Perusda Industri dan Pertambangan Taput Mati Suri

images
Bupati Taput Nikson Nababan saat meresmikan stone crusher Perusda Industri dan Pertambangan. (Foto: dok_istimewa)

SNT, Taput – Sejak tahun 2019 perusahaan yang bergerak pada usaha penggilingan batu (stone croaser) tidak lagi memiliki dana operasional.

Tidak adanya tambahan kucuran penyertaan modal semakin membuat perusahaan daerah milik Pemkab Tapanuli Utara yang berada di Desa Parsaoran Nainggolan Kecamatan Pahae Jae ini dipastikan bakal mati suri.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini terungkap dalam diskusi ringan awak media bersama tiga direktur perusda Sahat Sitompul, Sardion Situmeang dan Jahormat Lumbangaol, Senin (24/1) di Kantor Perusda yang berada di kompleks RSU Tarutung.

Berbagai upaya sudah dilakukan untuk bisa mengembangkan usaha yang didirikan oleh Bupati Tapanuli Utara pada 26 April 2016 yang silam. Termasuk meyakinkan pihak legistatif dengan melakukan presentasi pada komisi B agar mau menyetujui adanya penyertaan modal lanjutan terang Sahat Sitompul yang dilantik sebagai Dirut pada Desember 2019.

Diakui Sahat, sejak dibuka ada diberikan dana penyertaan modal sebesar 5 miliar oleh pemkab. Dana ini diperuntukkan untuk membuka areal lokasi usaha, pembelian perangkat alat penggilingan batu, pendirian mess dan kantor di lokasi usaha, pembelian dua unit dump truk jenis canter dan termasuk pengurusan ijin usaha galian c.

“Untuk itu semua. Saat ini sebenarnya, perusda sangat membutuhkan alat berat seperti excapator yang berfungsi ganda seperti untuk mengangkut batu ke mesin penggilingan dan memuat batu ke truk bagi pemesan. Tidak mungkin lagi hal itu dilakukan secara manual. Kalau untuk merental alat tersebut biayanya sangat mahal,” terang Sahat.

Diungkapkannya, ada sedikit harapan untuk kembali menggerakkan roda usaha yang awalnya diproteksi sebagai satu sektor usaha terbaru yang bisa menambah pendapatan asli daerah yakni PEN.

Proyek Pemulihan Ekonomi Nasional yang bergulir pada November 2020 dengan besaran anggaran hampir 326 miliar menjadi salah satu andalan.

Dari 1300 paket yang dilelang, diperhitungkan ada kebutuhan sekitar hampir 200 ribu kubik batu terutama paket proyek jalan lingkungan berupa rabat beton.

“Perusda memiliki stok 150 kubik batu crusher. Ironisnya tidak satupun rekanan pelaksana proyek PEN memesan batu dari perusda, termasuk rekanan yang mengerjakan proyek di sekitaran luat Pahae,” keluh Sahat sembari menegaskan harga batu mereka lebih murah, lebih berkualitas dari yang lain. (TS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *