Smart News Tapanuli – Seorang perempuan Korea Selatan dipenjara setelah diam-diam memotret pria yang berprofesi sebagai model telanjang. Setelah memoto, ia kemudian mengunggah foto tersebut ke media sosial.
Perempuan itu berusia 25 tahun. Ia merupakan model telanjang dijatuhi hukuman 10 bulan penjara.
Perempuan itu mengambil foto pria rersebut di sebuah sekolah tinggi seni di Seoul.
Vonis 10 tahun itu terbilang langka kemudian menuai berbagai tudingan tentang standar ganda soal, yang biasanya dilakukan para laki-laki untuk memfilmkan perempuan secara diam-diam.
Lebih dari 6.000 kasus dilaporkan setiap tahun, dan 80% korbannya adalah perempuan.
Kamera-kamera tersembunyi merekam orang-orang yang berada di toilet, atau membuka baju di toko-toko pakaian, pusat kebugaran dan kolam renang.
Lalu rekaman video-video tersebut diunggah secara daring di situs-situs pornografi.
Menurut statistik pemerintah, jumlah pelaku yang dipenjara karena merekam aktivitas orang-orang dengan cara di atas hanya 8,7%.
Dari 6.465 kasus yang dilaporkan pada tahun 2017 lalu, hanya 119 pelaku yang dijebloskan ke penjara.
Kenyataan ini membuat para pegiat menuduh pihak berwenang seksis menyusul putusan pada Senin, 13 Agustus 2018.
“Tanggapan pihak kepolisian terhadap peristiwa ini sangat berbeda, korbannya adalah seorang laki-laki, ini adalah kasus langka dan belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Seo Seung-hui, ketua sebuah kelompok sipil Kekerasan Seksual Siber Korea, kepada kantor berita
“Kami jarang melihat mereka bertindak begitu cepat untuk kasus-kasus yang tak terhitung jumlahnya, di mana korban adalah perempuan,” katanya.
Namun dalam putusannya, pengadilan mengatakan bahwa perempuan yang tidak disebutkan namanya itu “harus dihukum karena ia telah merusak martabat pribadi korban”.
“Korban mengalami gangguan stres pasca-trauma serius dengan depresi, dan ia tidak mungkin melanjutkan karirnya sebagai model telanjang,” katanya, menurut harian.
Para pengunjuk rasa mengatakan langkah yang dilakukan pihak berwenang tidak cukup untuk menghentikan praktik yang sudah lama terjadi. – AFP/Getty
Perempuan itu ditangkap pada bulan Mei setelah insiden itu terjadi di Universitas Hongik.
Kasus ini santer diberitakan, dan menuai protes luas dari kalangan yang menyebut polisi dan pengadilan memperlakukan korban laki-laki lebih baik ketimbang perempuan.
Penyelenggara aksi protes mengatakan, para perempuan hidup dalam ketakutan terus-menerus karena difoto atau difilmkan tanpa sepengetahuan mereka.
Sejak tahun 2004, negara tersebut telah menetapkan bahwa, semua ponsel pintar harus mengeluarkan suara keras ketika tengah mengambil foto atau video, agar semua orang tahu bahwa mereka sedang diambil gambarnya.
Tetapi aplikasinya bisa digunakan untuk meredam suara, dan para pelaku juga menggunakan kamera mini yang tersembunyi di dinding, tas, sepatu atau toilet untuk memotret orang tanpa sepengetahuan mereka. (VIVA)