oleh

Perlunya Perkuatan Hilirisasi Cabai Merah

Medan – Komoditas cabai merah selalu memberi andil terhadap inflasi di tanah air. Pada Oktober 2018, komoditas primadona masyarakat ini mencatat andil 0,91% terhadap inflasi di Sumut.

Menurut data Bank Indonesia Sumut, komoditas lain yang memengaruhi inflasi, yakni bawang merah, beras, cabai rawit, daging ayam dan angkutan udara.

Pjs Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sumut Hilman Tisnawan mengatakan ada beberapa yang sudah dirumuskan di Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), meliputi jangka pendek dan jangka panjang.

Jangka pendek semisal operasi pasar. Sedangkan jangka panjangnya yaitu upaya mempercepat pembentukan BUMD.

“Seperti di TPID Kota Medan, ada PD Pasar Jaya sehingga bisa mengawasi pergerakan harga,” ujar Hilman pada rapat bersama TPID, di ruang FL Tobing lantai 8, Kantor Gubernur Sumut di Medan, Selasa (6/11).

Menurut dia, khusus komoditas cabai merah, TPID juga perlu merumuskan upaya untuk memperkuat hilirisasi.

Kalau produksi cabai merah melimpah, problemnya adalah tidak ada yang menampung hasil panen, sehingga harga murah.

“Hilirasasinya seperti sambal olahan. Yang bisa mengatasi jika produksinya melimpah,” sebutnya.

Untuk mewujudkan ini, TPID harus membangun sistem bantuan kepada petani. Diketahui bahwa pemerintah sering memberi bantuan alat-alat sarana produksi dan benih. Tetapi keberlangsungannya tidak ada.

“Ke depan polanya harus diubah menjadi membina petani. Bagaimana petani melakukan kelembagaannya secara modern. Sehingga mereka benar-benar menjadi petani, bukan hanya bergantung kepada bantuan,” katanya.

Dia menambahkan, setelah dibina mereka diajari mencatat keuangan, kapan menanam, dan kapan panen. Akhirnya, menjamin produksi.

Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah mengatakan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam pengendalian inflasi.

“Perlu dukungan dan kerja sama dari unsur Forkopimda Sumut. Salah satunya adalah kepolisian dalam pengawasan harga di lapangan,” ujarnya ketika memimpin rapat.

Dia mengatakan perlu adanya pengawasan pergerakan harga, khususnya cabai merah yang mempunyai andil memengaruhi inflasi di Sumut, yakni sebesar 0,91%.

Harga cabai di provinsi lain relatif lebih tinggi dari Sumut. Sehingga banyak cabai asal Sumut yang dijual ke provinsi lain. Akibatnya, pasokan cabai di daerah ini menjadi langka dan harganya cenderung naik.

“Ini yang menjadi tugas kita. Bagaimana komoditi kita tidak keluar ke provinsi lain. Bagaimana kita sebagai pemerintah bisa membantu mengawasi harga,” kata Musa Rajekshah yang akrab disapa Ijeck.

Selain itu, kepada petani juga perlu diberikan pengetahuan dan pembinaan untuk meningkatkan produksi cabai.

“Tidak hanya sebatas berserah diri kepada alam. Harus diikuti juga dengan teknologi yang berkembang,” imbuhnya. (snt)

Komentar