Kabupaten Tapanuli Utara Krisis Air Minum

  • Whatsapp
Pertemuan Sekda Taput dan pejabat lainnya di Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR terkait krisis air minum. (dok/istimewa)

SNT, Taput – Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatra Utara (Sumut) bertahun-tahun mengalami krisis air minum. Kondisi ini membuat masyarakat Kabupaten Taput, khususnya di Kecamatan Tarutung dan Sipoholon dan Kecamatan Siatas Barita mengeluh, karena setiap hari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat harus mengatur pendistribusian air ke rumah pelanggan secara bergiliran.

Untuk mengatasi persoalan ini, Bupati Nikson Nababan diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Taput, Indra Simaremare bersama Direktur PDAM Mual Na Tio Lamtagon Manalu dan sejumlah pejabat terkait menemui Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR RI, Rabu (13/4/2021).

Bacaan Lainnya

Dalam pertemuan tersebut, Sekda Indra Simaremare menyampaikan permasalahan air minum di Kabupaten Taput, dan mengharapkan Kementerian PU segera merealisasikan pembangunan IPA (Instalasi Pengolahan Air), sehingga air baku yang sudah dibangun oleh BWSS-II segera mendapatkan pengolahan agar dapat disalurkan ke masyarakat.

“Kita meminta agar Kementerian PU dapat segera mewujudkan permohonan Pemkab Taput, dikarenakan saat ini di Tapanuli Utara sudah terjadi krisis air minum,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, pihak kementerian menyampaikan akan melakukan review ulang untuk menentukan skala prioritas dan pembiayaannya, dan akan segera melakukan sinkronisasi untuk memastikan kelengkapan syarat-syarat yang dibutuhkan dalam pembangunan IPA dimaksud.

Terpisah, Direktur PDAM Mual Na Tio Taput, Lamtagon Manalu mengatakan, bahwa krisis air bersih atau air minum di daerah tersebut sudah terjadi bertahun-tahun.

“Sudah lama, ini terutama di Tarutung dan sekitarnya karna debit air yang terbatas, sebab selama ini kita hanya mengandalkan mata air. Makanya pelanggan PDAM sering mengeluh,” jelas Lamtagon saat dihubungi, Kamis (14/4/2022) siang.

“Kalau dengan mengandalkan mata air tentu sangat kecillah (debitnya), jadi perlulah dilakukan penambahan debit air yang tentu anggarannya sangat besar,” katanya.

Meskipun ada sumber air yang selama ini dikelola, namun tetap saja tak mampu memenuhi kebutuhan air bersih di Taput. “Kalau di Tarutung ada belasan sumber mata air, tapi kecil-kecil dan debit airnya saat ini semakin berkurang,” ungkap Lamtagon.

Menurutnya, upaya yang dilakukan selama ini untuk kebutuhan air bersih bagi pelanggan yaitu secara bergilir, dan disuplai dengan air tangki. “Maka untuk itu harus dilakukan penambahan debit air, tapi kalau mengandalkan APBD Taput tentu hal itu berat. Maka Pemkab Taput berharap adanya dukungan dari APBN,” terangnya.

Lamtagon mengungkapkan soal penambahan debit air di Kabupaten Taput sudah diusulkan ke Kementerian PU sejak tahun 2015.

“Nah, kenapa disebut krisis (air bersih) di Taput, itu karena ketika kita hanya mampu melayani separuh dari jumlah pelanggan hingga saat ini, dan jumlah pelanggan PDAM di Tarutung, Sipoholon dan Siatas Barita dan sekitarnya itu sekitar 8600 pelanggan. Sementara untuk air yang tersedia 40 liter per detik yang disalurkan ke masyarakat,” pungkasnya. (snt)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *