesempatan untuk berbicara,” jelasnya.

“Aku berkata, ‘Aku akan pergi ke toko dan aku akan datang menemuimu sekarang,’ dan dia berkata, ‘Percakapan ini sudah selesai,’ dan menutup teleponku.”

Kasus itu akhirnya ditanggapi oleh Alberta Honda. Mereka menyanggah tuduhan Bernier dan menekankan bahwa seorang karyawan hanya akan dipecat setelah peringatan berulang kali.

Keputusan pemecatan karyawaan juga disebut Alberta Honda tak ada hubungannya dengan jenis kelamin.

“Hanya jika seorang karyawan menolak untuk mematuhi kode berpakaian ketika diberi kesempatan,” tulis pernyataan Alberta Honda.

“Jika mereka terus melanggar kode berpakaian pada beberapa kesempatan atau jika ada masalah lain seputar kinerja mereka, kami akan mempertimbangkan untuk mengambil tindakan lebih lanjut.”

“Kami telah meninjau situasi yang dimaksud dan yakin bahwa manajer kami menanganinya dengan tepat mengingat semua keadaan yang terlibat.”

Lebih lanjut Bernier mengatakan, dia tidak pernah menerima peringatan sebelumnya dari manajemen. Sehingga dia berasumsi dia dalam masa percobaan namun tidak diberitahu tentang ketentuan masa percobaannya

“Tidak ada yang mengevaluasi kinerja saya. Itu semua terjadi sekaligus,” ujar Bernier.

“Tentu saja Anda bisa memberhentikan seseorang dalam masa percobaan, tapi tetap harus ada alasan yang sah.”

Eric Adams, pengacara konstitusional dan wakil dekan fakultas hukum University of Alberta, mengatakan hak hukum pekerja percobaan itu rumit.

Tiga kebijakan hukum yang tumpang tindih mengatur hak-hak mereka: Kode Standar Ketenagakerjaan Alberta, hukum umum Alberta, dan Undang-Undang Hak Asasi Manusia Alberta.

Di bawah kode ketenagakerjaan, yang memberikan “aturan dasar” untuk pekerjaan di Alberta, pemberi kerja tidak berkewajiban memberikan pemberitahuan pemecatan kepada pekerja yang telah bekerja kurang dari 90 hari, kata Adams.

Tapi, hukum umum melindungi hak-hak karyawan tertentu apa pun yang terjadi, lanjutnya.

Berdasarkan hukum umum, pekerja dapat diberikan kompensasi untuk pemecatan yang salah jika ditentukan bahwa majikan bertindak dengan itikad buruk.

“Ini tidak berarti Anda harus memiliki alasan yang kuat untuk memberhentikan orang,” ujar Adams.

“Anda masih dapat memberhentikan mereka karena alasan Anda sendiri. Dan mereka mungkin dianggap tidak logis atau tidak adil, tetapi Anda harus melakukannya dengan cara yang menghormati martabat karyawan.”

Jalan hukum terbaik Bernier adalah klaim hak asasi manusia, katanya. Semakin banyak kasus yang bergulat dengan diskriminasi kode pakaian di tempat kerja, katanya.

“Saya kira kasus-kasus mulai mengakui bahwa, ya, perlakuan semacam itu sebenarnya merupakan bentuk diskriminasi gender,” pungkas Adams. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *