Setahun COVID-19 di Indonesia, Pramugari Beralih Profesi Jualan Tahu

  • Whatsapp
Foto: detikcom.

SNT – Dimulai setahun lalu dampak dari pandemi COVID-19, sejumlah pramugari banting setir menjadi penjual tahu, sate hingga kue brownies untuk bertahan.

Sejak kasus pertama COVID-19 ditemukan, industri penerbangan komersial mengalami penurunan jumlah penumpang rata-rata 50% dari tahun sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Pemutusan hubungan kerja sejumlah karyawan merupakan langkah yang kemudian ditempuh sebagian besar maskapai.

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia menyebutkan, pemulihan industri transportasi ini tidak bisa diprediksi, tergantung dari penanganan pemerintah terhadap penyebaran COVID-19.

Sementara pengamat penerbangan masih melihat peluang percepatan pemulihan industri penerbangan dengan promosi wisata yang mengetatkan protokol kesehatan.

Pada Jumat 27 Maret 2020, lebih dari 20 pramugari dan pramugara dikumpulkan di sebuah ruang rapat di salah satu ruang Garuda Operation Center (GOC), Banten. Semua berpakaian formal bebas, sebagian menggunakan stelan berwarna hitam.

Sebelum rapat dimulai, ruangan sempat diisi tawa dan canda ketika sejumlah orang di antara mereka merekam video dari ponsel untuk diunggah di media sosial.

Suasana ruangan mendadak hening ketika manajer tiba. Kemudian menyampaikan pengumuman, para pelayan penumpang pesawat di ruangan tersebut diputus kontrak. Hal itu dengan alasan bahwa jumlah penerbangan menurun karena pandemi global.

“Ketika bapak itu keluar, kita nggak ada yang bisa ngomong apa-apa. Setelah bapak itu keluar, kita baru nangis, shock,” kata Martha Putri mengingat kejadian setahun lalu.

Sesuai kontrak kerja, semestinya ia bisa diangkat menjadi karyawan tetap pada bulan berikutnya. Setelah beberapa hari sebelum pengumuman pemutusan kontrak kerja, Martha masih rutin mengirim surat elektronik kepada atasannya terkait dengan penilaian kinerjanya sebagai “nilai tambah untuk diangkat pegawai di bulan April”.

“Saya kirim semua penilaian saya, nggak ada artinya. Karena chief saya sudah tahu kita semua nggak mungkin ada di Garuda lagi. Jadi buat apa kirim itu lagi?” sebut Martha.

Momen terakhir berstatus sebagai pramugari Garuda Indonesia ini sempat diabadikan Josephine Wulandari, teman satu angkatan Martha Putri.

Dia mengunggah kembali salah satu Insta Story temannya yang menunjukkan foto kru satu angkatan yang tersenyum. Dia melabeli foto itu, “smile fake as usual”.

“Cuma dikasih surat yang menyatakan kalau kontrak kita tidak diperpanjang. Dari situ kita heart brokenbanget,” sebut Jojo, yang akrab disapa Josephine.

Diceritakan Jojo bahwa begitu sulit untuk mencapai karier sebagai pramugari, profesi impian sejak kecil.
Dua sudah dua kali melamar namun gagal.

Hingga akhirnya dia diterima saat lamaran ketiga pada akhir 2017 lalu. Namun, jenjang kariernya kandas karena pandemi.

Selama dua tahun bekerja, Jojo mengutarakan keseruan menjadi pramugari, “Banyak, tapi lebih ketemu orang, belajar banyak hal, ketemu teman-teman baru, bisa ke destinasi baru yang aku belum pernah jalanin.”

Jojo sempat jatuh sakit setelah menerima pengumuman dari perusahaannya itu lantaran terlalu banyak pikiran.
Selama berbulan-bulan yang dia lakukan adalah “Bengong, nangis, makan, tidur.”

Ia tak putus asa, sesekali memasukkan lamaran kerja ke sejumlah perusahaan, kendati belum ada jawaban yang diharapkan.

“Sudah deh terserah dari mana saja, asal selama itu halal, apa pun saya kerjain. Walaupun cuma antar jemput, jadi sopir nggak apa-apa,” kata dia.

Selama tafakur di masa pandemi, dia pun belajar tentang arti persahabatan. “Kelihatan mana orang yang mau temanan di saat kamu masih ada uang, mana teman-teman yang benar-benar sama kamu di saat kamu nggak punya apa-apa.”

Tiga bulan pertama setelah putus kontrak juga menjadi masa-masa sulit Martha Putri. “Sempat…Beberapa bulan kemudian, Martha juga diajak adiknya untuk kembali membuka usaha Sate Taichan. Usaha ini sebenarnya pernah dilakoni Martha dan adiknya sebelum ia bekerja sebagai pramugari.

“Ya sudah, aku support semua. Karena sate aku sudah lumayan dikenal orang di daerah Cibinong. Sosmednya dihidupin lagi. Satenya juga akhirnya aku bikin lagi. Sambelnya semua segala macam. Ya kita ibaratnya bangun lagi dari awal,” tuturnya.

