Misteri Jembatan Kembar Parapat, Boru Sinaga asal Tomok Gelar Ritual, Memohon kepada” Namboru”

  • Whatsapp
Elisa Santika Sinaga saat melakukan ritual. (Foto: dok-palapaspos.co.id)

Parapat – Peristiwa longsor yang beberapa kali terjadi di Jembatan Kembar Parapat, Sumatera Utara, tepatnya di Sibaganding, Kecamatan Girsang SIpangan Bolon, Kabupaten Simalungun mengundang “misteri” baru.

Hal diketahui setelah Elisa Santika Sinaga (30) asal Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, hadir di tempat kejadian longsor, Jumat 25 Januari 2019.

Bacaan Lainnya

Dilansir palapapos.co.id, Elisa Santika tiba di lokasi sekitar pukul 13.30 WIB dan menggelar ritual di pinggir jalan lintas Sumatera itu.

Elisa membawa rempah persembahan untuk memohon kepada penguninya “Namboru Boru Sinenag Naga’.
Elisa yang masih berstatus single ini mengaku dirinya sering didatangi “Namboru Boru Sinaeng Naga” (Mahluk Gaib) dalam mimpinya.

“Namboru Boru Sinaeng Naga” kata Elisa berhati baik. Dalam mimpinya Elisa diminta untuk mendatangi lokasi longsor jembatan kembar Sidua-dua untuk melakukan ritual.

Di lokasi, Elisa membawa buah-buahan, yakni durian, pisang, puluhan pangir (jeruk purut.red) pilihan serta aek sitio-tio (air bersih).

Saat ritual berlangsung, sesekali mulutnya terlihat komat-kamit, dan kadang juga melirik yang menyaksikan di lokasi.

Elisa berkata, jangan takut, sebab kita hanya memohon sama Namboru itu. “Saya adalah Elia Santika Nagalaut,” ujarnya sambil mengunyah sirih yang juga menggumpal di mulutnya.

Selanjutnya, Elisa mengajak Oppung Daud Sinaga yang kebetulan sebagai pemilik warung dekat TKP yang kerap dijuluki teman-teman dari grup Imitigasi Bencana (sebuah grup spontanitas bergabung dengan berbagai profesionalitas di Jembatan Kembar tersebut) sebagai posko.

“Ito pun ikut ajalah, nggak apa-apa, supaya bisa juga memegang daun sirih ini, karena saya sudah sediakan tiga bagian (3 Gepok). Mari kita sama-sama memohon supaya lumpur-lumpur yang turun ini tidak mengambil korban, dan saya pun datang ke sini dari Samosir sana, juga karena di suruh Namboru Sineang Naga, maka jika saya disuruhnya. Maka sayapun bisalah bermohon, dan ayok lah,” katanya sembari menunjuk Oppung Daud dan awak media palapapos.co.id saat itu.

Ajakan itu pun kemduian dituruti, pun bulu kudu halus dan kasar serasa berdiri dibagian tengkuk, leher dan sepanjang tangan.

Para saksi yang hadir pun mendengar Elisa bermohon dengan suara berat dan kecil sambil berkata “Namboru/oppung unang sai muruk ho, marpanganju ma ho, sai manghorasi ma ho, unang paila au, alana hodo namarsuru au, nga huboan be napinangidomi, sosadia nian on, alai onmajo natarpatupa, sai makkorasi ma hamu da?”

Pada permohonannya, Elisa berharap agar penghuni ‘Namboru Sinenag Naga’ yang juga bisa menguasai laut, danau, udara dan langit untuk tidak marah kembali.

“Jangan mempermalukan Elisa Santika Naga Laut, karena atas petunjuknyalah bentuk media sajen dari buah-buahan dan sirih serta lainnya itu disediakan disana, walau yang saya bawa tidak seberapa tetapi inilah dulu dan biarkanlah supaya kita semua sama-sama selamat (Horas), “ begitu kira-kira permohonan Elisa dalam ritualnya.

Sebelum meletakkan sajen, Elia menghentikan sejenak pengerukan dengan alat berat. “Kita biarkanlah dulu sajen kita ini diterima namboru itu, nanti kalian lanjutkan,” pintanya.

Dia pun menceritakan mimpinya, sebelum hadir ke lokasi. “Saya telah bermimpi, gunung ini longsor besar dan semakin besar, saya pun disuruhnya ke sini, dan tadi pagi (kemarin,red), saya datang sekaligus berbelanja di Pekan Tigaraja (Dulu Pekan Tiga Raja itu adalah pekannya Raja-raja, dan ada Tiga raja besar disana termasuk Raja Sisinga Mangaraja),” ungkapnya.

Dia pun berharap kepada pengendara agar tidak membuang puntung rokok sembarangan di sana. “Jaga kebersiahan karena mereka sekali jalan ada tujuh orang dan mereka kerap beriringan dengan Namboru Sinenag Naga,” katanya.

Sementara itu, dari hasil survei warga sekitar T Sinaga (35), menyebut, di atas bukit tanah mengalami keretakan yang semakin melebar dan ada batu berukuran sekira 2 ton sempat berguling dan terganjal di pinggang dua bukit pada aliran lumpur sekitar 250 meter dari Jembatan Siserasera.

Untuk itu, sambungnya, tetaplah waspada dan apa yang dibuat Namboru ini, biarlah sebagai media sesuai dengan terawangannya tanpa mempersoalkan ‘ini dan itu’, sebab bangsa Batak inipun dulunya mengenal tradisi.

“Anggaplah sebagai melestarikan budaya dari nenek moyang kita, yang tetap mampu menggugah kita supaya tidak sombong kepada alam, dan jangan lagi berbuat murka terlebih kepada penghuninya,” pungkasnya. (snt)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *