oleh

Mengenal Sosok Dinda, Mahasiswi USU Peraih Emas di Porwilsu Cabang Silat

Medan – Adinda Mawaddah, mahasiswi USU ini baru saja berhasil meraih emas di ajang Pekan Olahraga Wilayah Sumatera Utara (Porwilsu) 2018 di Langkat.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini merupakan mahasiswi semester enam Fakultas Pertanian Jurusan Agroteknologi.

Pada babak final dalam laga tanding Kelas C Putri, Adinda yang mewakili Kota Medan berhasil mengalahkan pesilat dari Kabupaten Batubara dan membawa pulang medali emas.

Seperti apakah sosok Adinda Mawaddah? Berikut ini beberapa fakta mengenai dirinya:

Satu Tahap Menggapai Impian

Kemenangannya pada Porwilsu menjadi langkah awal bagi gadis berusia 20 tahun yang akrab disapa Dinda ini untuk menggapai impiannya mengikuti PON 2020 di Papua.

Selain berlatih keras, ia juga harus membagi waktu dan pikirannya untuk menekuni pendidikan yang sedang dijalaninya di USU agar tidak ketinggalan dari mahasiswi lainnya.

Tidak Melupakan Pendidikan

Pendidikan sangat penting bagi Dinda, meski ia sudah menjadi atlet profesional dan banyak mengikuti pertandingan bertaraf nasional dan internasional.

Di tengah kesibukannya berlatih mengikuti pertandingan Pekan Olahraga Wilayah Sumatera Utara, tidak membuatnya lupa kewajibannya sebagai mahasiswi begitu saja.

Mengenal Silat Sejak SD

Ketika duduk di kelas lima sekolah dasar dengan seragam putih merahnya, Dinda ternyata memiliki ketertarikan tersendiri kepada dunia olahraga.

Ia bahkan mengikuti semua ekstrakurikuler olahraga yang ada di sekolahnya, mulai dari renang, basket, hingga pencak silat.

Alasan utama Dinda menekuni pencak silat karena ia merasa membutuhkan perlindungan untuk membela diri.

Selain itu, ada banyak perempuan yang ditindas, dan Dinda ingin menolong sesama. Tetapi untuk menolong, Dinda harus memiliki kemampuan. Akhirnya Dinda memutuskan untuk melanjutkan karirnya di bidang olah raga silat.

Sempat Dilarang Ibu

Sebagai anak perempuan, ada banyak kekuatiran yang disuarakan oleh ibunya. Meski dibolehkan untuk belajar silat untuk membela diri, tetapi ibunya sempat menolak ketika Dinda mengukuhkan niatnya untuk lanjut di dunia silat.

Namun Dinda tidak berhenti, ia malah semakin gigih berlatih silat. Kegigihan tersebut dilihat oleh ibunya. Hati ibunya mulai luluh ketika Dinda mendapatkan juara dari berbagai pertandingan yang ia ikuti, hingga akhirnya sang ibu memberikan jalan untuk Dinda menjadi pesilat.

Jadi Seorang Guru

Siapa sangka akibat kecintaannya terhadap pencak silat membuat ia bisa menjadi seorang guru honorer di salah satu sekolah di Kota Medan yaitu SMA 1 Muhammadiyah Medan.

Perempuan ini dipercaya sekolah menjadi pelatih di salah satu ekstrakurikuler. Ia pun menjadi seorang pelatih pencak silat.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlewati, seperti pribahasa ini selain kemampuan bela dirinya dipakai saat pertandingan dan menjaga diri, ternyata kemampuan ini juga bisa membuatnya menjadi seorang guru honorer. (ril)

Komentar