Konferensi Internasional Spiced Islam 2025 di Situs Bongal, Masinton Pasaribu: Bukti Tapteng Dikenal Dunia

IMG 20250822 220236
FOTO: Bupati Tapteng Masinton Pasaribu menanam pohon di lokasi situs Bongal Desa Jago Jago Kecamatan Badiri.

TAPTENG – Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Masinton Pasaribu mengungkap, sejarah bukan sekadar untuk dicatat dan dibaca, tapi harus dipelajari untuk melangkah lebih baik ke depan.

Dia menjelaskan, dulu Tapteng pernah menjadi pusat perdagangan, pusat pertukaran kebudayaan peradaban dan lainnya. Tapteng yang berada di pantai barat Pulau Sumatra ini pernah berjaya di masanya.

Bacaan Lainnya

“Kalau kita bayangkan seperti Singapura saat ini, maka Tapanuli Tengah  pernah menjadi Singapura-nya Indonesia,” kata Masinton Pasaribu di acara Konferensi Internasional Spiced Islam 2025, di Museum Fansuri Situs Bongal di Desa Jagojago, Kecamatan Badiri, Kamis (21/08/2025).

Konferensi internasional bertajuk “Material Culture & Commodities in The Indian Ocean World 7-13 Th Centuries” tersebut digagas Yayasan Sultanate Institute dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

“Tentunya, kami menyambut baik dan mendukung seluruh upaya yang dilakukan para peneliti dari 10 negara yang hadir di acara konferensi internasional hari ini,” kata Bupati Masinton Pasaribu.

Namun lanjutnya, orientasi pembangunan nasional di Pulau Sumatra masih bertumpu di kawasan Pantai Timur, sehingga kondisi Pantai Barat tertinggal dan terlupa.

Pantai Timur telah menjadi lintasan perdagangan internasional dari berbagai benua, sehingga Pantai Barat dianggap tidak lagi relevan, akhirnya ditinggalkan dan dilupakan.

“Dari sejarah yang kita rangkai tersebut, nanti kita bisa sama-sama suarakan dan perjuangkan agar ada keseimbangan atau pemerataan pembangunan untuk kawasan Pantai Barat,” kata Masinton Pasaribu.

Masinton menjelaskan, berdasar hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan para peneliti lainnya, Tapteng pernah berjaya dan dikenal dunia.

“Desa Jagojago ini pernah dikunjungi para saudagar dari berbagai benua di dunia, baik dari Timur Tengah, Asia bahkan Eropa untuk mencari rempah-rempah yang dihasilkan dari kekayaan alam kita,” katanya.

Menurut Masinton Pasaribu, keberadaan Situs Bongal ini adalah bukti sejarah peradaban kebudayaan dan sejarah perdagangan di masa lampau. Nanti kawasan Jagojago ini akan ditata secara bertahap, minimal bisa memudahkan orang untuk datang. Ekstrakuliluler anak sekolah juga akan dijadwal bergiliran, sehingga mereka punya referensi sejarah.

“Harapan kita, museum ini membawa inspirasi dan anak-anak termotivasi dengan kemajuan di masa lampau agar mereka punya tekad untuk maju di masa mendatang,” katanya.

Para peserta Konferensi Internasional Spiced Islam 2025, di Museum Fansuri Situs Bongal di antaranya, Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra BRIN, Herry Yogaswara; R Michael Feener (Universitas Kyoto Jepang); Daniel Perret (Universitas Malaysia); Myra Mentari Abubakar (Universitas Singapura); Mehdy Shaddel (Universitas Cambridge Inggris).

Kemudian ada juga, Asa Eger (Universitas USA); Mahmood Kooria (Universitas Inggris); Kathleen Burke (Universitas Singapura); Abu Bakar (Sultanate Institute, Indonesia), Laura Dussubieux (Chicago Usa), Ery Soedewo (BRIN Indonesia).

Chiara Zazzaro (Universitas Italia); Shinatria Adhityatama (Universiata Australia); Lucas Wattimena (BRIN); Sinta Ridwan, Roni Tabrani (BRIN); Amru Sazali (Museum Pahang Malaysia); Stephane Pradines (Universitas London); Mohammed Salih Cholakkalakath.

Sher Banu L Khan (Universitas Singapura); Jajat Buhanuddin (Universitas Jakarta); Asyhadi Mufsi Sadzali (Universitas Indonesia); Sonny C Wibisono (BRIN); Singgih Tri Sulistiyono (Universitas Diponegoro) dan lainnya. (ren)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *