oleh

Kasus Ujaran Kebencian, Polda Sumut Tangguhkan Penahanan Oknum Dosen USU

Medan – Polda Sumut menangguhkan penahanan tersangka kasus dugaan ujaran kebencian, Dosen Ilmu Perpustakaan di Universitas Sumatera Utara (USU), Himma Dewiana Lubis.

Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan mengatakan, penangguhan dilakukan karena berbagai pertimbangan.

“Benar, penahanannya ditangguhkan mulai Kamis 7 Juni kemarin,” kata MP Nainggolan, Jumat (8/6).

Dia menyebut, penangguhan penahanan dikabulkan setelah dilakukan gelar perkara .

“Hasil dari gelar perkara yang dilaksanakan bahwa penangguhan boleh diberikan. Alasannya dia sakit kan, saya gak tau sakit apa. Tetapi setelah kita rilis kemaren sampai hari ini masih dirawat di RS Bhayangkara Medan,” ujar Nainggolan.

Pertimbangan lain lanjut Nainggolan, Himma memiliki anak yang masih kecil. Selain itu karena Himma merupakan dosen USU, maka penyidik meyakini Himma tak akan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti.

“Kemudian dalam waktu dekat kan lebaran, anaknya ada. Dia tidak melarikan diri karena dia kan dosen. Jaminan pasti ada. Prosedur untuk itu pasti dipenuhi baru polisi berani memberikan penangguhan. Jaminan kayaknya tidak berbentuk uang,” tuturnya.

Masih Nainggolan, yang mengajukan penangguhan penahanan merupakan keluarga dari Himma. Dia membantah bila penangguhan penahanan itu dikabulkan lantaran ada permintaan dari Rektor USU, Runtung Sitepu.

“Dari pihak keluarga. Ini keluarganya menjamin. Tidak ada urusan rektor di situ. Ini yang menjamin keluarganya,” timpalnya.

Begitupun, kasusnya tetap akan diproses. Penyidik Polda Sumut tengah merampungkan pemberkasan untuk dilimpahkan ke Kejaksaan.

“Ada jangka waktunya. Kasusnya masih berjalan. Kami percepat ini berkasnya supaya langsung dikirim ke JPU. Jadi jangka waktunya berkas itu yang menentukan,” terangnya.

Diketahui, tersangka Himma Dewiana Lubis ditangkap dari kediamannya di Jalan Melinjo II Kompleks Johor Permai, Medan Johor pada 19 Mei 2018.

Kasus itu membelit tersangka setelah memosting tulisan di media sosial yang menyebutkan kalau tiga ledakan bom gereja di Kota Surabaya hanyalah pengalihan isu.

 

sumber: tribratanews.

Komentar