oleh

Ibu Rudi Mimpi Dapat Emas Banyak Sebelum Lion Air JT-610 Jatuh

Tapanuli Tengah – Rudi, dimana kau Nak! Hancurkah badanmu yang tinggi dan tampan itu, Nak! Begitu isak tangis ibunda Rudi Lumbantoruan, Polorina boru Hutauruk (62) yang terus menerus memanggil nama anaknya Rudi.

Tangisan ibu Rudi memecah keheningan dan kesedihan di tengah-tengah kehadiran sanak keluarga, handai tolan dan lainnya yang masih terus mendatangi kediaman orang tua Rudi Lumbantoruan, salah seorang korban pesawat Lion Air JT-610, yang jatuh diperairan Karawang, Propinsi Jawa Barat, Senin (29/10) lalu, di Gg gang Saroha, Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, kemarin.

Perempuan tua yang sudah mulai beranjak uzur itu tak kuasa untuk bisa menahan tangis kesedihan dan duka hatinya atas berita anaknya yang berada dalam kecelakaan pesawat berlogo singa itu. Tangis pilunya terus memecah mulai dari hadirnya peristiwa itu.

Perempuan tua yang dulunya berprofesi sebagai Bidan ini terus menangis sambil memegang, mendekap dan memandangi sebuah foto berbingkai. Foto itu selalu dipandanginya dengan mata yang tulus berbalut tangis.

Foto adalah foto anaknya Rudi. Foto dimana ketika memakai pakaian toga dan topi kala menamatkan perkuliahan strata satu (S1) dari Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sumatera Utara (USU) jurusan Ilmu Tanah, pada 2003 silam.

Polorina boru Hutauruk mengatakan, sebelum pesawat yang ditumpangi Rudi jatuh, Polorina yang sudah bergelar Oppung Queensa boru ini sudah mendapatkan wangsit melalui mimpi. Namun sayang, ia tidak dapat mengartikan apa maksud dari mimpinya itu.

Mimpi itu hadir pada Minggu (28/9) dini hari lalu. Polorina mendapatkan emas yang banyak, berupa anting – anting dan cincin. Emas berupa anting – anting dan cincin tersebut Ia pungut dari atas tanah, namun setelah itu sebahagian jatuh ke atas pasir dan tak dapat dipungut kembali.

“Mungkin, inilah arti dari mimpi saya itu. Anak saya Rudi yang telah menjadi emas bagi saya, adalah emas yang jatuh ke pasir dan tak dapat saya raih kembali,” ungkap Polorina menceritakan mimpinya tersebut ke tengah – tengah wartawan yang datang menemuinya, Rabu (31/10).

Dalam cerita itu, tangis dan air mata, Polorina terus pecah, memecah keheningan suasana. Sehingga cerita mengenai mimpinya tersebut terhenti.

Polorina yang telah melahirkan dan membesarkan empat orang anak ini terus meraung – raung dan menangis sambil bergumam dengan logat (bahasa) Batak. Raung dan gumannya bahkan membuat keluarga, sanak famili dan handai tolan yang berada di suasana itu turut terhanyut dan meneteskan air mata.

Boha do dihilala ho anakku Rudi, boi do annon hubereng bangke mi amang…Amang jo Tuhan, hancit nai sitaonon hon. Didia do nuaeng anakku si Rudi i, nungga manongnong be ra ho ate amang, jala nungga masarsar be ra dagingmi na timbo i ate Rudi. Nagantengan do anakkon, timbo jala burju. Molo humuriki pe on, sae tor mekkel do on, huhut di haol on au. Amang Rudi. Tudia nama au amang, paet nai na tataon on amang. (Apa yang engkau rasakan sekarang anakku, Rudi. Apakah aku masih dapat melihat utuh jasadmu nanti, anakku? Tuhan, kenapa begitu pedih yang kami alami ini. Rudi, dimana kau, Nak. Hancurkah badanmu yang tinggi dan tampan itu, Nak? Sudah rusakkah badan mu itu? Bila kumarahi anakku ini, dia selalu ketawa dan langsung memelukku. Anakku Rudi, kenapa begitu pahit penderitaan kita ini, Nak,” ungkap Polorina dalam gumam dan tangis pilunya yang mengundang tangis dari keluarga, sanak family dan handai tolan tersebut.

Sementara kabar berita tentang Rudi Lumbantoruan, yang menjadi korban pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh diperairan laut Karawang, Propinsi Jawa Barat (Jabar) pada Senin (29/10) lalu sekira pukul 06.30 WIB itu belum juga ada.

Untuk sempel darah kedua anak Rudi beserta potongan rambut dan kukunya sudah tiba di Jakarta untuk dilakukan tes DNA.

Rudi Lumbantoruan diketahui merupakan warga Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Propinsi Sumatera Utara (Sumut) terdaftar dalam manifest penumpang Lion Air JT 610, dengan nomor 090 atas nama Lumbantoruan/M/29F/.1/..13/035779/9902165808488/JT00399/KNO/…../…

Rudi diketahui seorang manager diperkebunan swasta milik PT Angle Eastern Plantation (AEP) di daerah Pangkal Pinang, Propinsi Bangka Belitung. Rudi terbang dari Pinangsori, Minggu (28/10) sekitar pukul 09.00WIB tujuan Jakarta transit Medan. Namun pesawat Lion Air tujuan Jakarta yang akan dinaiki Rudi, delay, dan baru berangkat sekitar sore harinya.

Seandainya tidak delay, mungkin saja tidak seperti itu kejadiannya. Pihak keluarga baru tahu kalau Rudi terpaksa menginap di Soekarno Hatta menunggu penerbangan berikutnya, yaitu penerbangan jam 06 pagi. (Red)

Komentar