Pakar ITS sebut Ada Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa

  • Whatsapp
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

SmartNews, Tapanuli – Ada kekhawatiran yang terjadi sesuai dengan prediksi adanya potensi tsunami di pantai selatan Jawa yang disebut hingga mencapai 20 meter. Terkait hal itu, Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan bahwa adanya potensi itu.

Mengutip detikcom, Dr Amien Widodo, Ahli geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr Amien, tak memungkiri potensi gempa besar di selatan Jawa memang ada.

Bacaan Lainnya

“Iya, berpotensi gempa besar, khususnya di palung samudra (di selatan Jawa) dan magnitudo gempanya bisa lebih dari 8,” kata Amien menjawab wartawan saat dimintai konfirmasi, Jumat (25/9/2020).

Menurutnya, gempa besar yang berujung tsunami juga bisa saja terjadi kapan pun. Hal ini tak hanya mengakibatkan kerusakan infrastruktur, namun juga menelan korban yang tidak sedikit.

“Tak dapat dimungkiri, bencana alam yang terjadi belakangan ini, mulai gempa, likuifaksi Palu, hingga tsunami Banten mengakibatkan banyak desa jadi terisolasi. Rusaknya infrastruktur akibat peristiwa-peristiwa alam tersebut menyebabkan daerah-daerah ini menjadi susah dilalui oleh kendaraan,” bilang Amien.

Lebih lanjut Amien mengatakan, bahwa para ahli telah banyak membuat simulasi terjadinya gempa yang diikuti tsunami di suatu kawasan.

Katanya, bahwa LIPI setahun lalu telah membuat simulasi terjadinya gempa besar dan diikuti tsunami di pantai selatan.

“Beberapa hari lalu, tim ITB juga melakukan simulasi yang sama. Keduanya memperkirakan akan terjadi tsunami dengan gelombang lebih dari atau sama dengan 20 meter,” terang Amien.

Sambungnya lagi, bahwa tsunami merupakan gelombang laut berskala besar yang disebabkan oleh gangguan tiba-tiba, baik yang berasal dari lantai dasar maupun permukaan samudra.

Amien menambahkan, tsunami umumnya terjadi karena tiga hal, yakni gempa, letusan gunung berapi, dan longsor.

Di Indonesia sendiri lanjut Amien, tsunami yang timbul akibat gempa lebih banyak dikenal daripada tsunami akibat letusan gunung berapi maupun longsor.

Hal ini tak lepas dari ketersediaan alat peringatan dini untuk tsunami karena faktor kegempaan. “Sementara itu, untuk dua faktor terakhir, yakni tsunami karena letusan gunung berapi dan longsor, hingga kini belum ada alat yang memadai, sehingga peringatan dini masih belum bisa dilakukan,” Amien menambahkan. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *