oleh

Armyn Gultom Punya Nilai Plus

Sibolga – “Anak Desa”, begitu orang-orang memanggilnya. Dia adalah Armyn Gultom. Pengusaha muda yang kemudian terjun ke politik. Armyn pun mengungkapkan cita-citanya.

Hijrah dari Hanura, Armyn bersama Hary Tanoesoedibjo (HT) mendirikan partai baru, yaitu Perindo. Di struktur partai Armyn Gultom memegang peran penting sebagai ketua DPP bidang kader, anggota dan saksi.

Sekarang dia pun mencalon kembali untuk Anggota DPR RI dari Dapil Sumatera Utara (Sumut) II. Figur muda ini menyatakan sebagai calon legislatif (caleg), dirinya memiliki nilai plus karena pendiri dan pengurus partai di pusat.

Dapil Sumut II sendiri meliputi 19 kabupaten/kota. Armyn melihat bahwa daerah-daerah tersebut masih tertinggal. Belum optimal dapat menikmati “kue” pembangunan nasional. Padahal di situlah peran anggota DPR RI untuk menghadirkannya.

“Saya putra daerah yang lahir dan besar di daerah ini. Sumut II ada 19 kabupaten/kota yang sebagian besar masih tertinggal. Saya melihat kue pembangungan nasional yang turun ke daerah kita ini belum optimal,” sebut Armyn Gultom usai bertemu pengurus dan para caleg di Kantor DPD Partai Perindo Kota Sibolga, kemarin.

Menurutnya, APBD kabupaten/kota dan provinsi masih belum sanggup menopang anggaran pembangungan di daerah-daerah. Padahal APBN jumlahnya sangat besar.

Kaitannya, ada 30 orang anggota DPR RI asal Sumut II. Namun Armyn melihat ada sebuah ketidakberdayaan mereka dalam hal menggelontorkan APBN ke daerah pemilihannya. Itu karena faktor posisi, mereka bukan “top leader” di partainya. Sehingga hanya dapat mengurus hal-hal sesuai komisinya masing-masing di DPR.

“Saya sebagai pengurus partai di pusat, setidaknya nanti saya dapat mengkomunikasikan hal-hal yang lintas komisi. Karena kita pimpinan di partai, jadi peran kita dapat lebih optimal,” ungkapnya.

Ada beberapa ketertinggalan dan persoalan di daerah yang menjadi prioritas atensinya. Seperti di Labuhan Batu, daerah yang kaya akan perkebunan kelapa sawitnya. Namun juga sebagai daerah yang paling sulit dijangkau. Karena itu perlu dorongan percepatan pembangungan bandara.

Kemudian untuk Sibolga dan Tapanuli Tengah yakni pengembangan industri perikanan dan destinasi pariwisata. Sedangkan di kepulauan Nias masalah infrastruktur jalan dan ketersediaan energi listrik. (MS)

Loading...

Komentar