Usaha ini masih dijalankannya, sembari itu, Martha juga membuka usaha penjualan pakaian, yang rencananya toko online ini akan diluncurkan April mendatang.

Sementara itu, Jojo menemukan titik balik untuk membuka usaha yang pernah ia tekuni semasa SMA: membuat kue brownies.

“Itu juga awalnya setengah hati, kayak cuma iseng-iseng jualin. Ada nggak ya yang beli? Ternyata, lumayan nih. Banyak nih peminatnya,” ujarnya.

Kue buatan Jojo juga dipesan pada acara kantor, termasuk memasok ke sejumlah toko kopi. Namun belakangan ini, usahanya sebagian dilimpahkan kepada keluarganya karena Jojo sudah mulai bekerja di sebuah klinik kesehatan mulai Januari ini.

“Untuk akhir-akhir ini kurang tertangani. Karena aku sudah mulai dapat kerjaan baru, jadi terbagi dua gitu. Jadi aku mesti minta bantuan kakakku dan mamaku, untuk bikin brownies itu,” jelasnya.

Baik Jojo dan Martha, keduanya mengakui penghasilan yang mereka dapatkan kini jauh berbeda saat masih bekerja sebagai pramugari.

Mereka mengatakan, gaji pramugari rata-rata di atas Rp15 juta/bulan. Sementara pekerjaan yang ditekuni saat ini tidak sampai setengahnya.

Garuda Indonesia mengakui terjadi pemutusan hubungan kerja sekitar 700 karyawannya, dari pramugari sampai pilot.

Dalam keterangan kepada pers, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, memastikan memenuhi seluruh hak karyawan yang terdampak sesuai peraturan yang berlaku.

“Garuda Indonesia memastikan akan memenuhi seluruh hak karyawan yang terdampak sesuai dengan peraturan yang berlaku, termasuk pembayaran di awal atas kewajiban Perusahaan terhadap sisa masa kontrak karyawan,” ujar Irfan tahun lalu.

Menurutnya, ini keputusan sulit yang terpaksa untuk diambil setelah melakukan upaya penyelamatan keberlangsungan perusahaan di tengah pandemi COVID-19.

“Ketika maskapai lain mulai mengimplementasikan kebijakan pengurangan karyawan, kami terus berupaya mengoptimalkan langkah strategis guna memastikan perbaikan kinerja Perusahaan demi kepentingan karyawan dan masa depan bisnis Garuda Indonesia,” terangnya.

“Namun demikian pada titik ini, keputusan berat tersebut terpaksa harus kami tempuh di tengah situasi yang masih penuh dengan ketidakpastian ini”

Berdasar data yang dilaporkan flightradar24, jumlah penerbangan pesawat komersial 2019 turun rata-rata 50% pada 2020 akibat dampak Covid-19.

Menurut Organisasi Maskapai Sipil Internasional (ICAO), nilai kerugian maskapai penerbangan di Asia Pasific mencapai US$120 miliar selama masa pandemi.

Sekretaris Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional (INACA), Bayu Sutanto tak bisa memprediksi pemulihan industri penerbangan.

“Kalau industri, ya kita nggak bisa ngapa-ngapain. Menunggu vaksinasi dan level kesehatannya saja,” kata dia.
Masa pemulihan industri penerbangan, kata Bayu sangat bergantung dari penanganan Covid-19. “Kalau kesehatannya nggak jelas, ya nggak bisa diprediksi dong,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat penerbangan, Ruth Hana Simatupang, menilai percepatan pemulihan industri penerbangan perlu dikuatkan mulai dari penerbangan domestik. Salah satunya adalah melalui promosi wisata dengan ketentuan protokol kesehatan yang ketat.

“Kita harus meyakinkan pengguna itu, bahwa prokes dari maskapai, prokes dari bandara prokes dari tempat tujuan, itu sudah bisa dipastikan dilaksanakan,” ujarnya.

Bagaimana pun, Jojo dan Martha berada di antara jutaan pekerja lainnya yang menjadi korban PHK karena pukulan pandemi Covid-19. Dari situasi ini, Jojo mendapat pelajaran penting.

“Jangan pernah menyerah. Itu harga mati. Walau pun aku nggak lanjut kerja di tempat yang aku cita-citakan, tapi aku selalu ambil hikmahnya. Kalau aku nggak kena kayak gitu, mungkin brownies aku sudah nggak jalan,” katanya.

Martha pun ikut menimpali. “Bersyukurnya karena pandemi, aku jadi dekat dengan keluarga. Aku ada di rumah. Adik-adikku juga ada di rumah, dan usaha juga bareng sama adikku. Jadi kita bareng-bareng,” kata Martha sambil mengutarakan harapan ketika ada kesempatan menjadi pramugari lagi, ia akan memilih pekerjaan itu. (detikcom)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *