Saking Takut COVID-19, Pria Ini Pagari Rumah dengan Seng

  • Whatsapp
FOTO: Rumah milik Sabar Suharno (46) warga RT 2 RW 10, Desa Ajibarang Wetan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ditutup dengan seng. (Foto: kompas.com/Fadlan Mukhtar Zain)

SNT – Hingga saat ini penyebaran virus Corona atau COVID-19, belum terkendali. Karenanya sebagian masyarakat ada yang ketakutan. Setiap orang melakukan berbagai cara untuk melindungi diri maupun keluarga dengan menerapkan protokol kesehatan dari paparan virus Corona tersebut.

Namun, bagi laki-laki bernama Sabar Suharno (46), warga RT 002 RW 010, Desa Ajibarang Wetan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) ini, bahwa dengan pencegahan tersebut dianggap tidak cukup.

Bacaan Lainnya

Sabar bersama istri dan ketiga anaknya memilih membatasi interaksi dengan orang luar, selama hampir dua pekan terakhir. Dia pun menutup rapat rumahnya dengan menggunakan pagar keliling yang dibuatnya dari seng.

Karena dipagari seng, bagian depan rumah Sabar yang berada di kawasan permukiman padat penduduk itu tidak terlihat sama sekali.

Untuk akses masuk ke dalam rumah, ia Sabar menyediakan pintu kecil pada bagian pojok. “Saya sering melihat berita-berita tentang Covid 19, jadi ketakutan saya lebih dari warga yang lain,” kata Sabar kepada wartawan, dilansir Kompas.com, Sabtu (9/1/2021).

Apalagi beberapa pekan lalu tetangganya ada yang terpapar COVID-19, ketakutan Sabar semakin menjadi. “Covid 19 ini sudah di depan mata. Begini saja (menutup rumah dengan seng) saya tidak yakin bisa terlindungi, tapi ini sudah upaya paling maksimal,” katanya.

Selain memagar seng, Sabar juga harus merogoh kocek untuk memasang CCTV di sekeliling rumah, supaya dapat melihat orang yang akan berkunjung ke rumahnya.

“Kemarin ada teman saya yang dari luar kota mau mampir ke sini, tapi tidak saya perbolehkan, sudah dekat sini padahal,” ujarnya.

Dia pun sudah mengurangi interaksi dengan tetangga. Jika dianggap tidak begitu penting hanya dilakukan dari balik pagar seng.

Di balik pagar seng sisi dalam rumah telah disediakan kursi kecil sebagai pijakan ketika berinterkasi dengan tetangganya.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengandalkan pedagang keliling. “Di sini banyak pedagang keliling, ada sayur dan lainnya. Kadang anak-anak juga order lewat ojek online,” katanya.

Dia tidak terlalu mempersoalkan respons warga atas sikapnya ini, dan telah meminta izin ketua RT setempat untuk menutup rumah.

“Orang selalu ada yang pro dan kontra, saya enggak masalah, saya juga tidak mengganggu lingkungan. Saya hanya berusaha menjaga diri,” Sabar menambahkan. (kc)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *