Resmikan Fansuri Arboretum Situs Bongal, Bupati Tapteng Masinton Pasaribu Ajak Warga Tanam Rempah

IMG 20250822 224104
FOTO: Bupati Tapteng, Masinton Pasaribu menghadiri peresmian Fansuri Arboretum Situs Bongal di Desa Jago Jago Kecamatan Badiri.

TAPTENG – Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Masinton Pasaribu mengajak warga yang memiliki lahan pertanian untuk menanam tumbuhan rempah-rempah, jangan cuma kelapa sawit.

Ajakan tersebut ia sampaikan saat meresmikan taman botani, Fansuri Arboretum Situs Bongal di sela Konferensi Internasional Spiced Islam 2025, di Museum Fansuri Situs Bongal di Desa Jago Jago, Kecamatan Badiri, Kamis (21/08/2025).

Bacaan Lainnya

Bupati Masinton Pasaribu mengungkap, berdasar hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan para peneliti lainnya, Tapteng pernah berjaya dan dikenal dunia.

Maka, keberadaan Situs Bongal ini adalah bukti sejarah peradaban, kebudayaan, dan sejarah perdagangan dunia di masa lampau.

“Desa Jago Jago ini pernah dikunjungi para saudagar dari berbagai benua di dunia, baik dari Timur Tengah, Asia bahkan Eropa untuk mencari rempah-rempah yang dihasilkan dari kekayaan alam kita,” kata Masinton Pasaribu.

Taman botani di areal Museum Fansuri Situs Bongal ini merupakan bahan edukasi bahwa rempah-rempah inilah yang kemudian membuat nusantara dikunjungi pedagang dari berbagai belahan benua di dunia.

“Sekarang, tumbuhan penghasil rempah ini kita tanam kembali. Jangan pula kita ganti dengan sawit. Kita harus jaga lingkungan kita ini dengan kekayaan tumbuhan-tumbuhan kita,” kata Masinton Pasaribu.

Masyarakat harus mengerti apa yang harus dikembangkan dan dibudidayakan, jangan karena punya lahan sedikit kemudian ditanami sawit. Tidak semua lahan boleh ditanami sawit.

“Kita tidak melarang, tapi jangan monokultur. Kita harus menjaga Tapteng jangan sampai seperti daerah lain. Kalau monokultur, niscaya itu akan mempengaruhi pola hidup dan budaya kita ke depan,” katanya.

Konferensi Internasional Spiced Islam 2025, di Museum Fansuri Situs Bongal bertajuk “Material Culture & Commodities in The Indian Ocean World 7-13 Th Centuries” itu digagas Yayasan Sultanate Institute dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Konferensi internasional ini diikuti para peneliti dari 10 negara, Sekolah Tinggi Agama Islam Barus (STAIB) yang bernaung di bawah Yayasan Matauli juga ikut berpartisipasi.

Berikut ini para peserta konferensi, Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra BRIN, Herry Yogaswara; R Michael Feener (Universitas Kyoto Jepang); Daniel Perret (Universitas Malaysia); Myra Mentari Abubakar (Universitas Singapura); Mehdy Shaddel (Universitas Cambridge Inggris).

Kemudian ada juga, Asa Eger (Universitas USA); Mahmood Kooria (Universitas Inggris); Kathleen Burke (Universitas Singapura); Abu Bakar (Sultanate Institute, Indonesia), Laura Dussubieux (Chicago Usa), Ery Soedewo (BRIN Indonesia).

Chiara Zazzaro (Universitas Italia); Shinatria Adhityatama (Universiata Australia); Lucas Wattimena (BRIN); Sinta Ridwan, Roni Tabrani (BRIN); Amru Sazali (Museum Pahang Malaysia); Stephane Pradines (Universitas London); Mohammed Salih Cholakkalakath.

Sher Banu L Khan (Universitas Singapura); Jajat Buhanuddin (Universitas Jakarta); Asyhadi Mufsi Sadzali (Universitas Indonesia); Sonny C Wibisono (BRIN); Singgih Tri Sulistiyono (Universitas Diponegoro).

Hadir juga, Ketua Yayasan Matauli, Fitri Krisnawati Tandjung, Wakil Ketua STAIB, Rusmin Tumanggor dan lainnya. (ren)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *