Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan, Benarkah?

  • Whatsapp
Ilustrasi Orang Kaya (Foto: Net)

SNT – Apakah uang bisa membeli kebahagiaan? Ungkapan ini mungkin akan dicemooh oleh mereka yang tidak memiliki banyak uang. Akan tetapi dalam sebuah studi oleh London School of Economics menunjukkan ungkapan itu ada juga benarnya.

Menurut laporan Origins of Happiness, menghilangkan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan akan meningkatkan kebahagiaan sebesar 20%. Sedangkan menghilangkan kemiskinan hanya akan meningkatkan kebahagiaan sebesar 5%.

Dengan kata lain, mengatasi masalah kesehatan mental 4 kali lebih efektif untuk meningkatkan kebahagiaan daripada mengurangi kemiskinan.

Baca Juga: Donna Harun Seksi Pakai Dress Mini, Netizen Bilang Kok Gak Tua-Tua

Kabar terbaiknya, kata para peneliti tersebut adalah untuk mengurangi penyakit mental tidak harus mengeluarkan biaya sepeser pun.

Dalam penelitian tersebut dipimpin oleh ekonom papan atas Lord Richard Layard, tim ahli di London School of Economics ‘Center for Economic Performance yang menyelidiki cara terbaik untuk mencapai kebahagiaan, mengurangi kesengsaraan, dan meningkatkan kesejahteraan.

Baca Juga: Pemuda Ini Susul Temannya di Kantor Polisi Sibolga, Ini Kasusnya

Hasil dari laporan mereka menyebutkan beberapa temuan menarik tentang prinsip-prinsip utama kepuasan hidup masyarakat, antara lain; ketimpangan pendapatan menjelaskan hanya 1% dari variasi kebahagiaan di masyarakat, sementara perbedaan kesehatan mental menjelaskan lebih dari 4%

Pendidikan memiliki pengaruh yang sangat kecil terhadap kepuasan hidup, dibandingkan dengan, misalnya, memiliki pasangan. Memiliki pasangan juga baik untuk Anda karena menjadi pengangguran juga buruk bagi Anda

Ketika orang mengevaluasi pendapatan atau pendidikan mereka, mereka biasanya mengukurnya dengan norma yang berlaku secara lokal.

Baca Juga: Ngikut Tren Tak Pakai BH, Aksi 6 Gadis Ini Bikin Geleng-geleng

Hal ini yang kemungkinan menjelaskan mengapa peningkatan pendapatan dan pendidikan secara keseluruhan memiliki pengaruh yang kecil terhadap kebahagiaan penduduk secara keseluruhan seperti di Australia, Inggris, Jerman dan Amerika Serikat (AS). Di barat meski telah terjadi peningkatan besar dalam standar hidup namun gagal meningkatkan kebahagiaan.

Dalam bukunya yang berjudul Thrive: The Power of Psychological Therapy (2015), yang ditulis bersama dengan David M Clark, Layard berbicara tentang bagaimana mengatasi masalah kesehatan mental di masyarakat yang sebenarnya dapat menghemat uang pemerintah karena manfaat ekonominya lebih besar daripada biaya perawatan.

Sakit mental sama nyatanya dengan rasa sakit fisik. Ini dialami di area otak yang sama dengan nyeri fisik dan seringkali lebih melumpuhkan.

Baca Juga: Mantan Wakil Ketua DPRD Sibolga Edukasi Pelaku UKM

Akan tetapi kedua jenis nyeri ini tidak diperlakukan sama. Meskipun hampir semua orang yang sakit fisik mendapatkan perawatan, dua dari tiga orang yang sakit mental tidak mendapatkannya. Jika tulang Anda patah,

Anda dirawat secara otomatis, namun kalau mental Anda patah, Anda tidak langsung mendapat pengobatan.

Baca Juga: Tante Ernie Pose Seksi di Sofa, Netizen: Wanita Sangat Sempurna

Mengobati masalah kesehatan mental menghasilkan penghematan yang luar biasa lebih sedikit orang yang mendapatkan tunjangan kesejahteraan dan lebih sedikit orang yang dirawat karena penyakit fisik yang diperburuk oleh penyakit mental. So, dengan perkiraan yang masuk akal, perawatan itu secara otomatis akan membayar sendiri. (NN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *